Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya “Kenyang Otak” daripada “Kenyang Perut”

3 Min Read
Smiling older man with white hair, wearing a Bisindo T-shirt, standing in a garden at dusk.
Mantan Capres nomor urut 3 di Pilpres 2024, Ganjar Pranowo. (Foto: kanal YouTube Ganjar Pranowo)

Mabur.co – Mantan capres nomor urut 3 di kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2024 lalu, Ganjar Pranowo, kembali muncul ke permukaan untuk melakukan sindiran halus terhadap gaya pidato Presiden Prabowo Subianto, yang kembali memicu kontroversi di ruang publik.

Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto sempat menyindir masyarakat yang mengkritiknya, lantaran dianggap menghambur-hamburkan anggaran untuk program MBG (Makan Bergizi Gratis). Padahal, masih banyak urusan lain yang dianggap lebih urgen untuk saat ini, salah satunya urusan pendidikan.

Prabowo pun menyebut bahwa urusan perut (melalui makan yang diberikan oleh negara lewat program MBG) adalah sesuatu yang paling penting alias urgen untuk saat ini. Karena jika tidak makan, maka orang itu pasti akan mati, dan seterusnya.

Bagi Ganjar Pranowo, apa yang disampaikan pesaingnya di Pilpres 2024 itu memang tidak sepenuhnya salah. Namun hal itu tetap perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, dalam konteks yang ia sebut sebagai “kenyang perut” (makan) dan juga “kenyang otak” (menempuh pendidikan).

Pendidikan Tak Boleh Dikorbankan

“Sebenarnya keduanya benar (kenyang perut dan otak sama-sama penting). Rakyat memang membutuhkan makan sekaligus pendidikan. Namun jika negara harus menentukan prioritas pembangunan jangka panjang, maka pendidikan tidak boleh dikorbankan,” ucap Ganjar Pranowo, seperti dikutip dari kanal YouTube pribadinya, Rabu (5/8/2026).

Mantan Gubernur Jawa Tengah ini mencontohkan ketika ada dua pilihan bantuan yang diberikan kepada masyarakat. Bantuan pertama berupa pemberian sembako gratis, yang terdiri dari beras, minyak goreng, mie instan, telur, gula, dan seterusnya.

Sementara bantuan kedua adalah beasiswa pelatihan IT selama 3 bulan, dengan jaminan langsung diterima setelah lulus dari pelatihan tersebut.

“Jika dihadapkan pada pilihan tersebut, hampir semua orang akan memilih menerima paket bantuan sembako. Dan hanya satu orang saja (pemuda) yang memilih opsi kedua yaitu beasiswa pelatihan IT. Enam bulan kemudian, sembako sudah habis, sementara pemuda itu telah berhasil diterima bekerja sebagai programmer di salah satu perusahaan.

Gaji pertamanya langsung digunakan untuk membeli kebutuhan pokok (sembako dan lain-lain) untuk orang tuanya, gaji berikutnya dipakai untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Sisa gajinya pun tidak langsung dihabiskan, tapi disisakan dan ditabung, untuk keperluan lainnya,” tambah Ganjar.

Ganjar mengatakan bahwa sembako (yang dipilih oleh orang-orang tua dalam ilustrasi cerita sebelumnya) memang membantu untuk mengatasi lapar hari ini, namun pendidikan juga berguna mengatasi kelaparan untuk jangka panjang.

Menurut Ganjar, pendidikan tidak hanya membuat seseorang yang tadinya bodoh menjadi pintar, tapi juga mampu memecahkan masalah tertentu, menciptakan pekerjaan baru, berinovasi, dan memutus rantai kemiskinan.

Dengan kata lain, memiliki “otak yang kenyang” tidak hanya sanggup membuat “kenyang perut” bagi dirinya sendiri, tapi juga membuat “kenyang perut” bagi keluarganya, tetangga, termasuk lingkungan di sekitarnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar