“Kawisesan Pinaka Tetamian Budaya Bali”, Ajang Pameran Aneka Lontar Kuno Bali

2 Min Read
Wooden folding fan with handwritten text on each slat, tied together at the base with string.
Lontar (Foto: Dok Pemkab Buleleng Bali)

Mabur.co – Sejumlah lontar yang memuat pengetahuan tradisional Bali dipamerkan di Museum Soenda Ketjil, kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, Singaraja, sepanjang pekan ketiga Oktober 2026 ini. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari Pameran Kawisesan bertema “Kawisesan Pinaka Tetamian Budaya Bali”, yang menampilkan warisan budaya masyarakat Bali. 

Jenis Lontar yang Dipamerkan

Dilansir dari rilis resmi Pemkab Buleleng, Rabu (21/10/2026), sejumlah lontar kuno yang dipamerkan antara lain Lontar Pengiwa, Pengujanan, Penerangan, Pematuh Agung, Ukuring Keris, Pakakas, dan Piwelas.

Diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng melalui UPTD Gedong Kirtya, pameran ini mengajak masyarakat mengenal kembali kawisesan, yakni pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.

Selama ini pengetahuan itu tersimpan dalam tradisi sastra dan lontar, termasuk yang berhubungan dengan pengobatan tradisional serta praktik budaya lainnya.

Meski kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis dan dipandang negatif, dalam pameran ini kawisesan justru diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan kearifan lokal Bali yang memiliki sistem pengetahuan tersendiri.

Dalam sambutan Bupati Buleleng yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, dijelaskan bahwa kawisesan mencakup unsur mantra, yantra atau rerajahan, serta mudra. Unsur-unsur tersebut berkaitan dengan konsep kosmologi Hindu-Buddha Nusantara.

Pengetahuan Leluhur Diwariskan

Koleksi lontar yang dipamerkan menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan bagaimana pengetahuan leluhur didokumentasikan dan diwariskan.

Masyarakat dapat mengenal isi serta konteks kebudayaan yang melatarbelakangi naskah-naskah tersebut, sehingga warisan itu tidak sekadar tersimpan sebagai benda koleksi.

Pameran Kawisesan juga mengusung konsep edutainment, yakni perpaduan edukasi dan hiburan. Melalui pendekatan ini, museum diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih menarik dan mudah diakses oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Bali serta mendorong pelestarian pengetahuan tradisional di tengah perkembangan zaman.

Berlangsung 20–26 Oktober 2026, lewat pameran ini masyarakat diajak untuk melihat lebih dekat koleksi yang berkaitan dengan kawisesan dan mengenal warisan pengetahuan leluhur Bali melalui naskah-naskah lontar.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar