Mabur.co – Kalau kita berdiri di Alun-alun Utara keraton dan tarik garis lurus ke timur, akan bertemu air. Itulah sungai atau Kali Code.
Dalam Babad Giyanti dan catatan pembangunan keraton, lokasi Keraton Yogyakarta memang sengaja dipilih di antara dua sungai.
“Keraton Yogyakarta yang berdiri kokoh hingga saat ini menempati posisi yang sangat strategis. Terdapat batas-batas alam berupa Kali Code di sebelah timur dan Kali Winongo di sebelah barat,” tulis kajian sejarah keraton.
Bahkan rencana awalnya lebih presisi.
“Rencana keraton dibangun di kawasan hutan Beringin, di antara Kali Code dan Kali Winongo,” seperti dituturkan dalam arsip Visit Jogja tentang titik nol Ambarketawang.
Jadi Code bukan sekadar sungai. Ia adalah benteng air keraton. Dalam kosmologi Jawa, keraton dianggap suci karena diapit enam sungai simetris yaitu Code, Gajah Wong, Opak, Winongo, Bedhog, dan Progo.
Code Sisi Sangkan, Sisi Lahirnya Matahari
Code adalah sisi timur, sisi lahirnya matahari, sisi sangkan. Esok pagi kalau kamu menyusuri bantaran Code dari Jembatan Gondolayu ke Sayidan, kamu akan dengar dua versi cerita yang hidup berdampingan.
Versi pertama adalah mitos yang diceritakan turun-temurun.
“Tiap kali Gunung Merapi mau meletus, kereta yang membawa Nyai Roro Kidul dan pengiringnya selalu melewati Kali Code menuju Merapi. Terdengar suara gemerincing pada saat kereta itu lewat,” tutur seorang nenek dalam catatan sastra warga UGM yang tinggal di bantaran Code. Itu sejalan dengan Sumbu Imajiner.
Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, HY Aji Wulantara, pernah menjelaskan dalam Festival Garis Imajiner 2017 di bantaran Code: “Garis imajiner merupakan salah satu penanda istimewa DIY. Garis bayangan tersebut merupakan garis penghubung antara Gunung Merapi, Keraton, dan Pantai Selatan.”
Festival itu sendiri sengaja digelar di Code, di Blunyah Gede, Sinduadi, untuk mengingatkan bahwa Code adalah urat nadi garis itu.
Kisah Gubuk Kardus dan Banjir 1982
Versi kedua adalah sejarah modern yang lebih perih. Pada 1970-an, Code dipenuhi sampah. Hingga banjir 1982 menyapu gubuk kardus. Di sinilah masuknya Romo Mangunwijaya.
“Lalu kita tahu namanya Romo Mangun. Waktu itu Romo Mangun sering ke sini, bicara kepada warga soal idenya untuk membangun rumah yang lebih layak,” kenang Joko Santoso, 52, warga Code yang tinggal sejak 1978, dilansir dari detikTravel.
Sejak 1983-1985, bersama mahasiswa ASRI (kini ISI), ia membangun rumah panggung warna-warni yang kini jadi ikon.
“Dilihat dari atas jembatan bagus sekali. Muralnya yang desain mahasiswa ASRI, warga yang ngecat,” kata Joko.
Jadi malam ini, ketika WJNC lewat Malioboro, ingatlah: tanpa Code di timur, keraton tidak akan punya parit. Tanpa Romo Mangun, Code tidak akan punya warna. ***
