Mabur.co – Diantara kumandang adzan zuhur aku tiba di Rumah Puisi Taufiq Ismail, di Aie Angek, sedikit jalan menanjak menuju Kota Bukitinggi X Koto, Tanah Datar. Sekitar pukul 14.00 WIB, kabut turun. Dari jendela lantai dua, di bawah sana, sawah berundak-berundak seperti tangga menuju langit. Petani dengan caping, kerbau menarik bajak, seorang anak datang tergopoh mengantar rantang. Persis seperti puisi Taufiq yang paling tua.
Di Dekat Pandiki Sikek, Kampung Ibunya
“Rumah Puisi Taufiq Ismail adalah sebuah rumah baca yang menyimpan ribuan buku karya sastrawan legendaris Indonesia. Rumah ini adalah warisan kesenian yang ditinggalkan oleh Taufiq Ismail yang dibangun pada 19 Desember 2008 di Jalan Raya Padang Panjang-Bukittinggi Km. 6, Aie Angek,” tulis catatan sejarah rumah ini.
“Rumah ini diresmikan menjadi museum sastra pada 30 Oktober 2024, dan diaktivasi kembali pada Januari 2026 sebagai museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia,” dikutip dari data museum.
Biayanya dari Habibie Award 2007: US$ 25.000. Taufiq, penyair Angkatan 66, dokter hewan, kelahiran Bukittinggi 25 Juni 1935, membangunnya di sini bukan kebetulan. Diapit dua gunung kebanggaan: Marapi 2.891 mdpl dan Singgalang 2.877 mdpl. Di dekat Pandiki Sikek, kampung ibunya. Tempat udara dingin, tempat ia ingin mati nanti.
Di ruang baca, 8.000 judul buku. Mesin ketik Corona milik Chairil Anwar, tulisan tangan H.B. Jassin, kaset pembacaan puisi Rendra. Tapi yang paling hidup: poster-poster puisi yang ditempel di kaca, menghadap sawah. Aku buka Sajadah Panjang dan Membajak Kembali: puisi 1955 yang ditulis Taufiq di umur 20 tahun: Orang-orang telah membajaki sawah-sawah kembali karena lewat sudah musim kemarau menguning bumi lekang kering menafaskan lagi air membening.
Taufiq Mendirikan ini Karena Perintah Iqra, Bacalah !
Di bawah sana, di hadapan rumah puisi ini, petani itu sedang tekun membajak kembali sawahnya membuat Puisi Taufiq itu seperti terlukis di semesta alam sekitar. Puisi itu seperti memiliki nafas hidup. Pengelola, Fitra Mulia, 45 tahun, manajer sejak 2010, bilang: “Pak Taufiq mendirikan ini termotivasi dari Surat Al-Alaq ayat 1-5 dan Nun wal Qalam. Iqra, bacalah. Di sini ada perpustakaan, mading pelatihan, sanggar sastra seminggu sekali. Tujuannya meningkatkan budaya baca.”
Taufiq, yang kini 91 tahun, sudah jarang ke sini. Tapi tiap Lebaran, ia datang, duduk di kursi yang sama tempat aku duduk saat itu, memandang sawah berundak yang oleh petani Minang disebut sawah giliran, sistem irigasi subak Minang yang sudah ada sejak abad 14, sebelum Majapahit runtuh.
Sudah seperti menjadi mitos Aie Angek: sawah berundak ini dijaga Bundo Kanduang padi. Kalau petani tidak baca doa kato padusi, padi tidak berisi. Di sini, sastra bukan di menara gading. Sastra di sawah. Seperti Taufiq tulis dalam sajaknya: Dengan Puisi, Aku. “Dengan puisi aku bernyanyi, sampai senja umurku nanti.”
Karena waktu berbisik minta pulang, aku tutup buku “Benteng dan Tirani” yang sedang kubaca. Di bawah sana, di sawah yang berundak, langit seperti merendah, ibu petani menyingsingkan kain, bapak menghe-eh kerbau: “Hee yaaah!” Kabut naik lagi. Marapi batuk kecil, abu tipis. Sawah tetap indah, berundak, hijau menghampar permadani, seperti sajadah panjang yang dibentangkan untuk sujud abadi.
