Keterbatasan Sumber Daya, Tantangan Utama Pengembangan Wisata Konservasi di Muara Pantai Trisik 

4 Min Read
Man with a telephoto lens on a tripod crouches by a calm river while a smiling woman stands on a raised wooden platform, holding a microphone or camera.
Pengunjung melakukan aktivitas pengamatan burung di kawasan KTH Tirta Manunggal, Banaran, Galur, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Meski mulai menunjukkan perkembangan positif, upaya pengembangan wisata pengamatan burung atau bird watching di kawasan Muara Pantai Trisik, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo, bukan tanpa kendala. 

Pengembangan wisata yang berbasis pada upaya konservasi ini masih menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan. Salah satunya adalah keterbatasan modal dan belum optimalnya keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi.

Dirintis Swadaya

Surono, pengelola sekaligus Wakil Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Tirta Manunggal, mengatakan sejak dimulai 2 tahun terakhir pengembangan wisata di kawasan Muara Pantai Trisik selama ini dirintis secara swadaya. 

Pihak pengelola hanya mengandalkan dana pribadi serta bantuan program pemerintah atau program corporate social responsibility (CSR) maupun kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi untuk bisa mengembangkan kawasan ini.

Sayangnya, dukungan dari sejumlah pihak itu masih sangat terbatas dan tidak selalu tersedia. Padahal pengembangan wisata berbasis konservasi yang lebih menonjolkan pada wisata minat khusus membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

Bangun Fasilitas Penunjang

Surono sendiri mengaku, telah berupaya mengembangkan wisata pengamatan burung dengan membangun berbagai fasilitas penunjang.

Di antaranya pembangunan jalur trek untuk pengunjung, penyediaan teropong dan kamera, serta perahu untuk mendukung kegiatan pengamatan di kawasan muara.

Namun karena keterbatasan yang ada, saat ini pengelola baru memiliki tiga perahu. Sementara itu, jumlah teropong yang tersedia juga masih sangat terbatas sehingga belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan pengunjung, terutama jika datang secara berkelompok.

Keterbatasan fasilitas tersebut menjadi tantangan bagi pengelola untuk meningkatkan layanan sekaligus memperluas daya tarik wisata Muara Pantai Trisik.

Selain persoalan pendanaan, Surono mengatakan, upaya mengajak masyarakat terlibat dalam pengembangan wisata dan konservasi mangrove juga tidak mudah.

Sebagian masyarakat belum melihat manfaat ekonomi secara langsung dari kegiatan penanaman mangrove, perlindungan habitat, maupun pengamatan burung.

Padahal, menurutnya, pengembangan wisata membutuhkan proses hingga kawasan tersebut dikenal luas dan mampu menggerakkan perekonomian warga.

“Memang butuh waktu. Wisata ini harus terus dikembangkan dan dikenalkan kepada masyarakat luas. Harapannya, nanti ada perputaran ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat sekitar,” katanya, Minggu (11/10/2026).

Surono juga menyoroti masih adanya perilaku warga yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan, seperti membuang sampah ke sungai dan menangkap burung.

Edukasi Lingkungan Bertahap

Karena itu, edukasi lingkungan perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Ia menilai upaya tersebut tidak bisa hanya mengandalkan kelompok pengelola, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.

Dukungan lintas pihak diperlukan agar upaya konservasi berjalan beriringan dengan pengembangan kegiatan wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Surono berharap pengembangan kawasan Muara Pantai Trisik dapat terus berlanjut, terutama melalui perluasan penanaman mangrove dan perlindungan ekosistem muara.

Selain pengamatan burung, kawasan tersebut juga berpotensi dikembangkan untuk wisata susur muara menggunakan perahu. Kegiatan ini sebenarnya sudah mulai dirintis, meski perkembangannya masih mengalami pasang surut.

Wisata memancing juga dapat menjadi pilihan aktivitas lain bagi pengunjung, selama pelaksanaannya tetap memperhatikan kelestarian ekosistem dan tidak merusak habitat satwa.

Peluang Ekonomi Tak Kesampingkan Tujuan Konservasi

Menurut Surono, pengembangan beragam aktivitas wisata berbasis alam diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru tanpa mengesampingkan tujuan konservasi.

Ia juga melihat keberadaan infrastruktur di pesisir selatan DIY sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan wisata kawasan tersebut. Jembatan Kabaranan dan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), termasuk akses Kelok 23 yang menghubungkan wilayah selatan Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul, dinilai dapat mendukung mobilitas wisatawan.

Dengan akses yang semakin terbuka, pengembangan destinasi berbasis alam di pesisir selatan diharapkan semakin berpeluang menarik pengunjung.

Meski demikian, Surono menegaskan pengembangan wisata Muara Pantai Trisik tetap membutuhkan dukungan berkelanjutan. Selain penambahan fasilitas, keterlibatan masyarakat dan kesadaran menjaga lingkungan menjadi faktor penting agar upaya konservasi mangrove serta perlindungan burung migran dapat terus berjalan.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar