Menengok Historische Studio, Museum Sejarah Perbudakan dan Rasisme terhadap Kaum Depok

5 Min Read
Colonial-style building with orange-tiled roof, white pillars, blue doors, and a veranda; people walk up the stone steps.
Museum Historische Studio di Kota Depok, Jawa Barat. (Foto: Pemkot Depok)

Mabur.co – Sebelum menjadi penyangga kawasan metropolis Ibu Kota Jakarta, Kota Depok ternyata menyimpan sejarah kelam perbudakan masyarakat pribumi Nusantara di era kolonial Belanda.

Kaum Depok, begitulah dahulu orang-orang menyebut budak-budak pribumi pekerja perkebunan yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya masyarakat Depok.

Untuk menelusuri jejak perbudakan tersebut, bisa dikunjungi museum mini bernama Historische Studio yang terletak di Depok Lama, Jawa Barat.

Museum yang berada di area SMP Kasih, Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, ini baru saja diresmikan pada 27 Juni 2026 lalu, bertepatan dengan Festival Heritage Depok Lama dan peringatan 312 tahun Kaum Depok.

Dilansir dari historiek.net, Minggu (4/10/2026), Historische Studio merupakan museum pertama yang secara khusus mengangkat sejarah Kota Depok sejak era kolonial Belanda. Museum ini dikelola Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC).

Kehadiran museum ini memiliki peran penting yakni sebagai ruang untuk mengenalkan sejarah Kaum Depok, komunitas yang terbentuk dari keturunan orang-orang yang pernah diperbudak di masa kolonial.

Berawal dari Sosok Bernama Cornelis Chastelein

Sejarah Kaum Depok sendiri tidak dapat dilepaskan dari sosok orang Belanda bernama Cornelis Chastelein.  Mantan pegawai VOC ini merupakan seorang pengusaha yang memiliki lahan perkebunan di wilayah Depok sekitar abad 18.

Dalam mengelola perkebunan tersebut, Chastelein diketahui mempekerjakan sejumlah warga pribumi dan menjadikannya sebagai budak. Mereka diminta bekerja merawat perkebunan miliknya. 

Namun pada 27 Juni 1714, Chastelein diketahui meninggal di Batavia dalam usia yang cukup muda yakni 56 tahun. Yang menarik, sebelum meninggal, ia membuat wasiat yang kelak menjadi dasar penting bagi terbentuknya Komunitas Kaum Depok.

Dalam wasiat tersebut, orang-orang yang diperbudak ditetapkan akan memperoleh tanah seluas sekitar 1.244 hektare untuk dikelola bersama.

Museum exhibit titled 'THE CHASTELEINS' with two visitors examining a display case and wall-mounted photos/frames around them.
Suasana ruang pameran Museum Historische Studio di Kota Depok. (Foto: Pemkot Depok)

Keturunan mereka kemudian terbagi dalam 12 keluarga atau marga, yakni Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh.

Mereka terutama berasal dari Bali, disertai orang-orang dari sejumlah wilayah Sulawesi dan India, yang sebelumnya dibawa ke perkebunan milik Chastelein.

Tak seperti pribumi pada umumnya, para budak ini memiliki identitas yang berbeda karena memiliki kulit lebih gelap, beragama Kristen, serta menggunakan bahasa Belanda.

Karena itulah, Kaum Depok dahulu kerap disebut dengan “Belanda Depok” atau “Belanda Hitam ” yang menggambarkan pandangan masyarakat umum terhadap mereka yang dianggap seolah-olah sebagai orang Belanda.

Peristiwa Gedoran Depok

Ketegangan antara masyarakat pribumi terhadap Komunitas Kaum Depok tercacat pernah terjadi pasca-kemerdekaan Republik Indonesia. Tepatnya pada Oktober 1945 dengan peristiwa yang dikenal sebagai Gedoran Depok. 

Dalam peristiwa ini masyarakat pribumi di sekitar wilayah Depok melakukan berbagai tindakan rasial dengan mengancam, menjarah, dan mengusir kaum Depok dari rumah mereka. Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian penting dari ingatan sejarah Kaum Depok. 

Lewat museum Historische Studio inilah generasi keturunan Kaum Depok berupaya mengenalkan dan menceritakan kembali sejarah tersebut dari sudut pandang mereka.

Selain menyimpan foto dan dokumen sejarah, museum ini juga menyimpan berbagai benda yang pernah digunakan dalam kehidupan masyarakat Kaum Depok di masa lalu.

Salah satunya dokumentasi Wasiat Cornelis Chastelein yang ditujukan kepada 12 marga Kaum Depok. Foto dan lukisan yang menggambarkan aktivitas Kaum Depok pada masa kolonial hingga berbagai koleksi benda kuno lainnya.

Di antaranya sepeda kayu dari era 1930-an, peralatan rumah tangga, buku dan catatan lama, piala sepak bola era 1960-1970-an, alat bajak sawah, hingga alat memasak dodol yang disebut berasal dari era 1800-an.

Benda-benda tersebut memperlihatkan kehidupan masyarakat dari masa ke masa, sekaligus menjadi pelengkap dokumentasi sejarah yang tersimpan di museum.

Dilengkapi Tiga Ruang Pameran

Historische Studio sendiri memiliki tiga ruang pameran yang masing-masing mengangkat bagian berbeda dari sejarah Kaum Depok.

Ruang Cornelis Chastelein mengisahkan kedatangan Chastelein ke Hindia Belanda, kariernya di VOC, pembelian tanah dan orang-orang yang diperbudaknya hingga wasiat yang menjadi dasar terbentuknya Komunitas Kaum Depok.

Lalu ada Ruang Scheurkogel yang mengambil nama Pendeta J. Scheurkogel, tokoh yang berinisiatif membangun rumah pendeta bagi komunitas Kristen pertama di Depok. Di lokasi tersebut kini berdiri Gereja GPIB Immanuel.

Sedangkan ruang Zadokh mengenang salah satu dari 12 keluarga Kaum Depok. Nama keluarga tersebut dipilih karena tidak lagi memiliki keturunan yang meneruskannya.

Saat ini, Historische Studio masih terus dikembangkan sebagai museum. Selain akan menambah ruang pamer, pengelola juga akan terus melengkapi koleksi dengan berbagai dokumen, foto, maupun cerita keluarga lainnya tentang Kaum Depok. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar