Mabur.co – Tak banyak orang tahu Ndalem Pujokusuman adalah bekas markas perang. Kebanyakan orang hanya tahu bahwa Ndalem Pujokusuman adalah tempat berlatih tari.
Dikutip mabur.co dari laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Jumat (9/10/2026), berawal dari semangat juang 30 orang pemuda Pujokusuman yang bersepakat dan berikrar, jika sampai Belanda masuk dan menduduki Kota Yogyakarta, mereka bersama-sama akan keluar kampung Pujokusuman untuk membentuk pasukan guna melawan dan mengusir penjajah Belanda.
GBPH Poedjokoesoemo yang merupakan putra Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, akhirnya membentuk Pasukan Hantu Maut.
Pasukan Hantu Maut. Pasukan ini bukan lelembut dari alam lain yang hendak membuat bulu kuduk merinding.
Pasukan Hantu Maut adalah pasukan gerilyawan yang berasal dari pemuda kampung Pujokusuman, Brontokusuman, Prawirotaman, dan Karang Kajen. Pasukan ini ditugaskan untuk melawan pasukan Belanda di Yogyakarta.
Pasukan Hantu Maut dibentuk setelah Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengadakan serangan ke kota Yogyakarta yang kedua pada 9 Januari 1949.
Bergerak Senyap
Hantu Maut sendiri berarti pasukan perlawanan sebagai hantu yang akan memberi dan menyebarkan maut bagi tentara pendudukan Belanda.
Pasukan Hantu Maut ini awalnya bernama pasukan gerilya Samber Gelap dengan modal tujuh pucuk senjata yang merupakan hasil rampasan ketika rakyat Yogyakarta melucuti senjata pasukan Jepang pada 7 Oktober 1948 di Kota Baru.
Sebagian pemuda dari kampung Keparakan Lor dan Keparakan Kidul turut bergabung ke dalam pasukan Samber Gelap.
Anggota pasukan Samber Gelap kemudian disebar masuk ke kota untuk mengambil dan mencari senjata-senjata yang masih tertinggal di kota dan berhasil mendapatkan 11 pucuk senjata.
Serangan Belanda pada Agresi Militer II 1948 di Yogyakarta memicu perlawanan oleh Indonesia, khususnya pemuda Yogyakarta.
Salah satunya oleh pasukan Hantu Maut. Pasukan ini pun tak sendiri dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda di Yogyakarta.
Pada saat itu, pasukan-pasukan lain pun ikut melakukan perlawanan terhadap Belanda dalam usaha pendudukan di Yogyakarta, namun pasukan Hantu Maut dikenal paling militan.
Mengecoh Tentara Belanda
Peran pasukan ini adalah melakukan gangguan-gangguan terhadap tentara Belanda selama Jenderal Soedirman melakukan perang gerilya.
Pasukan Hantu Maut merupakan pasukan yang berdiri di bawah Pasukan Polisi Pelajar Pertempuran (P3). Pasukan P3 ini merupakan kompi bentukan dari Mobile Brigade Besar Djawatan Kepolisian Negara.
Pemimpin dari Pasukan P3 adalah Inspektur Polisi II Djohan Soeparno. Sedangkan, mayoritas anggota dari Pasukan P3 adalah siswa Mobile Brigade yang sedang melakukan penataran dan bermarkas di Sekolah Polisi Negara Ambarukmo.
Kemudian, Pasukan P3 sendiri memiliki beberapa regu di bawahnya. Regu-regu ini adalah Regu Kairun, Regu Sugiman, Regu Supardal, Regu Baging, Regu Sukijo, Regu Mujo, Regu Sumarto, Regu Suharto, Regu Pengawal, dan terakhir adalah Regu Hantu Maut.
