Guyub Rukun Warga Yogya, dari Boikot hingga Bantu Pedagang

6 Min Read
Kepedulian PKU Muhammadiyah Gamping pada UMKM eks Rans
Kepedulian PKU Muhammadiyah Gamping pada UMKM eks Rans Carnival (Ist)

Mabur.co – Ketika sejumlah pedagang membatalkan keikutsertaan dalam Rans Carnival di Maguwoharjo, pekerjaan mereka belum selesai. Bahan sudah dibeli, makanan sudah dibuat, dan biaya persiapan sudah keluar. Mereka masih harus mencari pembeli agar dagangan tidak terbuang.

Warga kemudian ikut membantu. Lokasi usaha dibagikan, ajakan berbelanja beredar, dan muncul tawaran memborong dagangan. Dalam unggahan akun Threads @ilmanhidayat, seorang pedagang menyebut telah menyiapkan dua ribu donat untuk acara di Maguwo. Pembuat video lalu menawarkan membeli seribu donat.

Dalam unggahan media sosial lainnya, seorang pelaku usaha menceritakan banyaknya pesanan yang masuk. Ada orang yang tidak bisa datang, tetapi mengirim uang dan menitipkan makanan untuk dibagikan. Video lain menggambarkan ramainya salah satu usaha setelah membatalkan keikutsertaan.

Keterangan tersebut belum menunjukkan keadaan seluruh pedagang maupun memastikan semua stok terjual. Namun, bantuan yang tergambar cukup menjadi bahan untuk membaca hubungan antara sikap kritis dan solidaritas warga. Penolakan terhadap acara disertai usaha membantu pedagang menghadapi dampaknya.

Guyub Rukun dalam Tindakan

Kebersamaan ini dapat dipahami melalui nilai guyub rukun dan tulung-tinulung. Guyub rukun menekankan hubungan kebersamaan, sedangkan tulung-tinulung tampak dalam tindakan saling membantu. Dalam peristiwa ini, keduanya terlihat melalui kesediaan warga ikut memikirkan dagangan yang sudah disiapkan.

Kajian antropologi Koentjaraningrat mengenai gotong royong di dua desa Jawa Tengah memberi pijakan untuk memahami praktik tersebut. Melalui penelitian lapangan, ia membahas kerja sama sebagai bagian dari hubungan sosial warga. Pendekatan ini mengajak kita melihat gotong royong melalui tindakan yang benar-benar dilakukan, bukan sekadar menyebutnya sebagai sifat masyarakat.

Dukungan kepada pedagang juga mengingatkan pada semangat sambatan. Hubungannya terletak pada kesediaan warga ikut menanggung pekerjaan atau kesulitan orang lain. Dalam kasus ini, bantuan diberikan melalui pembelian, titipan makanan untuk dibagikan, serta penyebaran lokasi usaha. Bentuknya berkembang, sementara hubungan saling membantu tetap menjadi dasarnya.

Karena itu, bantuan tersebut lebih tepat dibaca sebagai perkembangan semangat sambatan daripada disamakan sepenuhnya dengan praktik di desa yang diteliti Koentjaraningrat. Para pemberi bantuan belum tentu bertetangga atau saling mengenal. Mereka terhubung setelah mengetahui kebutuhan pedagang melalui media sosial.

Mabur.co memberitakan bahwa warganet membagikan akun dan lokasi usaha pedagang yang batal mengikuti festival, sekaligus mengajak orang membeli produknya. Informasi membantu mempertemukan stok yang sudah tersedia dengan orang yang bersedia berbelanja.

Di sini, media sosial menjadi sarana untuk menjalankan tulung-tinulung. Orang yang tidak dapat datang tetap bisa membantu melalui pesanan, transfer, atau penyebaran informasi. Dukungan dari jauh kemudian dapat berlanjut menjadi kegiatan di tempat usaha.

Boikot dan Kepedulian

Boikot membawa konsekuensi bagi orang-orang yang terhubung dengan sebuah acara. Pedagang, misalnya, dapat menghadapi ketidakpastian setelah mengeluarkan biaya. Bantuan warga menjadi penting karena menanggapi kebutuhan yang muncul dari keadaan tersebut.

Konsep ekonomi moral E. P. Thompson membantu membaca hubungan ini. Dalam kajiannya, tindakan ekonomi berkaitan dengan pandangan bersama mengenai kepatutan, keadilan, dan kewajiban sosial. Konsep itu dikembangkan dalam konteks sejarah Inggris abad kedelapan belas; penggunaannya untuk membaca peristiwa di Yogya merupakan pengembangan analitis, bukan penyamaan kedua keadaan.

Ajakan melariskan dagangan memperlihatkan bahwa pembelian dapat mengandung kepedulian. Seseorang mungkin membeli karena ingin membantu pedagang mengurangi risiko kerugian. Titipan makanan untuk dibagikan juga memperluas manfaat pembelian kepada orang lain.

Hubungan antara boikot dan bantuan itu memberi arti pada ungkapan “rakyat bantu rakyat”. Warga menyampaikan keberatan terhadap acara, lalu sebagian dari mereka ikut menyediakan uang, waktu, dan jaringan untuk membantu pedagang. Sikap kritis mendapat dukungan dari tindakan yang memperhatikan kehidupan sesama.

Meski demikian, alasan setiap orang tidak dapat disimpulkan hanya dari unggahan. Ada yang mungkin membeli karena sudah menjadi pelanggan, tertarik pada produknya, atau ingin membantu. Tulisan ini membaca bentuk bantuan yang terlihat tanpa menganggap seluruh pembeli memiliki sikap politik yang sama.

Tetap Kritis, Tetap Peduli kepada Sesama

Guyub rukun tidak harus diartikan sebagai keadaan tanpa perbedaan pendapat. Dalam peristiwa ini, kebersamaan justru dapat dibaca dari cara warga merespons kesulitan di tengah penolakan terhadap acara. Mereka tetap dapat bersikap kritis sambil membantu orang yang membutuhkan pembeli.

Boikot dapat berfungsi sebagai kontrol sosial informal, yakni cara menyatakan keberatan melalui penarikan dukungan. Kekuatan kritiknya tetap bergantung pada alasan yang jelas, informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan penghormatan terhadap hak pihak lain untuk menjelaskan.

Adapun bantuan kepada UMKM menunjukkan tanggung jawab terhadap dampak sosial di sekitar tindakan tersebut. Membeli, membagikan makanan, dan menyebarkan informasi usaha merupakan bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.

Keguyuban ini tidak perlu dianggap mewakili seluruh masyarakat Yogya. Semangat tersebut terlihat dalam tindakan warga yang terlibat. Justru dari tindakan itulah semangat sambatan memperoleh makna: ada kesulitan yang diketahui bersama, lalu ada kesediaan untuk ikut meringankannya. Warga tetap menyampaikan kritik sambil membantu pedagang menghadapi kesulitan.

Share This Article
Pemerhati Sosial Budaya
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar