Mabur.co – Di tengah padatnya permukiman Kota Yogyakarta, padi tumbuh bukan di hamparan sawah, melainkan di dalam galon bekas air minum.
Pemandangan itu terlihat di lahan seluas 1.000 meter persegi di Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Deretan galon bekas berdiri di atas lahan yang dimanfaatkan Kelompok Tani Swa Katon Asri untuk mengembangkan pertanian dengan konsep urban farming.
Ditanam di Dalam Galon Bekas
Di lahan tersebut, warga menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari cabai, terong, tomat, hingga sayuran. Ada pula padi jenis Inpari 32 yang ditanam di dalam galon bekas.
Salah satu anggota Kelompok Tani Swa Katon Asri, Murharjo, menceritakan bahwa awalnya kelompok tani ini hanya menanam sayur mayur yang sudah dijalankan selama 3 tahun.
“Untuk padi dengan media galon bekas ini kami mulai baru 3 bulan lalu. Dalam praktiknya, kami juga dibantu oleh Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta,” jelasnya, Jumat (9/10/2026).
Muharjo mengatakan, padi yang ditanam, adalah jenis Hibrida 32. Padi ini memiliki masa panen 110 hari.
“Perawatannya mudah sekali. Perawatannya begitu kita tanam yang penting airnya tidak berlebihan,” urainya.

Muharjo mengatakan, hingga dipanen hari ini, ia pun mengaku belum menemukan kelemahannya. Bahkan menurutnya, bulir padi yang dihasilkan pun gemuk-gemuk.
Seratusan Galon Siap Panen
“Di lahan Kelompok Tani Swa Katon Asri ini terdapat seratusan galon berisi padi yang sebentar lagi siap panen,” ucapnya.
Menurut Muharjo, dulu warga mendapatkan pelatihan dan bantuan bibit dari dinas pertanian. Namun, ketika dibawa pulang ke rumah masing-masing dan ditanam, bibit sayur-mayur itu malah mati.
“Terus kita buat komunal dijadikan satu. Kebetulan di sini ada tempat, dikumpulkan di sini itu 2024 (lahan milik Nugroho). Ternyata dikumpulkan di sini, tanamannya malah hidup karena dipelihara bersama-sama,” ucapnya.
Muharjo menjelaskan, galon sengaja tidak diberi lubang agar air tidak keluar dan terbuang. Media untuk menanam padi ini adalah tanah dan pupuk kandang.
“Ternyata kalau kita penggunaan airnya pas, tidak terlalu basah, juga tidak terlalu kering, itu padinya juga akan tumbuh optimal,” katanya.
Padi Inpari 32 memiliki masa panen sekitar 110 hari. Galon-galon berisi padi ini disiram sekitar dua hari sekali. Air tersebut berasal dari bekas limbah lele yang juga diternak warga.
“Kita menggunakan media itu dengan pupuk kandang cuma di awal saja. Jadi pupuk kandang, tanah. Tanah kita olah sebetulnya kayak kita saring. Kalau di sini banyak batu karena tanah ini bekas galian sebetulnya, pemanfaatan. Kalau kita di sini tanah beli,” ujarnya.
Muharjo mengatakan lagi, satu galon bisa menampung sekitar 40 malai padi. Setelah dihitung, satu galon mampu menghasilkan 88 gram gabah.
“Galon ini ada 120 galon (di sini). Sekitar 9-10 kilogram (gabah),” katanya.
Dijual kepada Warga Sekitar dengan Harga yang Murah
Hasil panen ini kemudian dijual kepada warga sekitar dengan harga yang lebih murah daripada harga pasaran. Hal ini sudah dilakukan sejak lama untuk sayur-mayur seperti tomat, sawi, hingga terong.
“Jualnya ke masyarakat sini juga. Jadi kan kita kerja sama dengan kampung, ketua kampung, RT, RW. Nah, nanti jual ada grupnya toh itu? ‘Pak, ini sudah siap panen’, nanti dari grup pengurus itu sudah ada WA gitu, ‘Ini siapa yang ibu-ibu mau panen?’. Kayak lele juga gitu, kalau kita siap panen di grup aja udah banyak yang nge-list pesan sekilo, dua kilo,” katanya. ***
