Prabowo Subianto, Perdamaian di Gaza, dan Diplomasi Kuliner Buntil

Buntil, jenis kuliner Jawa yang mudah ditemui di seantero Bantul, Yogyakarta, dan disebut di dalam Serat Centhini itu, kadang-kadang saya rindukan kehadirannya. Hingga kolom ini saya tulis, saya belum memutuskan bercerai untuk tetap menyukai buntil.

Acap kali saya menanyakan kepada tukang sayur di kampung tempat tinggal saya, apakah masih menjual buntil? Jawabannya bisa masih, bisa juga tidak. Tukang sayur itu belum tentu membawa dagangan kuliner kesukaan saya setiap harinya.

Saya menyukai kuliner buntil itu karena kuahnya gurih. Parutan bumbu kelapa dan aneka bumbu lain sengaja dibungkus dalam daun singkong, sangat cocok dengan lidah saya yang menyukai manis, pedas, dan sekaligus gurih.

Biasanya, kuah buntil itu malah terasa seperti kuah gulai saja. Sangat sederhana namun enak sekali dan membuat lidah saya ketagihan.

Boleh jadi, diplomasi dukungan untuk perdamaian yang ditempuh Presiden Prabowo Subianto untuk area Gaza, analoginya mirip dengan diplomasi kuliner buntil. Diplomasi itu nilainya tidak sekadar diplomasi, namun ada bungkusnya juga.

Rasa diplomasi itu bisa pedas, gurih, atau manis, nilainya jadi relatif. Bisa menjadi pedas karena nilai diplomasi itu bagai macan yang siap menerkam, ditakuti, sebagaimana brand yang pernah melekat di tubuh Presiden Prabowo Subianto sebagai macan Asia. Entah benar-benar masih bertaring, atau kini setengah ompong, atau malah sudah ompong, saya kurang tahu.

Bisa saja nilai diplomasi itu menjadi gurih karena bisa diterima berbagai pihak, khususnya dalam klaster negara-negara yang segaris lurus dengan sikap Indonesia. Karena gurih Indonesia pun nyaman dalam bentang keterkaitan dengan ragam negara sepayung diplomasi perdamaian itu.

Bisa juga malah bernilai manis, karena Indonesia dianggap tepat sasaran dalam memutuskan langkah diplomasi perdamaian. Siapa pun mitra negara yang sepayung dengan Indonesia. Entah itu ada Amerika yang baru saja sukses menculik Presiden Venezuela Maduro atau negara mana pun saja.

Soal memutuskan rasa diplomasi perdamaian yang akan Anda rasakan pedas, gurih, atau manis, sebagaimana kuliner buntil yang saya sukai, itu hak penuh Anda sendiri. Saya tidak bisa mengintervensi otoritas keputusan atau selera Anda dalam menilai.

Kisah dukungan perdamaian untuk area Gaza yang biasanya jadi ajang perang ini, juga sudah sejak kecil saya dengar. Tentu saja bagus karena sebagai bagian toleransi atau kepedulian antar-negara.

Yang unik itu, kenapa dari dulu tidak selesai?  Lalu saya sendiri harus memutuskan rasa diplomasi perdamaian itu gurih, pedas, atau manis? Kira-kira apakah ada efek terhadap diri saya jika saya sampaikan pandangan saya tentang rasa diplomasi perdamaian itu?

Apakah saya nanti akan masuk daftar hitam masuk Amerika, misalnya? Kalau itu terjadi, pasti celaka juga. Jadi saya harus bagaimana?

Di era netizen yang sekarang cerdas-cerdas boleh jadi Anda akan bilang, ”Terserah kamu itu kan pendapatmu! Nggak usah takut-takut amat. Yang biasa memutuskan dalam konteks negara saja jika salah keputusannya juga nggak takut, kok!”

Bisa jadi Anda akan meneriaki saya begitu. Kalau menurut saya, semua itu pasti sudah ada kalkulasinya. Termasuk ketika Indonesia juga tetap mesra dengan negara-negara yang masing-masing sedang berkonflik.

Bagaimana tidak tetap mesra, sejak saya kecil juga sampai hari ini, Indonesia tetaplah masuk dalam kerangkeng negara berkembang. Logikanya, kuasa apa yang bisa ditunjukkan oleh taring negara berkembang yang segala aspek kehidupannya masih timpang?

Venezuela itu ternyata masuk juga sebagai daftar negara berkembang, maka enak saja Amerika terang-terangan nyaplok. Begitu pula dengan Indonesia yang kapan pun bisa saja diperlakukan sama dengan Venezuela.  

Saya selalu saja bergurau dengan teman-teman dekat saya, patokan Indonesia bubar atau tidak itu Freeport. Jika Freeport masih diperpanjang dengan Amerika, berarti negara ini masih bisa tersenyum, meskipun belum tentu berarti senyum yang benar-benar plong. Bisa saja senyum kecut.

Begitulah. Sejak 1967 Freeport kita kuasakan kerja samanya dengan Amerika, dan terus saja diperpanjang kerja samanya hingga era Presiden Jokowi, yang terus memperpanjang sampai 2061.

Oleh sebab itu, celana jeans tetap patron kita, film-film Amerika tetap membentuk selera estetik visual saya, dan emas batangan asli antam 24 karat dari olahan Freeport boleh jadi tetap memenuhi rumah-rumah pejabat kita setiap bulannya.

Saya dan Anda hanya dapat menuliskan kata serta huruf berbunyi emas batangan antam 24 karat tanpa memilikinya. Karena bisa jadi sudah habis digunakan untuk membayar ongkos diplomasi buntil, diplomasi perdamaian dengan cita rasa gurih, manis, atau pedas itu. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *