Festival Garam Dasun 2026, Lukisan Garam Terbesar di Dunia Siap Tersaji

5 Min Read
Sejumlah seniman membuat lukisan garam terbesar di dunia. (Foto: Instagram @tian_kristiawan)

Mabur.co – Akhir pekan ini, sebuah pemandangan tak biasa akan tersaji di kawasan terpencil pesisir Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Petak-petak sawah yang membentang di sekitar pantai akan disulap menjadi sebuah kanvas raksasa karya lukisan yang indah nan sarat makna.

Mediumnya pun tak sembarangan. Yakni garam yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di desa ini yang mayoritas warganya bekerja sebagai petani garam.

Pemandangan lukisan garam raksasa itu akan tersaji dalam Festival Garam Dasun 2026 bertajuk Lukisan Garam (Meneruskan) Nasirun. 

Sebanyak 20 seniman akan terlibat dan berkolaborasi dalam proses pembuatan karya yang menjadi lukisan garam terbesar di dunia ini.

Kolaborasi ini melibatkan 10 seniman dari berbagai daerah dan 10 seniman-petani garam Desa Dasun. Mereka mengikuti program residensi seni pada 14–17 Oktober 2026.

Mengenal Sejarah dan Pengetahuan Lokal

Selama empat hari, para seniman akan tinggal di rumah-rumah warga untuk mengenal lebih dekat sejarah garam Lasem, proses produksi garam, pengetahuan lokal, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada tambak.

Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, mengatakan residensi tersebut bukan sekadar ruang untuk menghasilkan karya seni. Program ini juga menjadi cara untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang garam dan kehidupan masyarakat pesisir.

“Selain ingin memperluas perspektif lewat para seniman yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi diseminasi pengetahuan. Kami ingin pengetahuan tentang garam menyebar, hidup, ditubuhkan, dan diterjemahkan kembali melalui bahasa seni oleh para seniman bersama warga,” ujarnya dikutip dari Gamamedika, Sabtu (17/10/2026).

Proyek lukisan garam ini sendiri berangkat dari pertemuan maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, dengan para seniman-petani garam Dasun. Dalam pertemuan tersebut, muncul gagasan untuk menciptakan karya bersama yang mengangkat garam dan kehidupan petani.

Nasirun sendiri meninggal dunia pada 1 Agustus 2026. Namun, gagasan yang dirintisnya tetap dilanjutkan melalui Festival Garam Dasun tahun ini sebagai bentuk penghormatan terhadap pemikiran dan warisan kreatif sang maestro.

Bagi petani garam Dasun, kolaborasi tersebut juga membuka cara pandang baru terhadap pekerjaan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Seniman sekaligus seorang petani garam Dasun, Mulyono, mengatakan garam tidak hanya dilihat sebagai barang dagangan, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan dan cerita masyarakat pesisir.

“Melalui lukisan dan kolaborasi dengan para seniman dari berbagai daerah, kami ingin garam tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan, pengetahuan, dan cerita masyarakat petani garam,” ujarnya.

Sarana Menyampaikan Realitas kepada Publik

Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, menambahkan fenomena adanya lukisan garam memiliki dua makna. Selain menjadi ungkapan syukur atas kehidupan yang diwarisi para petani, karya itu juga menjadi sarana untuk menyampaikan realitas yang mereka hadapi kepada masyarakat luas.

“Lukisan garam adalah ungkapan syukur para petani garam atas apa yang telah mereka jalani dan warisi dari kehidupan di tambak. Namun pada saat yang sama, karya ini juga menjadi cara mereka menyuarakan realitas yang mereka hadapi kepada publik,” paparnya.

Sebelumnya, lukisan garam terbesar di dunia juga pernah dibuat masyarakat Dasun pada 2023. Karya tersebut tercatat dalam Rekor Dunia MURI.

Melalui proyek terbaru ini, kolaborasi seni di Dasun berupaya melampaui karya sebelumnya sekaligus memperluas pengenalan garam Dasun melalui pendekatan kebudayaan.

Ada pun seniman yang terlibat dalam proyek seni ini berasal dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Pati, Jatiwangi, Jepara, Jakarta, Lasem, Kediri, dan Rembang. 

Seniman asal Rembang, Kharisma Widya Kartika, berharap residensi tersebut memberinya kesempatan untuk memahami garam Dasun beserta ekosistem yang melingkupinya.

Ia juga ingin mengeksplorasi proses berkesenian secara kolektif dengan garam sebagai medium utama.

Festival Garam Dasun 2026 pun tidak hanya menempatkan seni sebagai hasil akhir, tetapi juga sebagai proses pertemuan antara seniman, petani, pengetahuan lokal, dan pengalaman hidup masyarakat pesisir. 

Melalui kolaborasi ini, tambak garam diharapkan semakin dikenal bukan hanya sebagai tempat produksi, melainkan juga ruang yang menyimpan nilai budaya dan cerita kehidupan.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar