Colliq Pujie, Ratu yang Menyalin ‘I La Galigo’, Epos Dunia yang Masyhur

4 Min Read
Portrait of a person seated in an ornate chair, wearing ceremonial, embellished clothing with large medals and jewelry in a black-and-white photo.
Colliq Pujie (Foto: Koleksi Tropen Museum)

Mabur.co – Jika Ratu Shima mendidik dengan hukum dan Kalinyamat mendidik dengan kapal perang, Colliq Pujie mendidik dengan lontara.

Ia tidak memimpin pasukan, ia memimpin huruf. Nama lengkapnya Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa Matinroe ri Tucae. Lahir 1812 di Tanete, Bugis-Barru, Sulawesi Selatan.

Ayahnya La Rumpang Megga, Raja Tanete ke-19 yang jarang di istana karena diintimidasi Belanda. Ibunya yang mengurus negara menyerahkan semua ke putrinya.

Sejak remaja, Colliq Pujie sudah jadi sekretaris istana, bendahara, sekaligus diplomat. Datu’ Tanete, gelar laki-laki, diberikan padanya.

“Colliq Pujie merupakan salah satu pejuang wanita asal Sulawesi Selatan. Namanya terukir dalam sejarah sebagai penyalin naskah Kitab I La Galigo hingga 12 jilid, atau 1/3 dari keseluruhan naskah,” tulis Lintas Parlemen.

Kitab Epos I La Galigo, Panjangnya 6.000 Halaman, 300.000 Baris

I La Galigo itu bukan buku. Panjangnya 6.000 halaman, 300.000 baris, melebihi epos Mahabharata, Ramayana dan Homerus.

UNESCO mengakuinya sebagai Memory of the World 2011. Naskah aslinya tercecer di rumah-rumah bangsawan Bugis, ada yang dimakan rayap, ada yang dijadikan bungkus ikan, dan lain-lain.

Tahun 1852, misionaris Belanda BF. Matthes datang ke Tanete. Ia fasih berbahasa Bugis, tapi tak bisa baca aksara lontara kuno.

Colliq Pujie yang membantunya. Selama 20 tahun, dari 1852-1872, ia menyalin, menyunting, menerjemahkan naskah Bugis kuno ke Bugis baru.

Naskah NBG 188 yang kini di Leiden itulah tulisan aslinya.

“Colliq Pujie-lah yang membantu B.F. Matthes, seorang misionaris Belanda yang fasih berbahasa Bugis waktu itu, selama 20 tahun menyalin naskah Bugis dan epos I La Galigo yang panjang lariknya melebihi panjang epos Ramayana maupun Mahabharata dari India,” tulis Sastra-Indonesia.com.

Pendidikannya tidak formal. Di Tanete berlaku prinsip Bugis: “mau’ni na woroane mua na makkunrai sipa’na, makkunrai mui, mauni makkunrai na woroane sipa’na, woroane mui” – meski dia laki-laki jika sifatnya perempuan dia perempuan, perempuan yang sifatnya laki-laki dia laki-laki.

Jadi 9 dari 20 Datu Tanete adalah perempuan. Colliq Pujie dididik berbahasa Melayu, Arab, dan Belanda.

Akhirnya Menjadi Tahanan Politik Belanda

Karena keberaniannya menentang pajak Belanda, 1857 ia ditangkap jadi tahanan politik, diasingkan 10 tahun di Makassar.

Dipenjara, ia ciptakan Aksara Bilang-bilang, aksara rahasia dari simbol angka Arab dan lontara, untuk kirim surat ke pengikutnya.

Itu enkripsi pertama buatan perempuan Indonesia. Nurhayati Rahman, filolog Unhas yang menyelesaikan disertasinya tentang Galigo di Leiden, bilang: “Naskah yang sebelumnya berbentuk lisan, terdiri atas 50 episode, disalin dan disusun oleh Retna Kencana Colliq Pujie, yang diproses untuk La Galigo jilid 1 sampai 12.

Bupati Barru kini membangun Taman Colliq Pujie dan Museum Colliq Pujie di pusat kota.

“Pembangunan Taman Colliq Pujie juga bertujuan untuk mengenang sejarah dan melestarikan budaya lokal Kabupaten Barru, terutama melalui sosok Colliq Pujie, seorang pahlawan wanita intelektual,” tulis jurnal UNM.

Jika Shima meninggalkan prasasti hukum, dan Kalinyamat meninggalkan meriam di Jepara, Colliq Pujie meninggalkan 12 jilid kertas lontar.

Ia meninggal 11 November 1876 di Lamuru dan dimakamkan di Tucae. Ia Kartini yang tidak menulis surat, tapi menyalin epos dunia agar kita tidak lupa cara membaca langit. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar