Mabur.co – KRT Manu J. Widyaseputra, adalah filolog Jawa kuno dan Sansekerta lulusan Universitas Gadjah Mada. Selain itu juga menyelesaikan studi di Rijksuniversiteit Leiden, Rijksuniversiteit Utrecht, Rijksuniversiteit Groningen, Nederland, dan University of London, S.O.A.S, London, Inggris.
KRT Manu J. Widyaseputra atau Romo Manu, filolog Jawa kuno dan Sansekerta asal Yogyakarta tersebut, meninggal dunia pada Senin (5/10/2026) usia 66 tahun, pukul 17.13 WIB.
Sahabat Romo Manu, Hangno Hartono menuturkan, merasa sangat kehilangan.
“Saya kehilangan seorang analis dan peneliti naskah Jawa kuno yang langka. Romo Manu rencananya akan dimakamkan Rabu (7/10/2026) di pemakaman keluarga Semoyan, Kotagede, pukul 10.00 WIB,” ucapnya, Selasa (6/10/2026).
Hangno Hartono kembali menuturkan, mengenal almarhum adalah seorang peneliti naskah-naskah kuno dan Sansekerta.
Kuasai Banyak Bahasa
Romo Manu semasa hidupnya juga dikenal menguasai berbagai bahasa kuno yakni Sansekerta, Arab, Latin, Yunani, serta bahasa asing modern yakni Inggris, Belanda, Jerman dan Prancis.
Selain itu, Romo Manu juga kuasai sembilan bahasa daerah, serta tercatat sebagai anggota peneliti Mahabharata dan Ramayana internasional.
“Romo Manu merupakan sosok filolog Jawa yang amat langka dan memiliki analisis kritis yang berbeda dari filolog Jawa kuno lainnya,” ucapnya.

Romo Manu di Mata Dosen UIN
Sementara itu, Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Muhammad Bagus Febriyanto, M. Hum mengatakan, mengenal Romo Manu sebagai dosen.
Romo Manu mengajar bahasa Jawa kuno dan bahasa Sansekerta.
“Dari pandangan saya beliau orang yang tekun dan konsisten dalam menekuni bidang filologi Jawa kuno,” ujarnya, Selasa (6/10/2026).

Muhammad Bagus Febriyanto juga mengungkapkan, bagi anak sekarang Romo Manu bisa dibilang dosen killer dalam urusan nilai.
“Tapi, sebenarnya itu adalah idealismenya untuk mengajarkan kepada mahasiswa agar kuliah bukan mencari nilai semata. Tetapi mencari ilmu dan pemahaman akan materi perkuliahan yang sempurna,” ucapnya.
Menurut Muhammad Bagus Febriyanto pula ia mendapatkan ilmu tentang idealisme dalam menjalankan dharma sebagai dosen. Memberikan nilai harus jujur sesuai dengan kemampuan mahasiswa.
“Karena dengan kejujuran itu, kita sejatinya tidak meninabobokan mahasiswa dalam prestasi nilai, tetapi melatih mahasiswa dalam prestasi ilmu,” ucapnya. ***
