Lahir dari kalangan rakyat biasa, berjuang keras untuk menjadi wakil rakyat, tak pernah lupa akan amanat hati nurani rakyat.
Tanpa gembar-gembor pro rakyat atau pro wong cilik, sepak terjangnya mudah dikenali oleh publik dan wong cilik.
Tak mudah bagi Gandung Pardiman (25 Februari 1953-27 Oktober 2026) menggunakan Partai Golkar sebagai kendaraan politik.
Euforia reformasi menempatkan partai itu dalam bidikan masyarakat dalam tatapan negatif. Tapi begitu masuk dan menjadi bagian penting dari partai yang identik warna kuning ini, dia membuktikan diri sebagai politisi yang berkarakter.
Terpilih untuk empat kali masa jabatan wakil rakyat ditambah dipercaya mengendalikan DPD Golkar DIY jelas bukti nyata bahwa eksistensinya diterima masyarakat
Artikulatif dalam menyampaikan aspirasi rakyat, tak segan turun langsung bersama masyarakat, sesekali gayanya ngoboi dan tak memiliki catatan negatif terkait penyimpangan kewenangan, membuktikan bahwa apa pun partai yang dikendarai tak menjadi soal selagi didukung karakter dan mentalitas yang terjaga.
Dalam beberapa hal Gandung mempunyai andil besar dalam mengubah kesan elite partai Golkar menjadi merakyat.
Boleh jadi itu karena dia lahir di pedesaan yang gersang, boleh jadi dia memang memiliki visi yang benar terkait perpolitikan nasional.
Politik baginya merupakan media perjuangan bagi terselenggarakannya kehidupan bangsa yang lebih maju dan sejahtera. Dan untuk itu, Gandung kerja keras membuktikan tidak saja melalui keberpihakan tetapi juga membantu membukakan akses dan melakukan advokasi.
Indonesia sedang mengalami krisis demokrasi. Tak banyak wakil rakyat yang mau dan berani berjibaku memperjuangkan nasib wong cilik.
Bencana di depan mata, rakyat diintai dengan beragam kesulitan, dan Gandung pergi tanpa pesan. Meski telah mempersiapkan makamnya, kepergian Gandung tetap meninggalkan kesedihan. Tak banyak wakil rakyat seperti Gandung.
Koboi Gunung telah pergi dengan beragam catatan perjuangan di tengah mendung yang menggelayuti Indonesia. Selamat jalan, Pak.
