Mabur.co – Kalau Keraton Yogyakarta lahir 1756, Masjid Gedhe Kotagede lahir jauh lebih dulu, 1587. Masjid Gedhe adalah peletak dasar bagi kota ini. Awalnya bukan masjid, tapi hutan.
Alas Mentaok yang lebat, wilayah Kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya. Hutan itu dihadiahkan kepada Ki Ageng Pemanahan karena jasanya mengalahkan Aryo Penangsang.
Di hutan itu Pemanahan membuka padukuhan baru bernama Mataram, dan mendirikan sebuah langgar kecil sekitar 1568-1575.
Tiga tahun setelah Pemanahan wafat, putranya Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati mengembangkan langgar itu menjadi masjid. Babad Momana mencatat tahun 1511 Jawa/1589 Masehi.
Pemanahan Islam, Disambut Hindu-Buddha
Takmir Masjid Gedhe, Warisman, menuturkan, kisah yang diwariskan turun-temurun di Sayangan RT 04 Jagalan, Banguntapan, Bantul: “Hutan dihibahkan sebagai hadiah kepada Ki Ageng Pemanahan, ayah dari Panembahan Sutawijaya. Dan mulai dibangunlah hutan tersebut sebagai tempat hunian bagi warga sekitar,” ujarnya di pelataran masjid, seperti dikutip Gudeg.net.
“Sebagai tempat penyebaran Islam maka dibutuhkan sebuah tempat, maka berdirilah Masjid Gedhe Mataram Kotagede di mana akan menjadi pusat segala kegiatan penyebaran agama yang bernapaskan Islam kental,” lanjutnya. Yang menarik bukan hanya siapa pendirinya, tapi siapa yang membangun.

Pemanahan datang dari Pajang melewati Prambanan, disambut komunitas Hindu-Buddha. Mereka ikut pindah ke Mentaok. Maka pembangunan dibagi.
Orang Islam membangun liwan: ruang utama 14×14 meter bertopang 4 saka guru, atap tajug tumpang tiga lambang gantung, orang Hindu membangun pagar keliling, dan gapura paduraksa bergaya candi.
Pesan Senopati, Bangunan Fisik Tak Boleh Diubah Kecuali Roboh
Di depan serambi masih ada jagang: kolam kecil untuk wudu kaki, simbol penyucian sebelum masuk.
Sultan Agung pada 1611 menambah serambi, Paku Buwono X pada 1926 membangun kembali setelah kebakaran 1919. Tapi pesan Senopati tetap dipegang, bangunan fisik tidak boleh diubah kecuali roboh.
Masjid ini juga induk dari konsep Catur Gatra Tunggal yang diajarkan Sunan Kalijaga, guru Senopati: keraton sebagai nilai kepemimpinan, masjid sebagai nilai ketuhanan, alun-alun di timur masjid sebagai nilai sosial-budaya, dan pasar di utara sebagai nilai ekonomi.
Yogyakarta sebagai Kota Akulturasi
Filosofi itu masih hidup sampai Kotagede Yogyakarta-Surakarta jadi tanah pusaka bersama dua keraton. Ada mitos yang masih dipercaya warga.
Di halaman ada pohon beringin tua bernama Wringin Sepuh. Konon jika bertapa di bawahnya dan kejatuhan dua helai daun, satu telungkup, satu telentang, keinginan akan terkabul.
Di sisi utara, Sendang Seliran, pemandian putri-putri keraton, airnya dipercaya membawa jodoh. Dibangun oleh murid Sunan Kalijaga, di atas tanah Hindu, oleh tangan Hindu-Islam, bersama Masjid Gedhe Mataram adalah bukti pertama bahwa Yogyakarta sejak awal adalah kota akulturasi, bukan kota yang murni satu agama. ***
