Menengok Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, Sentra Perdagangan Terbesar di Asia Tenggara

6 Min Read
Red brick ancient tower ruin on a raised platform in a palm-lined courtyard garden
Candi Bahal Portibi di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatra Utara, salah satu peninggalan Sriwijaya. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Sejarah ekonomi Indonesia terbentuk atas lokasi geografis yang terletak di antara persilangan samudra dan benua dunia.

Sumber daya alam yang melimpah berupa hasil tani dan bumi serta penduduk yang tinggal di penjuru kepulauan, membentuk dasar perkembangan negara Indonesia.

Munculnya kontak dengan perdagangan internasional melalui mitra asing yang datang untuk berdagang juga ikut berperan penting dalam perkembangan Indonesia. Berupa kedatangan pedagang dari India, Cina, Arab, dan Eropa yang ikut mengeksplorasi rempah-rempah.

Dilansir dari detik.com, Jumat (9/10/2026), Indonesia adalah salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki sejarah panjang dari zaman prasejarah hingga sejarah.

Sejarah Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya menjadi salah satu dari sekian kerajaan di masa lampau yang didirikan pada abad ke-7. Pada masa perkembangan kerajaan Hindu-Buddha, hubungan kerja sama dalam berdagang antar-kerajaan atau penguasa selalu terjadi. Kegiatan atau hubungan dagang-berdagang ini semakin meningkat pesat pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya pada akhirnya menjadi salah satu masa pemerintahan dengan kemajuan perdagangan yang pesat.

Hubungan kerja samanya tidak hanya didasari oleh kepentingan ekonomi, tetapi juga kepentingan politik, keamanan, agama, dan kepentingan lainnya sehingga hubungan kerja sama yang intensif akan semakin menguntungkan kedua belah pihak.

Kejayaan VOC

Pada awal abad ke-17, Vereenigde Oostindische Compagnie, salah satu perusahaan multinasional pertama dalam dunia, telah mendirikan basis operasional mereka di kepulauan Indonesia untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dunia

Pada 1800, Hindia Belanda merupakan salah satu negara terbesar yang menerima manfaat finansial dari monopoli perdagangan komoditas Nusantara di pasar internasional.

Khususnya melalui hasil tani seperti kopi, teh, kina, karet dan minyak sawit. Serta hasil bumi seperti minyak, batubara, timah dan tembaga.

Hindia Belanda berubah menjadi Republik Indonesia setelah Perang Dunia II. Pada abad ke-14 di Pulau Jawa, tumbuh sebuah kerajaan yang mewarisi peninggalan Kerajaan Singhasari yang bernama Kerajaan Majapahit.

Kerajaan yang lahir dari seorang mantan tahanan yang diberi lahan di sebuah daerah bernama desa maja (kini Mojokerto) ini berawal hanya dari sebuah daerah permukiman yang terletak di pinggir Sungai Brantas.

Kerajaan yang ekonominya dulu hanya digerakkan dari hasil panen pertanian bertanah basah dan kering secara pesat berkembang menjadi kerajaan maritim. Juga sebagai pusat perdagangan dan ekonomi di Nusantara selama berabad-abad.

Menurut sumber Dinasti Ming dengan judul Yingyai Shenglan orang bernama Ma Huan melaporkan perkembangan perekonomian dan perdagangan di Pulau Jawa.

Kegiatan transaksi sehari-hari dalam perekonomian di Pulau Jawa seperti membeli atau menjual barang, membayar pajak dan denda termonetisasi secara parsial menggunakan koin emas dan perak pada abad ke-8.

Juga mulai digunakan secara penuh sebagai alat transaksi seabad kemudian melalui eskavasi artefak berupa Temuan Wonoboyo yang ditemukan di Jawa Tengah.

Memperkuat bukti bahwa Kerajaan Majapahit secara finansial terpenuhi kebutuhan transaksinya melalui kebijakan monetisasi tersebut.

Hasil eskavasi penemuan artefak ini berupa koin emas yang berbentuk benih, mirip dengan jagung, sedangkan koin perak mirip dengan tombol.

Sekitar 1300-an, pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk, terjadi perubahan secara drastis dengan penggantian penggunaan uang koin emas dan perak menjadi koin impor tembaga Cina tunai.

Penemuan Koin Tembaga Cina 10.388 Keping 800 Kilogram

Penemuan koin tembaga Cina Kuno sebanyak 10.388 keping oleh seorang warga di Kabupaten Sidoarjo dengan berat mencapai 800 kg pada bulan November 2008 yang diteliti oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Indonesia (BP3I) Jawa Timur menyatakan bahwa koin-koin tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Perubahan alat transaksi ini memang tidak pernah dijelaskan di berita mana pun. Terdapat anggapan bahwa seiring dengan makin kompleksnya perkembangan ekonomi di Pulau Jawa, dan keinginan untuk memiliki mata uang dengan sistem yang jauh lebih kecil, maka digantikanlah alat transaksi emas dan perak menjadi tembaga.

Prasasti Canggu

Terdapat beberapa catatan mengenai perekonomian yang diambil dari prasasti dan data. Prasasti Canggu pada 1358 menyebutkan, terdapat sebanyak 78 lalu lintas penyeberangan laut antar-pulau di dalam negeri Nusantara.

Keberhasilan Majapahit berkembang hingga menjadi salah satu kerajaan yang makmur dan sejahtera karena dua faktor utama.

Pertama, dataran rendah Pulau Jawa yang terletak di Timur Laut cocok untuk dijadikan lahan pertanian konsumsi seperti padi dan budidaya berbagai tanaman konsumsi serta komoditas yang mampu menjadi pendapatan utama kerajaan.

Terdapat pula proyek-proyek irigasi yang secara signifikan berpengaruh pada pertumbuhan permintaan tanaman komoditas tersebut.

Kedua, pelabuhan-pelabuhan di pantai utara secara aktif dimanfaatkan oleh kerajaan untuk memasarkan dan memperdagangkan komoditas hasil tani serta bumi yang dipanen.

Serta memiliki jaringan transportasi laut yang frekuensinya banyak dan terjangkau di semua daerah Nusantara. Memungkinkan Majapahit memperluas wilayah kekuasaannya dengan mudah.

Diikuti dengan kemudahan akses untuk mendapatkan rempah-rempah dari Kepulauan Maluku yang melewati Jawa sehingga menjadi sumber pendapatan penting bagi Majapahit.

Dalam Kakawin Nagarakretagama, Majapahit yang terkenal menarik para pedagang asing dari jauh seperti India, Khmer, Siam, dan Cina untuk berdagang di Majapahit.

Sementara di periode selanjutnya, dalam berita Cina yang berjudul Yingyai Shenglan disebutkan bahwa sebagian besar dari pedagang Cina dan pedagang-pedagang Muslim dari Barat (tepatnya Arab dan India, sebagian besar dari kerajaan Muslim di Sumatra dan Semenanjung Malaya) menetap di kota-kota pelabuhan Majapahit, seperti Tuban, Gresik dan Hujung Galuh (Surabaya).

Pajak dikenakan terhadap beberapa orang asing, seperti mereka yang membuka usaha dan melakukan kegiatan perdagangan luar negeri.

Kerajaan Majapahit pun memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Cina era dinasti Ming, Annam dan Champa, Kamboja. Serta Siam Ayutthayan, Burma Martaban, dan India selatan (Wijayanagara). ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar