Mabur.co – Warga Kota Batam, Kepulauan Riau, antusias memeriahkan atraksi dan pawai budaya Khitong di kawasan Nagoya, belum lama ini.
Tradisi masyarakat Tionghoa itu digelar bersama berbagai kesenian khas Nusantara seperti reog, kuda lumping, dan kesenian dari berbagai daerah lainnya.
Sebanyak 68 peserta dari dalam dan luar negeri ikut tampil dalam kegiatan perayaan budaya yang rutin digelar setiap tahun tersebut.
Dilansir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Senin (28/9/2026), Khitong merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang sudah sangat melekat di Batam.
Istilah Khitong dipilih sebagai identitas kegiatan di Batam, meski sebenarnya secara esensi serupa dengan tradisi Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat.
Ketua Pelaksana Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026, Susanto Theodolite, mengatakan, penggunaan istilah Khitong dimaksudkan untuk memberikan identitas yang lebih dekat dengan budaya Tionghoa di Batam dan Kepulauan Riau.
“Kalau kita bicara Tatung, orang kepikirannya Singkawang, Kalimantan. Jadi lebih arifnya kita jangan ambil. Kalau kita bicara Khitong, orang akan berpikir Batam,” kata Susanto.
Khitong atau Tatung sendiri dikenal sebagai tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Tradisi ini awalnya dilakukan masyarakat Tionghoa yang datang ke Indonesia sebagai bagian dari ritual tolak bala.
Usir Gangguan Roh Jahat
Ritual dilakukan untuk memohon perlindungan dan mengusir gangguan roh jahat yang dipercaya menjadi penyebab wabah.
Dalam ritual tersebut, sejumlah orang dipercaya menjadi medium roh dewa atau leluhur. Mereka kemudian diarak mengelilingi permukiman sebagai bagian dari upacara tolak bala.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang dan berakulturasi dengan budaya lokal, sehingga menjadi bagian dari atraksi pawai budaya saat ini.
Tahun ini penyelenggaraan pawai Khitong di Batam digelar untuk yang ketiga kalinya setelah sebelumnya berlangsung pada 2022 dan 2024.
Pelibatan atraksi budaya Nusantara dalam tradisi Tionghoa ini menunjukkan akulturasi dan keragaman budaya masyarakat yang ada di Batam.
Atraksi Wisata
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengaku akan terus mengembangkan Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026 sebagai atraksi wisata yang memperlihatkan karakter Batam sebagai kota yang dihuni masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam.
“Batam ini memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam berbilang bangsa. Ketika berbagai komunitas dapat menampilkan budayanya dalam satu kegiatan, tentu ini menjadi sesuatu yang menarik, bukan hanya bagi masyarakat Batam, tetapi juga bagi wisatawan,” ujar Ardiwinata.
Menurutnya, berbagai kegiatan budaya baik itu ritual tradisi, seni pertunjukan maupun kegiatan masyarakat lainnya juga dapat menjadi daya tarik luar biasa yang memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan.
“Budaya adalah bagian dari perkembangan destinasi sekaligus potensi pariwisata kita. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus kita dukung dan kembangkan agar semakin dikenal dan menjadi bagian dari kalender kegiatan wisata Batam,” pungkasnya.
