Mengenal Meru, Bangunan Suci Bertingkat yang Banyak Dijumpai di Bali

5 Min Read
Bangunan Meru di Bali (foto : ubudian.id)

Mabur.co – Jika berkunjung ke Bali, kita akan sering menemui bangunan menyerupai candi.

Bangunan itu memiliki atap yang menjulang dengan susunan bertingkat yang semakin mengecil ke arah puncak.

Selain di halaman rumah-rumah warga, bangunan ini juga kerap ditemui di sejumlah pura hampir di setiap wilayah Bali. Bangunan inilah yang dikenal dengan nama meru. 

Lebih dari sekadar arsitektur tradisional, meru menyimpan filosofi tentang gunung sebagai tempat suci sekaligus memiliki fungsi penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu.

Dilansir dari buku Khazanah Budaya Nusantara IX yang disusun Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, dikutip mabur.co, Minggu (18/10/2026), meru berasal dari penggalan kata Mahameru, gunung suci dalam mitologi Hindu yang dipercaya sebagai tempat tinggal para dewa.

Kepercayaan tersebut tercermin dalam bentuk bangunan meru yang menyerupai gunung, dengan bagian bawah lebih lebar dan puncak yang semakin mengecil.

Dalam mitologi Hindu, Mahameru juga berkaitan dengan kisah pencarian amerta atau air kehidupan. Gunung tersebut digunakan para dewa sebagai alat pengaduk lautan, dengan ular sebagai tali pemutarnya.

Konsep gunung sebagai tempat suci inilah yang juga dikenal di Jawa dan Bali.

Gunung Penanggungan di Jawa Timur kerap dipandang sebagai replika Mahameru.

Sementara Gunung Agung di Bali juga dipercaya sebagai tempat bersemayam dewa.

Pandangan ini mempercayai semakin tinggi suatu tempat, semakin dekat pula tempat itu dengan alam kedewataan.

Gunung juga kerap dikaitkan dengan tempat persemayaman roh setelah kematian.

Makna di Balik Jumlah Atap Meru

Salah satu ciri utama meru adalah atap yang tersusun bertingkat. Jumlah tumpangnya beragam, mulai dari tiga, lima, tujuh, sembilan, hingga sebelas tingkat.

Jumlah tersebut memiliki penafsiran filosofis dalam tradisi Hindu Bali.

Selain terkait penafsiran keagamaan, jumlah tumpang juga kerap dikaitkan dengan status sosial orang yang diperingati melalui bangunan tersebut. 

Bagian Bangunan dan Proses Penyucian

Secara umum, meru terdiri atas bagian kaki, badan, dan atap.

Bentuk atapnya menyerupai payung segi empat yang disusun bertingkat.

Material pembuatannya dapat berupa batu padas, bata, kayu, ijuk, dan bahan lain sesuai kebutuhan bangunan.

Pendirian meru juga tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan arsitektur. Terdapat persiapan ritual yang menjadi bagian penting dari proses pembangunannya.

Sebelum pembangunan dimulai, penyelenggara biasanya menyiapkan bahan bangunan, pedagingan, serta sesaji.

Pedagingan merupakan perlengkapan ritual yang ditempatkan pada bagian-bagian tertentu bangunan suci.

Hari pendirian juga ditentukan dengan hitungan tertentu berdasarkan pertimbangan adat dan keagamaan.

Pembangunan dilakukan secara bertahap. Setelah seluruh bagian selesai, meru harus menjalani upacara penyucian dan pengukuhan fungsi sebagai bangunan suci.

Dua Fungsi Utama Meru di Bali

Dalam kehidupan keagamaan masyarakat Hindu Bali, meru memiliki dua fungsi utama.

Pertama, sebagai pelinggih atau sthana, yaitu tempat bersemayam dan pemujaan para dewa.

Kedua, sebagai pedharmaan, yakni bangunan yang berkaitan dengan penghormatan kepada roh suci tokoh yang telah meninggal.

Fungsi sebagai sthana dapat dijumpai di berbagai pura, antara lain Pura Besakih, Pura Goa Lawah, Pura Uluwatu, Pura Watukaru, Pura Ulun Danu, Pura Puseh, dan Pura Desa.

Dalam tradisi Kahyangan Tiga, jumlah tumpang meru juga dapat berkaitan dengan fungsi pura.

Meru lima tumpang dikaitkan dengan Brahma, tujuh tumpang dengan Wisnu, dan sembilan tumpang dengan Siwa.

Penafsiran tersebut antara lain ditemukan dalam pembahasan mengenai meru di lingkungan Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem.

Sementara itu, fungsi pedharmaan berkaitan dengan penghormatan kepada tokoh yang telah meninggal, terutama raja dan keluarga kerajaan.

Salah satu contohnya terdapat di Pura Besakih, yang memiliki pedharmaan bagi Raja Dalem Waturenggong. Pura Taman Ayun juga berkaitan dengan pedharmaan raja-raja Mengwi dan keluarganya.

Dalam fungsi ini, meru bukan hanya tempat menyimpan jenazah atau abu kremasi, melainkan sarana penghormatan dan pemujaan terhadap roh suci serta pengenangan terhadap jasa tokoh yang bersangkutan.

Keberadaan meru menunjukkan bagaimana kepercayaan, filosofi, arsitektur, dan tradisi ritual menyatu dalam kebudayaan Bali.

Bentuknya yang menyerupai gunung dipilih bukan sekadar untuk estetika, melainkan representasi pandangan tentang hubungan manusia, alam semesta, dan dunia kedewataan.

Hingga saat ini meru tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Bali.

Meski Bali terus mengalami perkembangan yang luar biasa pesat, masyarakatnya tetap mempertahankan tradisi pendirian meru sebagai upaya melestarikan warisan kepercayaan leluhur.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar