Di depan Jasad Sultan Hamengku Buwono IX, Empat Pasangan Menikah Bersama

3 Min Read
Funeral altar: framed photo of a man on a decorated bier, draped with garlands and beads, mourners nearby.
Prosesi pemakaman Sultan Hamengku Buwono IX. Foto: Istimewa

Mabur.co – Momen pernikahan tentunya menjadi momen spesial seumur hidup. Karena hal itu pulalah biasanya akan dipersiapkan secara matang.

Kisah Nikah Darurat di Kanada

Namun, hal ini justru tak berlaku bagi pasangan asal Kanada yang tengah viral baru-baru ini. Pasangan bernama Sky Howard dan Clay Cameron harus melakukan pernikahan darurat lantaran kondisi nenek Clay, Charlotte Bussard mulai menurun.

Tak hanya di Kanada saja, di Indonesia pernah juga terjadi pernikahan darurat karena tak ingin ketinggalan momen bersama orang terkasih.

Kisah Nikah Darurat ala Keraton

Ini terjadi saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat pada 3 Oktober 1988 silam. Raja Yogya yang dinobatkan pada 1940 ini mangkat pada usia 76 tahun.

Pada Jumat, 7 Oktober 1988, empat putra Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yakni Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Pakuningrat (putra ke-12), GBPH Yudaningrat (putra ke-13), GBPH Condroningrat (putra ke-14), dan GBPH Cakraningrat (putra ke-15), menikah bersama-sama dengan calon istri mereka di hadapan jenazah sang ayah.

Pernikahan tersebut berlangsung di Bangsal Kencono, Keraton Yogyakarta, tempat yang biasanya digunakan untuk urusan pemerintahan.

Empat Pasangan Menikah Bersama

Dalam pernikahan yang tidak lazim ini, Pakuningrat (Bendara Raden Mas atau B.R.M. Anindito) menikahi Nurita Afridiana, Yudaningrat (B.R.M. Sulaksmono) dengan Endang Hermaningrum, Condroningrat (B.R.M. Abiromo) dengan Hery Iswanti, dan Cakraningrat (B.R.M. Prasasto) mempersunting Laksmi Indra Suhardjono.

Awalnya, mereka berencana menikah pada 5 November 1988, namun karena sang ayah wafat, acara dipercepat.

Jika tidak, mereka harus menunda pernikahan hingga 1.000 hari, sesuai kepercayaan sebagian orang Jawa yang melarang pernikahan sebelum tiga tahun sejak kematian keluarga.

Pada hari itu, jenazah Sultan terbaring dalam peti mati berselimut bendera Merah Putih menghadap utara. Penghulu keraton, Kiai K.R.T. H.M. Wardan Diponingrat, bersama tujuh pegawai KUA, memimpin acara di bangsal.

Setelah memberi penghormatan, keempat pasangan calon pengantin pun naik ke bangsal untuk melangsungkan pernikahan.

Pukul 10.30, prosesi pernikahan dimulai. Para wali dari mempelai wanita menghadap penghulu, menyerahkan anak-anak mereka untuk dinikahkan.

Keris Pusaka Pengganti Sultan

Setelah itu, para pengantin pria secara bergiliran memegang keris pusaka.

“Keris itu sebagai saksi pengganti Sultan,” kata Ki Djutu Pramana, penasihat spiritual keraton, dikutip, Tempo.co, Kamis (8/10/2026).

Sementara itu, Raden Ngabdul Badri, wedana punakawan haji keraton, menjelaskan, keris pusaka yang digunakan adalah keris Joko Piturun, simbol kekuasaan Sultan.

Namun, beberapa anggota keluarga meragukan hal ini karena mereka sendiri tidak yakin.

“Selama prosesi akad nikah, satu-satunya suara yang memecah kesunyian di Bangsal Kencono adalah suara penghulu, wali mempelai wanita, dan saksi, yang semuanya berbicara dengan lembut,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar