Setelah 69 Tahun, Keraton Mangkunegaran Kembali Jadi Lokasi Misa Umat Katolik 

4 Min Read
Priests in white robes perform a Catholic mass at an ornate altar, surrounded by lit candles and a gathered worshippers crowd.
Pelaksanaan Misa Syukur di kompleks Keraton Mangkunegaran pada Rabu (7/10/2026). (Foto: akun Instagram resmi Keraton Mangkunegaran)

Mabur.co – Momen langka terjadi di Keraton Mangkunegaran, Surakarta. Kompleks sakral kerajaan pecahan Mataram Islam itu digunakan sebagai lokasi perayaan Misa Syukur ribuan umat Katolik.

Peristiwa itu terjadi Rabu (7/10/2026) malam. Sekitar 3.000 umat Katolik dari berbagai paroki di wilayah Kevikepan Surakarta nampak melangsungkan Misa Syukur di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran.  

60 Tahun Pelayanan Kevikepan Surakarta 

Ucapan keagamaan ini digelar dalam rangkaian kegiatan peringatan 60 tahun perjalanan pelayanan Kevikepan Surakarta. 

Perayaan ini menjadi momen istimewa sekaligus langka karena untuk pertama kalinya digelar sejak 1957 atau sekitar 7 dekade silam.

Dilansir dari akun Instagram resmi Keraton Mangkunegaran, Jumat (9/10/2026), perayaan Misa Syukur umat Katolik ini berlangsung khidmad dengan diwarnai pertunjukan tari klasik Golek Ayun-ayun.

Dipimpin Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, rangkaian perayaan Misa Syukur ini juga diisi dengan konser teatrikal bertajuk “Kawula Satuhu” di Pamedan Mangkunegaran.

Line of priests in cream and gold vestments standing in a church, holding hymnals beneath a large chandelier during a ceremony
Pelaksaan Misa Syukur di kompleks Keraton Mangkunegaran pada Rabu (7/10/2026). (Foto: akun Instagram resmi Keraton Mangkunegaran)

Mengangkat tema “Nyawiji, Mawutuh, Andum Berkah” lewat Misa ini umat Katolik ingin menyampaikan pesan tentang persatuan, saling melengkapi, dan berbagi berkat kepada sesama.

Semangat itu sejalan dengan upaya membangun kehidupan masyarakat yang rukun di tengah perbedaan keyakinan dan latar belakang budaya.

Sementara itu dilansir Espos, K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, yang akrab disapa Gusti Bhre, turut hadir dan menyambut baik pelaksanaan Misa Syukur ini. 

Ia mengatakan keterbukaan terhadap masyarakat merupakan bagian dari peran Mangkunegaran sebagai institusi kebudayaan. Yakni dalam menjaga kerukunan dengan saling menghormati keyakinan, dan menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari.

“Merawat kebudayaan juga berarti merawat persaudaraan dalam keberagaman. Kami menyambut keluarga besar Kevikepan Surakarta dengan hangat dan ingin agar masyarakat dari beragam latar belakang merasa diterima serta dihargai di Mangkunegaran,” ujar Gusti Bhre.

Semangat Kerukunan Antar-Umat Beragama

Dengan membuka pintu bagi perayaan ini, Mangkunegaran menegaskan posisinya untuk ikut terlibat dan berperan dalam memberi ruang bagi semangat kerukunan antar-umat beragama.

“Kami berharap Mangkunegaran terus menjadi rumah kebudayaan tempat masyarakat dari beragam latar belakang merasa diterima dan dihargai, serta semakin dekat melalui pengalaman yang dibagikan bersama,” tulis akun resmi Mangkunegaran. 

Priests in liturgical robes standing at an altar with candles and flowers during a church ceremony.
Misa Natal di Keraton Mangkunegaran pada 24 Desember 1957. (Foto: Missienieuws der Nederlandse Jezuiten No. 66 Tahun 1958 via akun Facebook Lengkong Sanggar Ginaris)

Sebagaimana tercatat dalam berbagai sumber sejarah pelaksanaan upacara Misa umat Katolik juga pernah digelar di kompleks Keraton Mangkunegaran sekitar 7 dekade atau pada 1957 silam.

Saat itu Mangkunegaran dipimpin oleh KGPAA Mangkunegara VII. Atas izinnya, umat Katolik di Surakarta diperbolehkan untuk mengadakan Misa Malam Natal di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran tepatnya pada 24 Desember 1957.

Misa Malam Natal yang penuh suasana khidmat dan damai itu dipimpin langsung oleh sosok Mgr. Albertus Soegijapranata, yang di kemudian hari menjadi seorang Uskup Agung pribumi pertama di Indonesia.

Pelaksaan Misa bagi umat Katolik di kompleks Keraton Mangkunegaran yang merupakan pecahan Kerajaan Mataram Islam ini sendiri bisa juga terjadi karena disebut-sebut tak lepas dari pengaruh Permaisuri Mangkunegara VIII, bernama GKP Sunituti yang merupakan seorang umat Katolik yang taat.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar