Dampak Kekeringan, Warga Gunungkidul Jual Ternak dan Merantau Saat Musim Kemarau

3 Min Read
Close-up of dry cracked earth with jagged clay pieces and a tiny green sprout in the cracks.
Ilustrasi kekeringan (foto : freepik)

Mabur.co – Kemarau panjang yang selalu terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul setiap tahunnya memaksa sebagian warga melakukan berbagai cara agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi. 

Bahkan tak sedikit warga yang rela menjual ternak peliharaan mereka untuk membeli air tangki karena sumber air di lingkungan mereka mulai mengering.

Kondisi tersebut salah satunya dialami warga Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop. Dikutip dari Kumparan.com, Rabu (5/8/2026), mayoritas warga di dusun ini diketahui harus membeli air setiap musim kemarau tiba.

Hal itu terjadi akibat tidak tersedianya sumber air bersih baik itu dari PAM, sumur bor, atau pun tampungan air hujan.

Akibatnya mereka diketahui harus mengeluarkan sekitar Rp120 ribu untuk membeli satu tangki air bersih.

Penghasilan Terbatas

Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, biaya tersebut menjadi beban tambahan di tengah hasil pertanian yang tak bisa diandalkan akibat kondisi musim kemarau.

Akibatnya, sebagian warga pun memilih menjual ternak ayam kampung sebagai sumber dana tercepat untuk membeli air.

Salah seorang warga, Sutopo (46), mengatakan ayam menjadi ternak yang paling sering dijual.

Sementara kambing dan sapi tetap dipertahankan karena dianggap sebagai tabungan jangka panjang keluarga.

“Kalau sapi atau kambing kami sayang karena itu tabungan. Biasanya yang dijual ayam untuk membeli air,” ujarnya.

Sutopo mengaku telah menjual dua ekor ayam kampung miliknya selama musim kemarau tahun ini. Setiap ekor hanya dihargai sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.

Hasil penjualan tersebut digunakan untuk membeli air bersih, sedangkan kekurangannya ditutupi dari gajinya sebagai petugas kebersihan.

Selama ini warga Kemesu hanya mengandalkan penampungan air hujan.

Pasokan PDAM yang tersedia di beberapa titik hanya mengalir sekitar satu kali dalam sepekan sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga. 

Air yang dibeli pun digunakan sehemat mungkin untuk memasak, mandi, mencuci, hingga memberi minum ternak yang masih dipelihara.

Menurut Sutopo, krisis air telah menjadi persoalan tahunan yang dialami warganya sejak sekitar 2012.

Dusun tersebut tidak memiliki sungai maupun sumber air tanah yang memadai sehingga setiap musim kemarau masyarakat selalu bergantung pada bantuan dan pembelian air bersih.

Kondisi tersebut tak jarang membuat sebagian warga khususnya kaum muda memilih pergi merantau ke daerah lain demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Baik itu dengan menjadi pedagang angkringan, karyawan ataupun pekerja bangunan.

Meski ada sebagian warga yang hanya merantau saat musim kemarau saja, tak sedikit pula yang melakukannya untuk jangka waktu yang lama.

Sementara itu, dikutip dari Metro TV News, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan pemerintah terus mendistribusikan bantuan air ke wilayah terdampak kekeringan.

Hingga awal Agustus 2026, BPBD telah menyalurkan 184 tangki air bersih atau sekitar 920 ribu liter.

Wilayah Rongkop menjadi daerah yang menerima bantuan terbanyak, yakni 80 tangki, disusul Kapanewon Tepus sebanyak 64 tangki, sementara Panggang, Wonosari, dan Saptosari juga memperoleh distribusi air sesuai kebutuhan.

Purwono mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat karena berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar