Mengenal Wijayakusuma Pohon Sakral di Keraton Yogyakarta, Simbol Kejayaan Raja 

5 Min Read
Large tree in a courtyard with a decorative crest in the upper-left and the words Ngayogyakarta Hadiningrat overlaid.
Pohon wijayakusuma di kompleks Keraton Yogyakarta. (Foto: kratonjogja.id)

Mabur.co –  Pohon atau tanaman memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam tradisi Keraton Yogyakarta. Hal itu terlihat dari banyaknya jenis pohon yang ditanam lingkungan keraton, mulai dari kawasan Tugu hingga Panggung Krapyak yang merupakan sumbu filosofis Yogya.

Tak hanya menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap alam serta penghias dan peneduh alami lingkungan, pohon juga menjadi simbol-simbol kehidupan yang menyimpan ajaran dan nilai luhur dalam tradisi kehidupan masyarakat Jawa.

Syarat Raja Baru Dilantik

Dari sekian banyak tanaman atau pohon yang ditanam di lingkungan Keraton Yogyakarta, ada salah satu pohon yang sangat istimewa. Bagian dari pohon itu sejak lama bahkan digunakan sebagai syarat seorang raja yang baru dilantik, agar bisa mencapai puncak kejayaannya.

Pohon itu adalah wijayakusuma keraton. 

Dilansir dari situs resmi Keraton Yogyakarta, Rabu (7/10/2026), pohon wijayakusuma atau yang memiliki nama ilmiah Pisonia grandis bisa ditemukan di kompleks inti bangunan keraton yakni Sri Manganti. 

Bukan tanpa alasan pohon wijayakusuma ditanam di area penting bangunan tempat raja menyambut para tamu agung serta lokasi menyimpan koleksi pusaka keraton. 

Sulit Dibudidayakan

Tanaman yang juga memiliki nama kol banda ini termasuk tanaman langka yang sangat sulit ditemukan. Selain hanya tumbuh di lokasi-lokasi tertentu yang sangat terpencil, pohon ini juga sulit dibudidayakan.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Kehutanan, wijayakusuma merupakan spesies tanaman pantai tropika yang hanya bisa dijumpai di pulau-pulau karang. Pohon ini kerap tumbuh alami di kawasan pesisir Samudra Hindia dan Indo Pasifik. 

Di habitat alaminya, saat ini kol banda atau wijayakusuma keraton bahkan disebut hanya menyisakan 2 individu dan tumbuh di dua pulau karang kawasan Nusakambangan, yakni Pulau Majeti dan Pulau Wijayakusuma.

Dua pulau karang tersebut berjarak sekitar 150 meter dari tepi pantai Pulau Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah. 

Close-up of pale green, tiny flowers clustered at the tip of a stem with glossy green leaves nearby
Bunga Wijayakusuma (Foto: ksdae.kehutanan.go.id)

Meski begitu baru-baru ini Tim BKSDA Jawa Timur sebagaimana dilansir situs resmi Kementerian Kehutanan mengaku baru saja menemukan spesies lain di kawasan Cagar Alam Pulau Nusa, Desa Teluk Jati Dawang, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Tak hanya 1 individu, melainkan sebanyak 27 individu. Tanaman istimewa yang sangat langka dan dikeramatkan itu diketahui tumbuh di lokasi yang sangat ekstrem. 

Bagaimana tidak, Pulau Nusa merupakan pulau mungil yang hanya memiliki luas sekitar 3,2 hektare. Lingkungannya sangat tidak mendukung untuk tempat hidup tanaman. Karena pulau ini hanya terdiri dari bebatuan karang, tanpa tanah, tanpa aliran sungai, dan terus menerus dihantam ombak besar.

Meski begitu, pohon wijayakusuma keraton tetap dapat tumbuh kokoh bahkan menjadi penyambung dan pelindung kelangsungan ekosistem pulau-pulau kecil di kawasan tersebut. 

Tajuknya yang lebar dan memiliki banyak cabang merupakan tempat ideal bagi burung-burung laut untuk hinggap dan bersarang. Akarnya sangat kuat hingga mampu mencengkeram, menembus, dan memecah bebatuan karang keras di bawahnya. 

Karena tumbuh di tempat yang tak ada tanah, pohon ini memilih hidup dari bagian dirinya sendiri. Yakni dengan memanfaatkan daun-daunnya yang kering dan berguguran, hingga akhirnya terurai dan menjadi substat sekaligus humus alami.

Keunikan pohon ini juga terletak pada bijinya yang lengket. Hal itu membuat biji itu kerap menempel pada bulu atau kaki burung laut, sehingga memudahkannya tersebar ke tempat lain di sepanjang pesisir.

Vegetasi wijayakusuma keraton kerap kali juga ditemukan berdekatan dengan koloni burung laut. Hal ini menciptakan simbiosis mutualisme bagi keduanya. Berkat keberadaan pohon inilah burung-burung laut dapat tinggal dan bersarang. 

Pun sebaliknya, berkat burung-burung itulah, pohon wijayakusuma bisa menyebarkan bijinya dan mendapat kotoran burung untuk memperkaya nutrisi pada pulau karang yang miskin unsur hara. 

Hubungan itulah yang membentuk siklus alami di Pulau Nusa. Pohon wijayakusuma tumbuh sebagai penjaga pulau, yang menstabilkan substrat, menahan abrasi, dan menyediakan pakan sekaligus habitat bagi kehidupan lain.

Dianggap Sangat Sakral dan Istimewa

Mungkin karena itulah pohon wijayakusuma keraton dianggap sangat sakral dan istimewa. Yakni sebagai simbol kekuatan, keteguhan, kemandirian, kebijaksanaan, pengayoman, penjaga serta kejayaan dan kemakmuran. 

Bunganya yang konon sangat harum dan hanya mekar di malam hari bahkan dipercaya dapat memberikan kehidupan abadi dan membawa aura sakral bagi siapa pun yang menyaksikannya. 

Reinier de Klerk, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang memerintah antara 1777–1780 bahkan menyebut utusan kerajaan di Jawa akan mencari bunga kol banda atau wijayakusuma ini di Segara Anakan setiap menyampaikan ada raja baru sebagai perlambang kemakmuran dan kemajuan pemerintahan. *** 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar