1 dari 2 Series - Saat Cerita Rakyat dan Mitologi Diangkat dalam Seni Jatilan Modern di Sitanadi Fest
Mabur.co – Meski digelar dengan sentuhan tata panggung modern serta pencahayaan maupun audio visual yang memukau, Sitanadi Fest di Dusun Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta tetap mengangkat kesenian tradisional yang berakar dari tradisi lokal masyarakat.
Tiga Kelompok Kesenian Jatilan
Terdapat tiga kelompok kesenian jatilan asal tiga wilayah berbeda dari DIY dan Jawa Tengah yang ditampilkan. Yakni Kamaratih Candramaya dari Temanggung, Mudo Utomo dari Klaten, serta Turonggo Trustho Wilogo, dari Kaliadem, Cangkringan, Sleman.
Dengan karakter dan ciri khas masing-masing, ketiganya tampil dengan membawakan pertunjukan kesenian jatilan yang berbeda.
Kelompok Mudo Utomo dari Kemalang Klaten misalnya membawakan kesenian jatilan Jaramaya atau Jaranan Ramayana yang mengangkat kisah epos Ramayana.
Mengenakan atribut kostum Jaran Kepang dengan ciri khas rambut kribo, para penari nampak menceritakan kisah anoman yang berjuang melawan rahwana yang lekat dengan Candi Prambanan.
Lalu ada kelompok Turonggo Trustho Wilogo dari Padukuhan Kaliadem, Kalurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman yang mengangkat cerita rakyat tentang pasukan perang berkuda di wilayah lereng Gunung Merapi.
Dengan ciri khas unsur Warok dan Wiro Yudo kelompok jatilan ini mencoba mengangkat kembali perjuangan laskar pasukan perang Pangeran Diponegoro yang dipimpin seorang bernama Landang dalam melawan penjajah Belanda di kawasan lereng Merapi.
Begitu pula dengan tari kreasi putri Nyai Gadung Melati juga dari Kaliadem. Tarian jatilan ini mencoba mengenalkan kembali mitologi Jawa tentang sosok Nyai Gadung Melati yang diyakini sebagai pemimpin makhluk halus dan penjaga kesuburan alam di sekitar Gunung Merapi.
Ajak Generasi Muda Mengenal Kembali Kesenian Tradisional
Ketua Panitia Sitanadi Fest, Fajar Indra Pangestu, menjelaskan bahwa pementasan sejumlah kesenian tradisional di sekitar lereng Gunung Merapi ini dilakukan untuk mengajak generasi muda mengenal kembali kesenian tradisional yang tumbuh di lingkungan mereka.

Setiap kesenian memiliki ciri khas atau karakter yang menyimpan nilai-nilai kearifan lokal, dibawa dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi lewat berbagai pengembangan bentuk pertunjukan sesuai zaman.
“Lewat Sitanadi Fest ini kita ingin menyampaikan pesan pada generasi muda agar terus melestarikan budaya kesenian jatilan. Sehingga meski zaman terus berubah mereka tetap tidak melupakan akar budaya sendiri,” katanya, Minggu (25/10/2026).
Dukuh Kaliadem, Saryono, menuturkan bahwa kesenian jatilan atau jaran kepang telah dikenal masyarakat lereng Merapi termasuk Kaliadem sejak ratusan tahun silam.
Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun hingga berkembang menjadi kelompok kesenian jatilan modern seperti sekarang.
Keberadaan kelompok ini menjadi salah satu cara masyarakat menjaga kesenian lokal agar tetap hidup dan dicintai masyarakatnya.
Selain itu pementasan dalam Sitanadi Fest juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karakter Jatilan Kaliadem kepada khalayak yang lebih luas.
Dalam festival yang mengusung tema “Melanjutkan Kebudayaan, Mengalirkan Kehidupan” ini, ruang-ruang kreasi dibuka secara lebar agar para pelaku kesenian jatilan khususnya generasi muda dapat menyalurkan ide maupun gagasan mereka demi memajukan warisan budaya leluhur.
