Ruwahan, Menjaga Nilai Tradisi dan Refleksi Menjadi Individu yang Lebih Berarti

Mabur.co – Sebelum memasuki bulan Ramadan, yakni bulan suci di mana umat Islam diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh, ada satu bulan lain yang juga cukup sakral, termasuk dalam tradisi masyarakat Jawa, yakni tradisi ruwah.

Ruwah adalah salah satu ritual masyarakat Jawa dan beberapa daerah lainnya di Indonesia yang dilakukan pada bulan Syaban (bulan ruwah dalam kalender Jawa) yakni kegiatan mendoakan leluhur, bersedekah, dan saling memaafkan, sebagai persiapan spiritual sebelum menyambut bulan Ramadan.

Tradisi ruwah memang identik dengan doa kubur, ziarah ke makam leluhur, tahlil, dan ditutup dengan makan bersama berupa apem, ketan, dan juga kolak. Ritual ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah berpulang sekaligus pengingat akan kematian, dan dikemas dengan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, serta wujud pembersihan diri sebelum memasuki bulan Ramadan.

Ritual ruwah bukan sekadar tradisi rutin, tapi juga momen refleksi bagi diri kita masing-masing untuk bisa menjadi individu yang lebih baik lagi, sebelum kelak menghadap Yang Maha Kuasa.

Dilansir dari Jurnal STAI Bumi Silampan, setidaknya ada beberapa poin mengapa tradisi ruwah mampu menjadi momen refleksi penting bagi seluruh umat Islam, termasuk di Indonesia.

Mengingat Kematian dan Keterbatasan Manusia

Ruwah berasal dari kata “arwah”, satu kata yang melambangkan bahwa arwah kita semua pasti akan kembali kepada-Nya, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, sedangkan kematian adalah suatu keniscayaan.

Tradisi ziarah kubur dalam rangkaian ruwahan membantu manusia merenungi tujuan hidup dan hakikat kematian, sehingga hal itu akan memacu mereka untuk senantiasa muhasabah diri.

Sarana Pembersihan Diri

Secara filosofis, ruwah juga berguna sebagai sarana pembersihan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan dari dosa serta kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu. Momen ini sangat tepat untuk memohon ampunan kepada Tuhan serta arwah leluhur.

Momen Muhasabah (Evaluasi) Diri

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan melakukan ziarah ke makam leluhur, manusia akan selalu ingat dengan kematian. Dengan begitu, mereka akan berusaha untuk selalu muhasabah atau mengevaluasi diri mereka sendiri, terkait apa yang sudah dilakukan selama ini. Sekaligus kesempatan untuk kembali mensucikan diri agar siap menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan dengan lebih khusyuk.

Wujud Bakti dan Penghormatan Leluhur

Selain melakukan ziarah, tradisi ruwah juga berarti mendoakan orang tua dan leluhur yang sudah mendahului kita. Ini sangat penting sebagai bagian dari menghargai akar budaya, meneladani kebaikan leluhur, dan menyadari bahwa kita semua kelak juga akan menyusul mereka.

Refleksi Sosial dan Silaturahmi

Tradisi ruwah juga erat kaitannya dengan kenduri atau sedekah ruwah (mengirim makanan). Tradisi ini berguna mempererat ikatan sosial, gotong royong, sekaligus merekatkan hubungan antar-masyarakat, sekaligus momen maaf-maafan sebelum dimulainya bulan suci Ramadan.

Sebagai umat Islam, tak ada salahnya bagi kita untuk ikut merawat tradisi yang satu ini. Selain menjaga dan melestarikan tradisi secara turun-temurun, tradisi ruwah adalah momen yang sangat pas untuk perawatan diri secara spiritual dan juga mental.

Serta membebaskan diri dari segala energi negatif, sekaligus mempersiapkan diri menjadi individu yang lebih baik lagi, sebelum kelak dipanggil oleh-Nya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *