Mabur.co – Telinga orang-orang Indonesia sudah tidak asing lagi dengan legenda ramalan Jayabaya, terutama orang-orang di Jawa.
Sebuah ramalan yang dibuat oleh seorang raja yang cukup masyhur di masa dulu. Tentu, kemasyhurannya karena ia memiliki sebuah kearifan yaitu mampu meramalkan kondisi Nusantara di masa depan.
Salah satunya adalah ramalan Jayabaya yang menjelaskan bahwa di masa depan Pulau Jawa akan berkalung besi.
Tentu ungkapan ini punya penafsiran, bahwa yang dimaksud kalung besi di Pulau Jawa adalah jalur kereta api yang telah dibuat sejak pemerintahan Hindia Belanda sekitar pertengahan abad ke-19 Masehi.
Di masa modern atau sekarang, jalur kereta yang aktif digunakan telah membentang dari ujung timur Pulau Jawa yakni Kota Banyuwangi (depan Pelabuhan Ketapang) hingga ujung barat Pulau Jawa, yakni di Kota Serang (dekat Pelabuhan Merak).
Ramalan Jayabaya tentang kondisi masa depan Pulau Jawa yang berkalung besi atau penafsirannya bahwa Pulau Jawa telah dibuat jalur rel kereta api hanya satu contoh dari banyaknya ramalan yang telah diramalkan.
Mengutip buku Menguak Rahasia Ramalan Jayabaya oleh D. Soesetro dan Zein al Arief, dikutip mabur.co, Senin (28/9/2026) dijelaskan, ramalan Jayabaya berbentuk tembang atau kakawin dalam bahasa Jawa kuno.
Kata-kata dalam ramalan ini bisa dilagukan dan mengandung arti yang mendalam. Lewat kata-kata itulah masyarakat mencari makna apa yang terjadi di kemudian hari menurut ramalan.
Banyak yang percaya akan ramalan Jayabaya, tapi tak sedikit pula yang menganggap itu mitos belaka. Mereka beranggapan, akurasi ramalan Jayabaya disebabkan oleh sifat-sifatnya yang luwes sehingga cocok diterapkan di segala situasi.
Ramalan Jayabaya yang Populer
Salah satu ramalan paling populer berbunyi “besuk yen wis ana kreta tanpa jaran” atau kelak akan ada kereta tanpa kuda. Pada abad ke-12, kendaraan tanpa tenaga hewan jelas terdengar mustahil. Namun di era modern, kehadiran mobil, kereta api, hingga pesawat dianggap sebagai pembuktiannya.
Ada pula ungkapan “tanah Jawa kalungan wesi” yang dimaknai sebagai Pulau Jawa yang “dikalungi besi”. Tafsir modern mengaitkannya dengan rel kereta, jalan tol, jembatan, gedung pencakar langit, hingga kawasan industri yang membentang dari ujung ke ujung.
Ramalan lain “prau mlaku ing dhuwur awang-awang” atau perahu berjalan di atas langit, sering ditafsirkan sebagai simbol pesawat terbang. Bahkan gambaran kerusakan lingkungan dalam kalimat “kali ilang kedunge” kerap dikaitkan dengan krisis ekologis akibat eksploitasi alam.
Dalam konteks sejarah, Jayabaya juga disebut meramalkan datangnya penjajah berkulit putih yang berkuasa lama —sering dihubungkan dengan kolonialisme Belanda— serta penguasa berkulit kuning yang berkuasa singkat, yang dikaitkan dengan pendudukan Jepang.
Perhatian publik kini tertuju pada tafsir ramalan Jayabaya yang dikaitkan dengan tahun 2026. Salah satu frasa yang paling sering dibahas adalah “Pulau Jawa pecah dadi loro” atau Jawa terbelah menjadi dua.
Banyak penafsir mengaitkannya dengan potensi gempa besar dan tsunami akibat aktivitas megathrust. Indonesia memang berada di kawasan cincin api dengan sejumlah zona subduksi aktif.
Menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat beberapa zona megathrust yang berpotensi memicu gempa besar, termasuk di wilayah Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Potensi gempa di Selat Sunda bahkan disebut bisa mencapai magnitudo 8,7.
Meski demikian, BMKG berulang kali menegaskan bahwa gempa tidak bisa diprediksi secara pasti waktunya. Kajian ilmiah hanya memetakan potensi dan tingkat risiko, bukan menentukan tanggal kejadian.
Karena itu, tafsir “Jawa pecah dadi loro” lebih tepat dipahami sebagai simbol peringatan terhadap risiko geologis nyata, bukan kepastian peristiwa di tahun tertentu.
Selain bencana alam, ramalan Jayabaya juga dikaitkan dengan dinamika geopolitik global. Ungkapan “Landa Cina kari sejodho” sering ditafsirkan sebagai simbol pergeseran dominasi dunia dari Barat ke Timur.
Dalam konteks modern, hal ini kerap dikaitkan dengan rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina. Amerika selama puluhan tahun mendominasi tatanan global, sementara Cina kini bangkit melalui kekuatan ekonomi, teknologi, dan infrastruktur.
Tafsir “kari sejodho” menggambarkan masa transisi, ketika kekuatan lama belum sepenuhnya runtuh dan kekuatan baru belum sepenuhnya mapan.
Tahun 2026 pun disebut sebagai periode abu-abu penuh ketidakpastian global. Ramalan lain menyebut bangsa ini berada dalam “zaman kalabendu” atau masa kekacauan.
Ungkapan seperti “wong apik ditampik, wong jahat munggah pangkat” menggambarkan situasi ketika nilai-nilai moral terasa terbalik.
Beberapa versi tafsir menyebut 2026 akan diwarnai tujuh peristiwa besar, mulai dari krisis ekonomi, konflik sosial, wabah penyakit, hingga kebangkitan spiritual. ***
