Mabur.co – Di balik sosoknya sebagai penguasa Orde Baru yang penuh kontroversi, Soeharto menyimpan dimensi lain yang jarang tersorot.
Yakni laku spiritual yang diyakininya sebagai sumber keteguhan, ketenangan, dan daya tahan dalam memimpin negeri selama lebih dari tiga dekade.
Meditasi ke Luar Kota
Presiden ke-2 RI Soeharto disebut kental akan lelaku spiritual yang bernuansa kejawen. Hampir setiap Kamis malam hingga Jumat dini hari, Soeharto disebut rutin melakukan meditasi ke luar kota, di tempat-tempat yang dianggap memiliki energi baik.
Dikutip dari buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen karya jurnalis senior istana, Bambang Wiwoho, menyatakan, setiap Jumat Istana Kepresidenan tidak ada acara.
Kenapa Jumat itu kosong. Paspampres menjelaskan menjadi pengawal untuk urusan segala macam yang terkait dengan meditasi atau tafakur.
Area Gunung Srandil
Ternyata, kadang-kadang keluar kota. Ada sejumlah tempat yang jadi langganan Soeharto untuk bermeditasi. Salah satunya di area Gunung Srandil, Cilacap, Jawa Tengah.
“Soeharto juga disebut kerap bermeditasi di Gunung Lawu dan Dieng. Kebiasaan itu dilakukan Soeharto sejak masih muda, bahkan sebelum jadi presiden,” tutur sang penulis buku.
Bambang mengatakan pula, dahulu Soeharto dan istrinya, Siti Hartinah atau Ibu Tien, juga kerap bermeditasi di hulu Sungai Bengawan Solo di Dlepih, Wonogiri, Jawa Tengah.
“Orang yang suka spiritual Jawa, (percaya) benturan air menghasilkan energi mentah, yang kalau dipasang generator bisa jadi listrik. Bahan mentah listrik inilah yang diserap oleh orang-orang yang suka bermeditasi di daerah tempuran (air) atau air terjun,” terangnya.
Tambahan Energi Hidup
Bambang mengatakan lagi, orang yang bermeditasi biasanya mencari ketenangan dan tambahan energi hidup.
Menurut Bambang, lelaku spiritual Soeharto ini memengaruhi perangai presiden kedua RI tersebut menjadi sosok yang tenang.
“Jadi kalau menganalisa, membaca keadaan, menghadapi keadaan, punya rasa percaya diri,” tuturnya.
Bambang juga tak menampik lelaku spiritual tersebut membuat Soeharto “sakti”, hingga mampu bertahan 32 tahun berkuasa.
“Ada kaitannya. (Laku spiritual) membentuk kepribadian Pak Harto yang kuat, membentuk wisdom Pak Harto, kearifannya, kebijakannya, citra dirinya,” katanya. ***
