Banyak yang mengira Hari Batik itu perayaan kain. Keliru. Hari Batik adalah perayaan tentang bagaimana Indonesia memenangkan perang tanpa tentara. Bukan dengan senjata tombak atau bedil namun canting.
Batik bukan ditemukan di Jawa. Teknik wax-resist dyeing ada di Mesir kuno, Nigeria, hingga India. Tapi hanya di Jawa teknik itu menjadi bahasa. Batik tulis tertua ditemukan di Toraja, dan di Jawa sudah ada sejak abad ke-12. Di masa Mataram Islam, batik dibagi dua secara politik:
1. Batik Keraton (vorstenlanden) Motif Parang, Kawung, Semen — hanya boleh dipakai Sultan dan keluarga. Rakyat yang memakai bisa dihukum. Ini kain feodal.
2. Batik Pesisir Lasem, Pekalongan, Cirebon — warna cerah, motif burung hong, kapal Eropa, kaligrafi Arab. Ini kain perlawanan. Pedagang Arab, Cina dan rakyat jelata yang tidak boleh masuk keraton membuat batik mereka sendiri yang lebih bebas. Jadi sejak awal batik adalah perlawanan melawan kekuasaan.
Belanda paham ini. Pada 1870-an mereka mencoba mematikan batik dengan mencetak Batik Belanda buatan pabrik di Belanda dengan mesin printing. Lebih murah, lebih rapi. Hampir berhasil. Pengusaha batik Jawa bangkrut.
Yang menyelamatkan adalah kaum perempuan. Di Laweyan, Kauman, Trusmi, Lasem, industri batik rumahan dipertahankan ibu-ibu.
Mereka tidak bisa melawan mesin dengan mesin, jadi mereka melawan dengan detail yang tidak bisa ditiru mesin: canting dan malam yang retak-retak (crackle) yang justru dianggap cacat oleh Belanda.
Titik Balik Bukan di Solo, tapi di Abu Dhabi
Tahun 2009, Malaysia mengklaim batik sebagai warisan budayanya. Malaysia mendaftarkan batik dengan pola yang mirip parang. Indonesia murka. Pemerintah, perajin, sejarawan akhirnya bersatu menyusun naskah akademik tebal tentang batik.
Pada 2 Oktober 2009, sidang UNESCO ke-4 di Abu Dhabi menetapkan: Batik Indonesia sebagai Masterpiece of Intangible Heritage of Humanity.
Bukan “batik” secara umum, tapi “Batik Indonesia” dengan teknik, simbolisme, dan budayanya. Itu adalah kemenangan hukum kebudayaan pertama Indonesia.
Sebagai reaksi, Presiden SBY memaklumatkan Keppres menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Instruksinya: setiap tanggal 2 Oktober, PNS, pegawai BUMN, dan pelajar wajib memakai batik.
Hari Batik bukan terbatas memakai batik ke kantor setahun sekali dan mengunggahnya di Instagram. Maknanya adalah pengakuan bahwa kebudayaan bisa punah bukan karena dilupakan, tapi karena dicuri kecepatannya oleh industri. Batik selamat karena ia menolak menjadi sempurna.
Mesin printing membuat garis 100% lurus. Canting tangan manusia membuat garis 99% lurus. 1% ketidaksempurnaan itulah yang dicari UNESCO: jejak napas manusia.
Jadi kalau hari ini kamu memakai batik tulis yang malamnya agak bleber, warnanya tidak 100% rata — itu bukan cacat. Itu adalah tanda perlawanan 150 tahun lalu yang masih hidup.
Batik bukan kain. Batik adalah bukti bahwa Indonesia pernah dijajah mesin, dan menang dengan tangan.
