Mantan Atasan Presiden Prabowo, Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo Meninggal Dunia, Pernah Sukses dalam Operasi Woyla

4 Min Read
Two men shake hands in front of a large framed painting on a white wall behind them.
Prabowo Subianto saat menjenguk mantan komandannya, bekas KSAD Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, di Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo atau Subagyo HS meninggal dunia pada Senin (19/10/2026).

Almarhum dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah militer Indonesia yang memimpin TNI Angkatan Darat pada masa transisi Reformasi 1998 dan menjadi satu-satunya KSAD yang menjabat di era tiga presiden berbeda.

Kepala Penerangan Korem 072/Pamungkas, Mayor Inf Suwito, mengatakan jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka di kawasan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

“Jenazah akan diterbangkan ke Jakarta pada Selasa (20/10/2026) pagi. Setelah disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), almarhum dijadwalkan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan,” ujarnya, Senin (19/10/2026).

Jenderal Subagyo HS merupakan mantan Komandan Presiden Prabowo. Di pasukan korps baret merah (Kopassus), ia memimpin selama 1994-1995. Pada 1995, Prabowo pernah diangkat menjadi Danjen Kopassus menggantikan Jenderal Subagyo HS.

Jenderal Subagyo HS juga pernah menjabat KSAD selama tiga kepemimpinan presiden, yakni Soeharto, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri. Ia juga pernah menjadi anggota Wantimpres di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo

Subagyo merupakan lulusan AKABRI 1970 yang menghabiskan sebagian besar karier militernya di lingkungan pasukan elite Kopassus.

Operasi Woyla

Namanya mulai dikenal luas setelah terlibat dalam Operasi Woyla pada 1981, yakni operasi pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia di Thailand yang menjadi salah satu operasi militer paling terkenal dalam sejarah Indonesia.

Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjabat Komandan Grup A Paspampres pada era Presiden Soeharto, kemudian menjadi Danjen Kopassus periode 1994-1995. Setelah itu ia menjabat Pangdam IV/Diponegoro, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), hingga akhirnya diangkat sebagai KSAD pada Februari 1998.

Salah satu catatan paling menonjol dalam perjalanan kariernya adalah ketika memimpin TNI AD pada periode paling menentukan dalam sejarah modern Indonesia.

Sebagai KSAD, Subagyo berada di pucuk pimpinan matra darat saat berlangsungnya Kerusuhan Mei 1998, Tragedi Trisakti, kejatuhan Presiden Soeharto, hingga masa awal Reformasi.

Dalam perjalanan Reformasi, Subagyo juga dikenal sebagai Ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang memeriksa Letjen Prabowo Subianto pasca-peristiwa 1998.

Keputusan DKP saat itu menjadi salah satu momen penting dalam sejarah TNI karena berujung pada berakhirnya karier militer Prabowo.

Hubungan Subagyo dan Prabowo Sangat Baik

Meski demikian, hubungan keduanya tetap terjaga baik. Subagyo merupakan mantan komandan Prabowo saat menjabat Danjen Kopassus sebelum tongkat komando korps baret merah diserahkan kepada Prabowo pada 1995.

Dalam berbagai kesempatan setelah pensiun, Prabowo kerap menyebut Subagyo sebagai sosok senior yang dihormatinya.

Setelah mengakhiri karier militernya pada 1999, Subagyo tetap aktif di ruang publik. Ia sempat berkecimpung di dunia politik dan kemudian dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2015-2019.

Kepergian Subagyo HS menambah daftar tokoh militer senior yang memiliki jejak penting dalam perjalanan Reformasi dan demokrasi Indonesia.

Selain dikenal sebagai mantan KSAD dan Danjen Kopassus, ia meninggalkan rekam jejak sebagai salah satu perwira yang berada di pusat berbagai peristiwa penting yang membentuk wajah Indonesia modern.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar