Mabur.co– Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Labuhan Ageng di Parangkusumo, Senin (19/1/2026) pagi. Labuhan Ageng ini merupakan rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem Dal 1959 untuk memperingati ulang tahun kenaikan tahta Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.
Pada 2026 ini, Tingalan Jumenengan Dalem bertepatan dengan Minggu Kliwon, 18 Januari 2026, atau 29 Rejeb Dal 1959 dalam kalender Jawa Sultanagungan, menandai 38 tahun Sri Sultan bertahta.
Meski secara kalender Masehi Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 genap bertahta selama 37 tahun pada 7 Maret 2026, Keraton Yogyakarta tetap menyelenggarakan peringatan utama berdasarkan penanggalan Jawa. Rangkaian upacara dilaksanakan sejak 27 Rejeb sebagai bentuk laku spiritual, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus doa keselamatan bagi sultan, keraton, dan masyarakat luas.
Parangkusumo menjadi tempat Labuhan, karena dahulu merupakan tempat yang dipilih Panembahan Senopati untuk bertapa, merenung, dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bisa menjadi pemimpin yang baik saat mulai mendirikan Kerajaan Mataram. Parangkusumo terletak di pesisir selatan Yogyakarta atau lebih tepatnya berada di wilayah Kabupaten Bantul.
Menurut legenda, ketika bertapa Panembahan Senopati bertemu dengan penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu Panembahan Senopati dan keturunannya.
Pada akhirnya Panembahan Senopati berhasil mendirikan sebuah kerajaan, yaitu Mataram dan Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan penerusnya. Hal inilah yang mendasari dipilihnya Parangkusumo sebagai salah satu lokasi labuhan.
Panewu Kretek, Cahya Widada, mengatakan, sebelum dilabuhkan di Pantai Parangkusumo, ubo rampe Labuhan diserah-terimakan dari keraton kepada pemerintah Kabupaten Bantul lewat Bupati. Untuk mendata apa yang akan dilabuhkan. Usai diserah-terimakan kepada Pemerintah Kabupaten Bantul langsung dibawa ke Cepuri Parangkusumo.
“Saya berharap, kami sebagai warga Kretek, tradisi dari keraton bisa menjaga kemakmuran, keselamatan, dan kesejahteraan,” katanya, saat ditemui mabur.co di kantor Kapanewon Kretek, Senin (19/1/2026).
Perwakilan Juru Kunci Cepuri Parangkusumo, Mas Bekel Surakso Tri Rejo, mengatakan, Tingalan Jumenengan Dalem tahun ini digelar secara khusus. Karena bertepatan dengan tahun Jawa Dal yang dalam siklus windu memiliki makna istimewa.
“Dalam satu windu terdapat dua Tingalan Jumenengan Dalem yang dianggap besar, yakni pada Tahun Wawu dan Tahun Dal. Tahun Wawu adalah tahun penobatan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, sedangkan Tahun Dal dimaknai sebagai tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Mas Bekel Surakso Tri Rejo mengatakan, dirinya selaku Abdi Dalem Juru Kunci Pantai Parangkusumo sangat menyambut baik karena pada tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Yakni Tahun Dal dan ubo rampe atau sesaji yang spesial dari keraton berupa songsong gilap (payung).
“Minggu malam sebelum Labuhan, kita sudah menyelenggarakan malam tirakatan Memayu Hayuning Bawono di Kagungan Dalem, Cepuri, Parangkusumo. Di sana ada beberapa kegiatan, yakni melakukan doa bersama, tahlil, salawatan, macapat, yang bertujuan untuk mendukung hajat dalam Labuhan di tahun ini,” katanya.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, memandang upacara tersebut sebagai budaya yang merupakan bagian dari sangkan paran yang berkaitan dengan asal dan tujuan manusia.
Budaya Jawa, imbuhnya, menginginkan adanya keselarasan, harmoni, serta keselamatan. Untuk itu, Halim berpesan, agar generasi muda memahami dan melestarikan budaya.
“Saya berpesan kepada generasi muda agar kebudayaan adiluhung ini dipahami. Kemudian dilestarikan agar kita tidak kehilangan obor. Yaitu pengetahuan tentang sangkan paran kita ini dari mana dan akan ke mana. Kalau kita tidak kenal budaya sendiri, kita akan kehilangan identitas diri dan karakter sejati,” katanya.
Di lapangan, antusiasme masyarakat tampak begitu besar. Ratusan pengunjung dari berbagai daerah memadati kawasan Parangkusumo untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut. Terik matahari yang menyengat tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengikuti jalannya upacara hingga selesai, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Tidak hanya warga lokal, beberapa warga mancanegara terlihat ambil bagian dalam upacara Labuhan ini, termasuk Attila Bartis. Warga Hongaria ini mengaku bahwa ia tidak memiliki banyak pengetahuan terkait budaya Jawa. Meski demikian, ia yakin bahwa upacara Labuhan ini memiliki arti yang sangat penting.
“Mencoba untuk melestarikan tradisi ini. Terlihat hampir tidak mungkin melihat perubahan dunia yang begitu cepat. Karena itu, menurut saya, sangat luar biasa bisa melihat berbagai upacara tradisional sejenis ini. Baik di Eropa maupun di tempat-tempat lain, masih dilaksanakan,” ungkapnya. ***



