Mabur.co – Berburu batik di Kota Surakarta, Jawa Tengah, jelas tak susah. Tiap sudut kota menawarkan tempat berburu batik, mulai dari printing yang sebenarnya adalah kain dengan motif batik, batik cap hingga batik tulis halus karya para maestro.
Sentra Batik Laweyan
Salah satu sentra batik yang menawarkan berbagai pilihan batik adalah Kampung Laweyan. Kawasan yang sempat tenggelam saat batik printing mulai diperkenalkan pada 1970-an ini mulai menunjukkan geliat kehidupan sejak dicanangkan sebagai kampung wisata batik pada 2004.
Sejak pencanangan kampung wisata batik, Laweyan dengan ciri khas jalanan nan sempit memisahkan tembok-tembok tinggi dan pintu gerbang besar ini mulai ramai dikunjungi turis untuk berburu batik.
Rumah-rumah dengan tembok tinggi ini adalah bekas kejayaan para produsen dan pedagang batik pada masa dahulu. Meski terlihat kusam di luar, rumah yang tersembunyi di balik tembok tinggi sesungguhnya memiliki arsitektur menawan.
Mengenal Samanhudi
Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin (28/9/2026), Samanhudi lahir di Surakarta pada 8 Oktober 1868.
Waktu kecil, Samanhudi memperoleh pendidikan agama Islam dan pendidikan umum di Sekolah Dasar Bumiputera kelas satu di Surabaya.
Di Surabaya, Samanhudi tidak hanya belajar tapi juga bekerja dengan berdagang. Dengan bekal ilmu yang sudah diperoleh, Samanhudi terjun ke dunia perdagangan batik.
Hubungan Dagang Berbagai Daerah
Ia mengadakan hubungan dagang dengan para pedagang dari berbagai kota, seperti dari Solo, Purwokerto, Bandung, Surabaya, dan Banyuwangi.
Ia bahkan menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Tiongkok dan Arab. Jiwa dagang sudah ada di dalam dirinya sejak lama, sehingga dengan mudah bisa menarik hati masyarakat.
Berbekal pengalaman terjun langsung dalam bisnis perdagangan, pengetahuannya menjadi semakin luas.
Pada tahun 1912, SDI berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) yang bersifat perkumpulan sosial ekonomi non-politik.
Ini bertujuan untuk memajukan perdagangan, memberi pertolongan kepada para anggotanya yang sedang kesusahan. SI juga memajukan kepentingan jasmani dan rohani kaum Bumiputera, dan memajukan kehidupan agama Islam.
Pada tahun 1920, kesehatan Samanhudi mulai terganggu dan membuat ia tidak aktif lagi dalam organisasi tersebut.
Kendati kesehatannya menurun, dia terus menginspirasi dengan ide-ide cemerlangnya terhadap pergerakan nasional.
Ia wafat pada 28 Desember 1956 di Klaten dan dimakamkan di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Samanhudi dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No 590 tahun 1961 pada tanggal 09 November 1961.
