Pak Minto, Rumah yang Bernama Puisi (Sugeng Ambal Warsa 70 Tahun)

6 Min Read
Poster promoting a literary event in Yogyakarta: 'Mata Air Mata Darah', with date Thursday, 3 June 2004, 19:30 WIB, at Auditorium IAIN Sunan Kalijaga; lists speakers and sponsors beneath.
Pamflet foto kopi launching buku puisi "Mata Air Mata Darah" pada 2004 bersama Prof. Suminto A Sayuti. Usia pamflet ini 22 tahun masih menempel di ruang baca saya. (Foto: BB Maras)

Saya lupa persisnya kapan pertama kali bertemu Prof. Dr. Drs. Suminto A. Sayuti atau Pak Minto, atau Mas Minto sapaan akrabnya.

Ingatan saya agak kabur, sebab intensnya pertemuan, persisnya sekitar tahun 1998-1999, saya masih bocah kurus, rambut gondrong yang sering membuntuti guru saya Iman Budhi Santosa (IBS) ke acara sastra Malioboro, di Taman Budaya, di emperan kota, dan banyak lagi lainnya.

Prof. Suminto adalah adik angkatan IBS di Persada Studi Klub Malioboro (PSK), komunitas yang lahir 5 Maret 1969 bersama “Presiden Penyair Malioboro” Umbu Landu Paranggi.

PSK bubar 1977, tapi persaudaraannya tidak bubar. Di PSK, IBS yang senior, dan sejumlah adiknya yang lain seperti Suminto A. Sayuti, Mustofa W. Hasyim, Boedi Ismanto, dan lainnya. Saya termasuk salah satunya yang paling bungsu.

Dari pertemuan-pertemuan itulah, hubungan saya dengan Pak Minto akhirnya seperti anak-bapak, kakak-adik. Bukan formal.

Kalau saya ke rumahnya di Pakem, Sleman, lereng Merapi yang dingin, saya kadang tidak perlu janjian. Tinggal datang bersama IBS, disuguhi teh dan cerita wayang sastra lan sakpiturute.

Beliau seniman sejati. Di rumahnya, ada gamelan, buku-buku setinggi pintu, dan kadang beliau mendalang. Bukan dalang panggung, tapi dalang ruang tamu, dengan suara dalang halus membawakan lakon Petruk Dadi Ratu.

Endorsemen Pertama untuk Buku Puisi Pertama Saya

Saya masih ingat, buku puisi pertama saya Mata Air Mata Darah terbit 2004, beliau yang memberi endorsemen pertama dan sekaligus pembicara dalam launching buku puisi saya di Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga tempat saya mengaji teater dan sastra.

Tulisannya di kolom endorsemen: “Bustan sangat suka bermain bunyi kata.”

Tanpa itu, buku saya mungkin cuma jadi kumpulan kertas fotokopi tak bermakna. Beliau juga yang memberi rekomendasi tulisan tangan agar saya bisa kuliah S2 Antropologi UGM.

“Nah… Nguno… Kamu harus sekolah lagi, jangan cuma nongkrong di angkringan, luntang lantung gak jelas,” katanya ke saya sambil terkekah di ruang kerjanya saat masih Dekan Fakultas Sastra UNY.

Prof. Minto adalah intelektual yang dekat dengan penyair Taufiq Ismail, tapi tidak pernah jadi epigon. Ia punya jalannya sendiri: dari puisinya Malam Tamansari ke Bangsal Sri Manganti.

“Puisi tidak sekadar deretan kata yang indah; ia adalah tubuh pengalaman batin yang melampaui waktu dan ruang,” tulis sastrawan, akademisi Abdul Wachid B.S. tentang Pak Minto.

“Suminto A. Sayuti lahir 26 Oktober 1956 di Purbalingga, dan kemudian tumbuh sebagai figur sastra yang produktif serta reflektif,” dilansir dari borobudurwriters.id, Senin (26/10/2026).

Dua buku puisinya menjadi kunci: Malam Tamansari (2000) dan Bangsal Sri Manganti (2013). Di dalamnya ada Jawa, ada gamelan, ada bau kembang setaman keraton.

“Sastra Indonesia tidak lagi dipandang sebagai entitas terisolasi, melainkan sebagai bagian aktif dari sastra dunia yang terus berdialog,” kata Minto dalam sambutan tertulisnya di Konferensi Internasional Kesusastraan HISKI ke-35 di UNY, Oktober 2026.

Konferensi itu menghadirkan Prof. Minto sebagai pembicara utama dengan topik Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia, tulis ruang.id.

Kritik itu Bukan Mematahkan, Tapi Menyambung

Forum itu juga menggelar Dialog Budaya 70 Tahun Prof. Suminto A. Sayuti pada 26 Oktober 2026 di Pendapa UNY.

Sayangnya kali ini, sudah tanpa IBS. IBS wafat 10 Desember 2020. Pak Minto di panggung, masih dengan blangkon kecil, membacakan puisi baru: Siapa Berkata. Siapa bilang dengan kata-kata. Sekali hari ini lalu esok yang lusa. Adalah cintamu yang kenanga.

Itulah Pak Minto: menolak terminasi, menolak akhir. Seperti kalimatnya yang pernah diajarkan ke saya: kritik itu bukan mematahkan, tapi menyambung. Seperti kata IBS dalam puisi: “Sungguh bukan maut yang menakutkan, tapi tua terpuruk sendirian.”

Pak Minto tidak pernah tua dan terpuruk. Di usia 70, ia masih menabuh gamelan di Masyarakat Karawitan Jawa yang ia gagas, masih mengajar di UNY, masih memberi nasehat ke anak dan adik-adiknya seperti saya: “Nulis itu seperti mendalang, kamu harus tahu kapan Petruk bicara, kapan Semar diam.”

Di Pakem, sudah seperti ada mitos yang bercerita, kalau Merapi batuk, gamelan di rumah Pak Minto ikut bergetar, ikut berbicara.

Yang pasti, setiap kali saya mampir, ada saja tamunya yang lain tiba-tiba datang, mungkin mahasiswa, atau masyarakat kampung sekitar.

Pak Minto orangnya sangat santai, rileks, terbuka dengan semua kalangan, humoris, gampang nyambung dengan wong cilik sebab ia mudah sekali memilih diksi ala wong cilik.

Seperti lirik lagu Ebiet rekan seperjuangannya di “Gelandangan Malioboro”: “Kita mesti berjuang, memerangi diri, bercermin dan banyaklah bercermin”.

Seperti nasehatnya yang paling saya ingat, sambil sesekali mendalang: “Bustan, jadi penyair itu jangan cuma pinter nulis. Harus pinter ngaji rasa. Kalau tidak, puisimu cuma jadi hiasan dinding”.

Saya yang dulu bocah 1998, kini masih menyimpan kertas rekomendasi 2007 itu, tulisan tangan beliau, mendorong saya ke meja wawancara S2 Antropologi UGM.

Meski kini kertasnya mulai menguning, tapi kata-kata dan pilihan diksi yang dituliskan Pak Minto di dalamnya, padat dan puitis, bertenaga dan hidup.

Tak terbatas ruang dan waktu di kehidupan saya hingga hari ini. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar