Berdirinya Sadha Budaya: Titik Kumpul Kebudayaan

4 Min Read
Para narasumber, Pendiri Sadha Budaya
Para narasumber, Pendiri Sadha Budaya, unsur Kundha Kebudayaan di lingkup DIY, para peserta tumpah jadi satu di panggung saat penutupan acara (Foto: Piwulang sastra)

Mabur.co – Sore, 31 Oktober 2026, di Dusun Jambon, Argosari, Sedayu, Bantul, sejak pukul 13.00 siang, angin dari selatan membawa bau sawah sehabis habis panen. Di Padepokan Piwulang Sastra, ada pamphlet spanduk bertuliskan SADHA BUDAYA: Titik Kumpul Kebudayaan.

Pamfletnya sederhana: siluet wayang dan foto para narasumber. Akademisi Teater Dr. Nur Iswantara, Sastrawan, Antropolog Bustan Basir Maras dan Evi Idawati (Owner Padepokan Sastra). Acara kali ini diselenggarakan Rumah Sastra Evi Idawati. Ini bukan perayaan para artis. Yang datang, ibu-ibu pengrajin batik kampung, para pekerja seni, sastrawan, budayawan, mahasiswa ISI, anak-anak Sekolah Puisi Yogyakarta, anak-anak TPA dan para petani desa sekitar padepokan.

Membangun dan Merawat Ekosistem Seni Budaya

Acara dimulai, dengan pembacaan puisi dua anak Piwulang Sastra, disusul penampilan Pantomim, hingga dialog para narasumber. Evi Idawati berdiri di tengah panggung memulai acara. Ia adalah Pendiri Rumah Sastra Evi Idawati 2011 bersama suaminya Pantomimer Reza. Evi membuka dialog sore itu dengan penuh semangat, bahagia dan pengharapan.

“Membangun dan merawat ekosistem seni dan budaya, tidak cukup dengan niat dan seruan tapi gerakan bersama untuk mendukung dan mewujudkannya. Kebersamaan itu dimulai dari satu titik yang sama, yaitu sebuah ruang yang akan menjadi energi positif bagi siapapun untuk menyatukan visi dan misi yang sama, tentang merawat dan melestarikan sastra, seni dan budaya,” ungkap Evi.

Performer on an outdoor stage addressing an audience of children and elders in a park-like setting with trees and decorative fabric backdrops.
Seorang anak piwulang sastra usia sd sedang membacakan puisi di panggung perhelatan perdana sadha budaya (Foto: bb. Maras)

Evi lalu memberikan waktu pada Sastrawan-Antropolog, Bustan Basir Maras untuk menyampaikan maksud dan harapan dari pentingnya sebuah ruang kumpul kesenian dan kebudayaan agar menjadi warisan nyata pada generasi selanjutnya sebagaimana anak-anak Sekolah Puisi dan Piwulang Sastra yang turut hadir memenuhi depan panggung sore itu.

Ruang Kumpul Untuk Memastikan Terjadinya Reproduksi Kebudayaan

Karena banyak anak-anak bahkan Gen Alpha yang hadir, Bustan memulai paparannya sore itu dengan lebih banyak menyapa Gen Alpha itu, memotivasi dan menegaskan bahwa “Imajinasi anak-anakku semua akan sangat membantumu di masa depan, menyiapkanmu menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin jika tidak memiliki imajinasi maka ia akan bingung mau berbuat apa dan tidak akan memiliki kreatifitas di dalam kepemimpinannya.”

Papar penulis 101 Puisi Etnografis ini dalam kumpulan Puisi Vova Sanggayu. Bustan juga menambahkan, “Ruang kumpul yang kita bangun ini, sebagaimana yang disebutkan Ibu Evi sebelumnya, kita beri nama Sadha Budaya (Titik Kumpul Kebudayaan). Artinya ruang ini adalah ruang kumpul bersama untuk saling bergesekan, berdialektika di dalam karya dan akan melahirkan kebudayaan-kebudayaan baru. Dengan begitu kita bisa memastikan reproduksi kebudayaan akan terus mengalir tiada henti.”

Sesudah Bustan, disusul kemudian paparan Akademisi Teater dan Budayawan Dr. Nur Iswantara yang banyak mengungkap ruang antara Gamping hingga Kali Progo banyak menyimpan catatan sejarah, sebagaimana Gamping yang pernah menjadi Sanggrahan HB I sebelum mendirikan Kraton Jogja yang sekarang ini.

“Proses berkesenian itu jika tumbuh di ruang yang sehat, ada piranti-piranti kebudayaan lain yang mendorongnya seperti Piwulang Sastra ini, apa lagi dengan pijakan historis yang kuat, maka akan melahirkan produktivitas yang baik pula” pungkasnya.

Share This Article
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar