Mabur.co – Merayakan Hari Kebudayaan Nasional yang diperingati setiap 17 Oktober, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, unjuk gigi dengan menampilkan pertunjukan kesenian bertempat di aula kompleks sekolah setempat.
Sejumlah siswa nampak tampil dengan atribut lengkap dengan membawakan tarian tradisional seperti tari angguk dan tari gedruk di hadapan para tamu maupun warga yang hadir dalam kegiatan open house, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Program Unggulan Pemerintah
Pertunjukan ini pun seolah menunjukkan sekolah rakyat yang merupakan program unggulan pemerintah saat ini tetap memberi ruang bagi para siswa untuk mengenal dan melestarikan kesenian tradisional yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Gerak tari yang ditampilkan para siswa tak hanya menghadirkan nuansa seni tradisi di tengah kegiatan pendidikan.
Di hadapan tamu undangan dan warga yang hadir, mereka menunjukkan kemampuan berkesenian yang dikembangkan melalui kegiatan sekolah.
Selain tari angguk dan gedruk, para siswa juga menampilkan paduan suara dengan lagu-lagu tembang Jawa.
Termasuk juga pidato sejumlah bahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris, Jawa Krama, hingga bahasa lain seperti Perancis dan Cina.
Kepala SRMA 20 Sleman, Reti Sudarsih, mengatakan kegiatan open house menjadi sarana untuk mengenalkan Sekolah Rakyat kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bakat dan kemampuan para siswa.
“Open house ini rutin kita gelar untuk memperkenalkan SR kepada masyarakat umum secara luas. Lewat penampilan ini kita ingin memperlihatkan bagaimana sekolah rakyat memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan diri, termasuk di bidang seni dan budaya,” katanya.

Tari angguk yang merupakan tarian tradisional khas Kulon Progo sendiri dimainkan para siswa putri.
Sementara tari gedruk yang merupakan tarian tradisional khas kawasan lereng Gunung Merapi dimainkan siswa laki-laki.
Selain mengajarkan pendidikan akademik, SRMA sendiri selama ini juga mengajarkan pendidikan non-akademik termasuk seni budaya lewat kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Kenalkan Siswa Seni Tradisional
Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan siswa pada bentuk ekspresi seni tradisional yang tumbuh di tengah masyarakat.
Pengenalan budaya melalui kegiatan sekolah juga menjadi salah satu cara menumbuhkan apresiasi terhadap tradisi.
Pelestarian tidak hanya dilakukan dengan menyaksikan pertunjukan, tetapi juga melalui keterlibatan generasi muda dalam mempelajari dan menampilkan kesenian.
Salah seorang siswa, Mutiara Hanifah, menyebut ada sejumlah kegiatan ekstrakurikuler di bidang seni yang bisa diikuti siswa di Sekolah Rakyat.
Mulai dari kesenian tari, teater, hingga hadrah. Ia sendiri mengaku aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni seperti teater, dan hadrah. Selain itu juga tonti, dan Palang Merah Remaja (PMR) di bidang lain.
Menurut Mutiara, banyaknya ekstrakurikuler itu mampu memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan diri dalam berbagai hal.
Mulai dari membangun kedisiplinan hingga kepekaan dan kesadaran melestarikan kesenian tradisional.
“Senang karena jadi bisa belajar banyak hal,” ungkapnya.
Sementara itu, Lambang Damar, siswa kelas XI asal Kulon Progo, mengaku mengikuti ekstrakurikuler tonti dan hadrah. Ia memilih hadrah karena menyukai musik sekaligus ingin melatih kemampuan bahasa Arab.
“Kebetulan saya suka musik, jadi ikut ekstra seni hadrah,” katanya.
Bagi para siswa, kegiatan seni menjadi kesempatan untuk mengembangkan minat sekaligus membangun rasa percaya diri. Sementara bagi sekolah, aktivitas tersebut melengkapi pendidikan akademik dengan pengalaman berkesenian dan pembentukan karakter.
SRMA 20 Sleman saat ini memiliki 75 siswa dan memanfaatkan fasilitas Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Yogyakarta di bawah Kementerian Sosial.
Melalui open house tersebut, kesenian tradisional mendapat ruang untuk diperkenalkan kepada masyarakat sekaligus didekatkan dengan generasi muda.
Momentum Hari Kebudayaan Nasional menjadi pengingat bahwa keberlanjutan budaya membutuhkan keterlibatan generasi penerus, termasuk melalui ruang pendidikan yang memberi kesempatan bagi siswa untuk mengenal, mempelajari, dan menampilkan kesenian daerah.
