Pameran “Di Atas Hitam dan Putih”, Eksplorasi Ruang Mess 56 lewat Bingkai Monokrom Tak Lazim

5 Min Read
A woman in black stands in a white gallery, looking at large black-and-white panel art along the wall.
Salah satu pengunjung, Inggrid, saat melihat-lihat pameran Di Atas Hitam dan Putih di EDSU House Jalan Kaliurang, Manggung, Caturtunggal, Depok, Sleman. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Yogyakarta dikenal sebagai ruang tumbuh bagi berbagai praktik seni dan budaya, termasuk fotografi dan seni kontemporer.

Salah satu upaya tersebut hadir melalui pameran Di Atas Hitam dan Putih, yang mempertemukan karya 17 anggota kolektif seni MESS 56 di EDSU House, Jalan Kaliurang, Manggung, Caturtunggal, Depok, Sleman, dari tanggal 16 Oktober 2026 hingga 3 Januari 2027.

Pameran Pertama Bertema Fotografi

Asisten Galeri EDSU House, Elang menjelaskan, pameran ini menjadi kolaborasi antara EDSU House dan MESS 56, sekaligus pameran pertama di EDSU House yang secara khusus menempatkan fotografi sebagai titik berangkat utama.

Pameran Di Atas Hitam dan Putih berangkat dari sesuatu yang nyaris tidak lagi disadari, yaitu kebiasaan melihat dunia melalui bidang segi empat.

Dari jendela, halaman buku, layar, kamera, hingga cetakan fotografi, persegi dan persegi panjang telah lama menjadi bentuk yang dianggap paling masuk akal untuk membatasi pandangan.

“Format ini terus diulang hingga terasa alamiah, meskipun pada dasarnya ia merupakan hasil dari pilihan teknis dan kebiasaan visual manusia,” ucapnya, Minggu (25/10/2026).

Asisten Galeri EDSU House, Elang. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Elang mengatakan pula, pameran ini melibatkan 17 anggota MESS 56, antara lain Ahmad Husain Alfarizi, Akiq AW, Angki Purbandono, Arief Budiman, Fajar Riyanto, Wimo Ambala Bayang, Wok The Rock, dan Yudha Kusuma Putera.

Pembukaan pameran berlangsung pada 16 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB dan dibuka oleh Indra Leonardi.

“Didirikan pada 2002, MESS 56 merupakan kolektif seniman yang mengembangkan fotografi dan seni kontemporer melalui pendekatan kritis serta kontekstual.

Ruang Bermain

Kolektif ini juga mengelola ruang bersama yang berfungsi sebagai studio, tempat edukasi, ruang bermain, dan tempat tinggal. Sementara itu, EDSU House yang berada di kawasan utara Yogyakarta menghadirkan ruang bagi eksplorasi artistik, kolaborasi lintas disiplin, dan pertemuan gagasan,” ucapnya.

Menurut Elang, melalui pameran Di Atas Hitam dan Putih, pengunjung diajak melihat fotografi bukan semata-mata sebagai alat untuk merekam kenyataan.

“Pameran ini membuka pertanyaan tentang bagaimana batas visual memengaruhi pemahaman manusia terhadap gambar, kota, dan dunia di sekitarnya,” katanya.

Bagi Elang, dalam fotografi, bingkai tidak pernah benar-benar netral. Ia menentukan apa yang masuk, apa yang dipotong, dan bagaimana sebuah gambar dibaca.

Pameran ini mencoba mengganggu kebiasaan tersebut melalui bentuk-bentuk yang tidak lazim seperti segitiga, jajar genjang, dan susunan geometris lain yang bersumber dari pecahan logo MESS 56.

“Bentuk-bentuk ini bukan sekadar ornamen, melainkan cara untuk membuat mata kembali sadar bahwa setiap foto merupakan hasil dari tindakan memilih dan membingkai.

Pendekatan tersebut dalam teks pameran dibaca sebagai frame shock yaitu upaya mengganggu kestabilan visual yang selama ini membentuk kebiasaan mata kita. Sudut segitiga yang memotong pandangan dan kemiringan jajar genjang memaksa mata untuk menyesuaikan kembali cara melihat gambar.

Dengan begitu, pengunjung tidak hanya melihat apa yang ada di dalam foto, tetapi juga menjadi lebih sadar terhadap tindakan membingkai itu sendiri. Pilihan bentuk ini juga berkaitan dengan cara MESS 56 membaca Yogyakarta, kota tempat kolektif ini tumbuh selama lebih dari dua dekade.

Kota tidak dihadirkan sebagai sebuah gambaran yang rapi dan selesai, melainkan sebagai ruang hidup yang terus berubah,” katanya.

Elang menjelaskan, dalam konteks tersebut, bingkai yang miring, terpotong, dan tidak utuh justru menjadi cara untuk mengakui bahwa pengalaman atas sebuah kota selalu bersifat parsial.

Tidak semua hal dapat masuk ke dalam satu gambar, sebagaimana sebuah kota tidak pernah benar-benar dapat diringkas menjadi satu pandangan.

Bahasa visual hitam dan putih tumbuh dari pertemuan antara praktik fotografi dan karakter ruang EDSU House.

“White Space dan Black Box menjadi salah satu titik awal pembentukan arah artistik pameran. Dalam kondisi tersebut, hitam-putih bekerja bukan hanya sebagai pilihan estetis, tetapi sebagai cara untuk mengembalikan perhatian pada cahaya, gelap-terang, bentuk, tekstur, dan kontras sebagai elemen-elemen dasar yang membentuk sebuah citra fotografis,” ucapnya.

Salah satu pengunjung, Inggrid mengatakan, dalam pameran ini, setiap karya menghadirkan sudut pandang artistik yang menekankan komposisi, cahaya, serta makna visual tanpa distraksi warna.

“Pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga sarana edukasi publik,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar