Museum Suharto dan Catatan Bersejarah Bangsa Indonesia di Zaman Orde Baru

Mabur.co – Tanggal 27 Januari, tepat 18 tahun lalu (2008), mantan Presiden Indonesia era Orde Baru, Suharto, wafat di usianya yang ke-86 tahun.

Sebagai orang terlama yang pernah menjadi presiden di Republik Indonesia, yakni selama 32 tahun (1966-1998), sosok Suharto tak akan pernah lepas dari dinamika sejarah pembentukan bangsa Indonesia setelah masa kemerdekaan.

Terlepas dari segala macam kontroversi selama menjadi presiden, Suharto tetaplah salah satu pahlawan besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.

Untuk mengenang berbagai jasanya, khususnya di bidang diplomasi politik semasa menjabat sebagai presiden, sekaligus sebagai pusat edukasi bagi generasi muda, pihak keluarga pun berinisiatif mendirikan sebuah museum khusus.

Berselang beberapa tahun setelah kematian Suharto, museum yang kemudian diberi nama Museum Memorial Jenderal Besar H.M Soeharto itu akhirnya secara resmi dibuka untuk umum pada Sabtu, 8 Juni 2013.

Museum ini berlokasi di atas tanah kelahirannya di kawasan Kemusuk Lor, Argomulyo, Sedayu, Bantul, dengan luas sebesar 3.620 meter persegi.

Tanggal 8 Juni sendiri sengaja dipilih karena merupakan tanggal lahir Suharto. Tepatnya pada 8 Juni 1921, atau 92 tahun sejak kelahiran Suharto pada saat itu.

Di halaman depan museum terdapat patung besar Suharto, yang merupakan hasil karya seniman Edhi Sunarso. Lalu bergeser di sebelah patung terdapat batu besar yang merupakan prasasti momen peresmian museum pada 2013 lalu.

Masuk ke bagian dalam, terdapat pendopo sederhana yang menampilkan beberapa peralatan multimedia berupa cuplikan gambar dan buku elektronik (e-book) dari setiap perjuangan Suharto semasa menjadi Presiden RI.

Selanjutnya, Anda dapat melihat lebih jauh berbagai macam koleksi lengkap dari museum ini di ruang diorama, yang dikemas secara tradisional tapi juga modern.

Di ruang ini, Anda akan melihat instalasi roll film berisi dokumentasi visual gerak (slide show) tentang perjuangan Suharto.

Selain itu ada juga diorama tentang perjuangannya melakukan koordinasi dengan Jenderal Sudirman pada Serangan Umum 1 Maret 1949, dan juga visual ketika Suharto diundang oleh FAO di Roma, Italia pada 1985, untuk menerima penghargaan atas keberhasilannya dalam swasembada pangan.

Selain menceritakan momen perjuangan Suharto selama 32 tahun menjadi presiden dalam bentuk teks maupun audio-visual, museum ini juga mengoleksi beberapa peninggalan milik pribadi serta keluarga besar Suharto. Seperti pakaian, peninggalan senjata militer, medali pencapaian dari dunia internasional, serta kehidupan masa kecil Suharto sendiri, saat ia tumbuh besar di lokasi museum tersebut didirikan.

Seperti halnya museum-museum lainnya yang ada di Indonesia, museum Suharto juga kerap dikunjungi oleh berbagai pihak dari seluruh Indonesia, yang umumnya berasal dari rombongan siswa-siswi sekolah, instansi pemerintahan, ibu-ibu PKK, dan sebagainya.

Keberadaan museum Suharto di tanah kelahirannya tidak hanya berfungsi untuk mengenang setiap perjuangan Suharto bagi bangsa ini, melainkan juga pusat edukasi wawasan kebangsaan, serta menanamkan semangat nasionalisme dan penerapan Pancasila secara utuh kepada generasi muda. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *