Indonesia Darurat Bencana Alam, Hubungan Harmonis Manusia dengan Lingkungan Harus Optimal - Mabur.co

Indonesia Darurat Bencana Alam, Hubungan Harmonis Manusia dengan Lingkungan Harus Optimal

Mabur.co- Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan sumber daya alam hayati yang beragam dan berlimpah. Baik di darat, di perairan, maupun di pesisir dan pulau-pulau kecil sehingga Indonesia dikenal sebagai salah satu negara mega bio-diversitas di dunia.

Kekayaan sumber daya alam hayati tersebut merupakan sumber daya strategis karena menyangkut ketahanan nasional, dikuasai oleh negara dan dikelola dengan penuh kehati-hatian dengan tetap memperhatikan kelestarian, keselarasan, keseimbangan, serta keberlanjutan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi terwujudnya kesejahteraan masyarakat Indonesia saat ini dan yang akan datang.

Dalam beberapa dekade terakhir, isu konservasi alam semakin mendapat perhatian dalam berbagai diskursus global. Dari pemanasan global hingga punahnya spesies, tantangan yang dihadapi bumi kita semakin kompleks dan mendesak.

Konservasi alam bukanlah sekadar kecenderungan, tetapi sebuah kebutuhan mendesak yang harus dipahami oleh setiap individu. 

Demikianlah poin pemikiran yang mengedepan dari acara Komunitas Kandang Kebo saat menggelar  sarasehan tentang konservasi alam masa lalu, kini, dan masa mendatang di kawasan makam seniman Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Pendiri Komunitas Kandang Kebo dan Ketua Panitia, Maria Tri Widayati, menuturkan acara sarasehan seperti ini merupakan acara Komunitas Kandang Kebo yang biasa digelar setiap tiga bulan sekali. Tetapi untuk yang berkaitan dengan alam, seperti hari ini, baru pertama kali digelar.

“Komunitas Kandang Kebo sebenarnya komunitas berbasis cagar budaya, tetapi dengan adanya fenomena akhir-akhir ini, banyak bencana, kita masuk ke ranah itu dengan menghubungkan konservasi alam masa lalu dengan konservasi alam sekarang. Salah satunya dengan sarasehan, dilanjutkan menanam pohon,” ujarnya saat ditemui mabur.co, Minggu (25/1/2026), usai acara.

Pendiri Komunitas Kandang Kebo dan Ketua Panitia, Maria Tri Widayati. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Maria Tri Widayati menuturkan,  bulan ini Komunitas Kandang Kebo mengambil tema tentang konservasi alam karena bencana alam di Indonesia semakin parah. Ternyata tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alamiah, melainkan berkaitan erat juga dengan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Seperti deforestasi, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, eksploitasi sumber daya alam berlebihan, serta pengelolaan lingkungan yang tidak berkelanjutan.

Apalagi, hilangnya tutupan vegetasi menyebabkan posisi lereng menjadi tidak stabil dan daya serap tanah terhadap air hujan menurun sehingga bisa dilihat berita di mana-mana banjir.

Daerah Imogiri sebenarnya biasanya juga langganan banjir. Kondisi ini tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat di wilayah setempat, tetapi juga berdampak luas bagi kawasan hilir yang tergantung pada ekosistem pegunungan sebagai penopang kehidupan.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan gejala alam, tapi juga cerminan dari melemahnya hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya. Salah satu korban selain manusia adalah keberadaan warisan budaya berupa objek cagar budaya. Padahal kalau kita lihat masa lalu, leluhur kita sudah hidup selaras dengan alam,” ungkapnya.

Maria Tri Widayati juga mengungkapkan, hutan, sungai, dan mata air dijaga dengan penuh hormat. Ada nilai dan kearifan lokal yang mengajarkan bahwa alam bukan untuk dirusak tetapi untuk dirawat demi keberlanjutan hidup bersama.

Oleh karena itu, melalui sarasehan ini, diharapkan memang akan lahir gagasan, refleksi, dan komitmen bersama untuk merumuskan strategi konservasi yang berpijak pada kearifan lokal masa lalu, menjawab tantangan masa kini, dan visioner menghadapi masa depan.

“Semoga kegiatan ini menghasilkan pemikiran-pemikiran yang bermanfaat, serta semakin menjadikan kita sebagai manusia bermartabat yang peduli dan bertanggung jawab terhadap kelestarian alam,” katanya.

Arkeolog dan epigraf, Goenawan A Sambodo, mengatakan, konservasi alam juga menjadi cerita tentang lingkungan dari masa lalu. Biasanya cerita-ceritanya tentang bagaimana penetapan sebuah daerah menjadi daerah otonom. Biasanya tertulis di prasasti dari masa abad ke-8 sampai abad ke-15.

Kemudian banyak juga naskah yang bercerita tentang tata pemerintahan dan yang lain-lain. Salah satunya adalah Nagarakretagama.  

“Di arkeologi konservasi itu lebih kepada sebuah usaha untuk memperpanjang umur. Sebuah bangunan dikonservasi sehingga bangunan itu relatif lebih awet, lebih panjang umurnya. Cara-caranya dengan perkembangan teknologi sekarang. Dengan kemajuan ilmu-ilmu, baik kimia maupun sipil, atau yang lain-lain. Konservasi-konservasi baik itu bangunan kayu maupun bangunan namanya semen, itu bisa lebih diperpanjang,” ujarnya.

Arkeolog dan epigraf, Goenawan A Sambodo. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Di sisi lain, Dyah Retnowati dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY mengatakan, Cagar Alam (CA) Imogiri merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA). Karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan/keunikan jenis tumbuhan dan atau keanekaragaman tumbuhan beserta gejala alam dan ekosistem, maka memerlukan upaya perlindungan dan pelestarian agar keberadaan dan perkembangannya dapat berlangsung secara alami.

Cagar alam di Imogiri, statusnya sekarang adalah hutan yang hanya berfungsi beberapa pilar. Konservasi, misalnya, ada tiga pilar: ada perlindungan, ada pengawetan, dan ada pemanfaatan.

Tetapi karena fungsinya sudah berubah menjadi cagar alam, status konservasi yang paling tinggi hanya boleh ada kegiatan atau konservasi untuk perlindungan dan pengawetan. Jadi pemanfaatannya tidak boleh secara baik-baik, non-legal juga tidak boleh.

“Cagar alam itu yang boleh hanya untuk perlindungan dan pengawetan saja,” ungkapnya.

Dyah Retnowati dari BKSDA DIY sedang memaparkan gagasan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Dyah Retnowati menjelaskan, di dalam perlindungan ada kegiatan yang diperbolehkan oleh peneliti. Itu untuk meneliti atau pun untuk kegiatan pembelajaran oleh pelajar mahasiswa dan yang lain-lain. Juga untuk kegiatan pembelajaran di dalam kawasan. Sementara itu, di cagar alam ada mamalia yang dilindungi untuk saat ini.

“Mamalia yang dilindungi ada dua, yaitu ada kucing hutan, dan landak Jawa. Untuk konservasi, saat ini  kami di Balai BKSDA bermitra dengan teman-teman komunitas,” ucapnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *