Transaksi Nyata, Transaksi Maya, Transaksi Apa Saja

Duduk di teras menikmati sinar matahari yang beberapa hari sembunyi. Datang pedagang sayuran. Lalu ibu-ibu berdatangan. Transaksi pagi pun terjadi. Sesederhana itu? Tidak!

Ada transformasi perekonomian yang sedang berlangsung. Puluhan tahun lalu, tempat bakul atau pedagang berada di pasar. Pada pasaran Jawa, ada Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing. Mereka, para bakul itu, akan bergerak ke pasar sesuai hari pasaran.

Datang pagi, menggelar dasaran, aneka komoditas yang dijual, lalu duduk ngobrol ke sana-ke mari dengan sesama bakul, menanti calon pembeli. Hanya mendring, dan biasanya dari Jawa Barat, yang jajakan dagangan keliling, boleh diutang.

Bakul mempunyai mata rantai. Jaringan kerjanya tidak saja para petani, perajin, atau pemasok dan distributor pabrikan, tetapi juga seperti lelaki ini. Pagi jelang Subuh dia ke pasar, beli apa saja yang jadi kebutuhan warga.

Setelah keranjang penuh, pating crenthel, dia ngebut menembus pagi agar pada kesempatan pertama bisa segera bertemu warga di titik-titik kumpul. Transaksi pun terjadi.

Ada juga yang mempunyai kecerdasan verbal untuk jadi perantara transaksi. Bakul abab, istilahnya. Dia ini makelar, tukang entul, yang sengaja up-kan harga, tentu setelah negosiasi dengan penjual, agar dia dapat keuntungan.

Khusus komoditas hewan, biasanya sapi, dulu dikenal blantik. Pakaian serba hitam, pakai topi laken, naik sepeda Gazelle, di pinggang ada sabuk besar tempat uang atau cerutu.

Di bagian lain kehidupan, ada juga anak muda atau ibu-ibu yang hanya duduk-duduk sambil pegang android. Aktivitasnya hanya share beberapa produk yang ditawarkan secara online.

Jika ada yang berminat, lalu terjadi transaksi, dia dapat fee. Apa saja jadi komoditas, apa saja bisa dijual dan siapa saja bisa membeli asal sesuai harga dan kebutuhan.

Untuk sampai pada transaksi, deal, harus terjadi tawar-menawar. Jawa menyebutnya, nyang-nyangan. Harga dipatok penjual, ditawar oleh calon pembeli dari posisi terendah.

Merangkak naik, setahap demi setahap, sampai batas tertentu. Penawaran terjadi biasanya sambil mengulik kekurangan kualitas barang, hingga terjadi adu argumentasi. Itulah kenapa di pasar tradisional sering hiruk pikuk.

Begitulah, hidup bergerak mengikuti irama zaman. Ada transformasi ekonomi, budaya, gaya hidup, sosial, etc yang melebar, meluas dan kian rumit yang melibatkan negara. Aneh bin ajaib bahwa elite kita mempunyai kebiasaan jualan untuk aset bangsa yang mestinya dimanfaatkan untuk sebesar-besar kepentingan rakyat.

Apa jadinya? Mereka untung, rakyat buntung. Itulah sebabnya Rocky Gerung, dalam sebuah kesempatan, menyebut kualitas elite kita bukan leader tetapi dealer. Mereka adalah komprador, agen lokal yang bekerja untuk kepentingan asing. Dalam beberapa hal, mereka pengkhianat negara.

Bung Karno pernah memberi Trisakti. Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan. Rasanya, dengan melihat kualitas elite lengkap kebijakannya, kian jauh dari amanat pendiri bangsa ini. Masa negara berdagang, lalu di mana lagi kita menaruh kepercayaan?

Tak ada yang salah dengan hubungan bilateral atau multilateral melalui diplomasi ekonomi. Pedomannya jelas, jangan subordinasi kepentingan bangsa di bawah kepentingan asing apalagi urusan dagang. Malulah! Negeri ini kaya raya, subur makmur, masa hanya dikapling-kapling dan dimiliki segelintir orang? ***

Penulis: Wahjudi Djaja, Budayawan Sleman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *