Mabur.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 7,22 juta orang pengangguran di Indonesia hingga Mei 2026. Mayoritas adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 7,68 persen.
Sementara itu, pengangguran yang tercatat paling sedikit berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah sebesar 2,31 persen dari total pengangguran dalam negeri. Pengangguran terbanyak kedua ada pada lulusan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 6,17 persen dan disusul oleh Diploma IV, S1, S2, S3 sebesar 6,09 persen.
Pendidikan kejuruan di Indonesia diharapkan menjadi pemasok utama tenaga kerja di berbagai bidang industri. Namun, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi salah satu penyumbang angka penangguran terbesar di Indonesia.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, mendorong pembenahan mendasar untuk aspek pendidikan vokasi sangat mendesak. Hal ini supaya industri menyerap lulusan SMK.
“Agak menjadi ironi SMK kita, pendidikan vokasional kita, yang sebenarnya diharapkan bisa siap masuk ke dunia kerja, tetapi fakta menunjukkan kontradiksi yang cukup membuat kita pusing semua,” ungkap Sarmuji, dilansir liputan6.com, Sabtu (31/10/2026).
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menuturkan, salah satu upaya yang dikembangkan adalah Program SMK 3+1, yakni tiga tahun pendidikan di SMK yang dapat dilanjutkan dengan satu tahun pendidikan tambahan bagi murid yang berminat bekerja di luar negeri.
“Ini merupakan sebuah terobosan yang memberikan jawaban langsung bahwa lulusan SMK bisa dan siap bekerja di mana pun di dunia ini,” ujarnya.
Abdul Mu’ti, menjelaskan, selain SMK 3+1, Kemendikdasmen juga turut mengembangkan model SMK empat tahun yang dirancang melalui kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sejak awal pendidikan. Model tersebut sebagai SMK tailor made atau pendidikan kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
“Melalui skema itu, sekolah bermitra dengan perusahaan tertentu sehingga murid tidak hanya mengikuti pembelajaran di sekolah, tetapi juga memperoleh kesempatan berlatih langsung di dunia industri,” katanya.
Abdul Mu’ti berharap lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Kemendikdasmen juga mengembangkan SMK berbasis keunggulan lokal untuk menyiapkan murid dengan keterampilan yang sesuai dengan potensi sumber daya alam maupun sosial di daerah masing-masing.
Pengembangan tersebut dapat diwujudkan melalui sekolah kejuruan yang berfokus pada komoditas dan potensi daerah, antara lain kopi, nilam, kelautan, batik, hingga musik.
“Pengembangan berbagai model pendidikan kejuruan ini adalah bagian dari upaya pihaknya menjawab kritik soal tingginya angka pengangguran dari kalangan lulusan SMK,”ucapnya.
