Katangka di Gowa Makassar, Masjid 422 Tahun yang Abadi di Bawah Pohon

3 Min Read
Black-and-white photo of a colonial-style building with a small tower, gated entrance, and palm trees in the background.
Masjid Katangka, masjid tertua di Sulawesi Selatan. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Di Gowa, masjid tertua tidak dicari lewat GPS, tapi lewat pohon. Namanya katangka. Di Jalan Syekh Yusuf No 57, Somba Opu, masjid itu berdiri dengan dinding setebal 120 cm, seperti benteng. Usianya 422 tahun.

“Masjid Al Hilal atau lebih dikenal dengan nama Masjid Katangka merupakan masjid tertua di Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid ini dibangun pemerintahan Raja Gowa XIV I Manga’rangi Daeng Manrabbia (Sultan Alauddin I) pada 1603,” tulis Suara Masjid.

Kenapa dinamai Katangka? Jawabannya ada di Jumat pertama Islam di Sulsel. Menurut Harun Daeng Ngella, penjaga Masjid Tua Katangka, di masjid inilah ajaran agama Islam pertama kali disebarkan di Sulawesi Selatan.

Lokasi berdirinya Masjid Katangka dahulu merupakan tempat salat rombongan ulama dari Yaman yang mengembara ke Sulawesi untuk menemui Raja Gowa dan mensyiarkan Islam. Mereka singgah melaksanakan salat Jumat di tempat yang kini menjadi masjid ini.

Jumat Pertama di Gowa

Imam masjid yang kini berusia 71 tahun, H. Maddatuang Dg. Pabe, menuturkan lebih rinci: “Pada saat salat Jumat selesai digelar, rombongan yang berjumlah empat puluh pengikut itu naik untuk menemui Raja Gowa di Tammalatea.

Mereka mengadakan perbincangan dengan raja. Mengajukan permohonan kepada raja untuk membangun tempat peribadatan,” ungkap imam masjid tertua di Sulawesi itu.

Raja Gowa saat itu belum Islam, tapi mengizinkan. Dari kayu pohon katangka itulah masjid pertama dibangun.

Kayu itu masih ada di kuda-kuda atap hingga sekarang. Secara arsitektur, katangka adalah kitab akulturasi. Atapnya tumpang dua susun seperti Masjid Demak dan Joglo Jawa, maknanya dua kalimat syahadat.

Empat tiang utamanya bukan sekadar penyangga.

“Menyimbolkan empat sahabat utama Rasul yaitu Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib,” catat Gontornews.

Tempat Berlindung dari Serangan Kolonial Belanda

Dindingnya campuran batu kapur, pasir, dan putih telur, tebalnya 120 cm.

“Selain itu, Masjid Tua Katangka memiliki tembok tebal yang sengaja dibangun sebagai benteng pertahanan melawan penjajah Belanda. Kala itu, Belanda menyerang Kerajaan Gowa dan masjid inilah yang menjadi tempat berlindung mereka dari serangan penjajah,” tulis Langit7.id.

Yang menarik, di halaman masjid, makam raja-raja Gowa berjejer. Raja yang membangun, Sultan Alauddin, dimakamkan di sampingnya.

Jadi jemaah salat Jumat lewat dulu di antara pusara raja sebelum masuk pintu yang melambangkan 5 rukun Islam.

Mitos warga Katangka, jangan tebang pohon katangka sembarangan. Pohon itu dianggap penjaga. Dulu ada yang mencoba menebang sisa pohon di belakang masjid untuk perluasan, gergajinya patah tiga kali.

Akhirnya dibiarkan tumbuh. Hari ini, Katangka tidak lagi jadi masjid kerajaan, tapi jadi masjid kampung yang didatangi 35 mahasiswa IMM FAI Unismuh untuk study tour.

“Kami pilih tempat ini karena menurut sejarah, pusat penyebaran Islam pertama di Sulsel itu ada di masjid ini,” kata ketua rombongan. Di sinilah Islam pertama kali sujud di Sulsel, bukan di dalam masjid, tapi di bawah pohon.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar