Puluhan Tahun Punah, Warga Dusun Batur Cangkringan Hidupkan Kembali Kesenian Sruntul 

5 Min Read
Four performers in traditional Indonesian outfits stand on a decorated stage with a colorful banner behind them and audience in the foreground.
Kesenian tradisional Sruntul yang dimainkan Kelompok Seni Ngudi Lestari padukuhan Batur Kepuharjo Cangkringan Sleman (foto : JH Kusmargana)

Mabur.co – Setelah berpuluh-puluh tahun tak pernah dipentaskan, kesenian tradisional sruntul kembali muncul dalam acara Gebyar Budaya Kepuharjo 2026 di Kalurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, akhir pekan ini.

Kesenian mirip ketoprak ini nampak dimainkan sejumlah seniman dari kelompok seni Ngudi Lestari asal Padukuhan Batur, Kepuharjo. Mengenakan aneka kostum termasuk sosok buaya, pementasan Sruntul ini mengangkat lakon Cokroyudo Rabi.

Sejumlah warga pun nampak antusias menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional yang sudah sangat langka ini. Tak hanya sesekali dibuat tertawa dengan tingkah kocak para pemainnya, penonton juga nampak terbawa dengan alur cerita yang sederhana namun penuh makna.

Kelompok Seni Ngudi Lestari dari padukuhan Batur sendiri mencoba menghidupkan kembali kesenian Sruntul yang telah punah selama puluhan tahun terakhir. Hal ini dilakukan agar kesenian ini bisa kembali dikenal khususnya oleh generasi muda.

“Jaman dahulu, Sruntul ini pernah ada di padukuan Batur. Namun sudah puluhan tahun tidak dipentaskan lagi. Bahkan semenjak saya kecil, baru kali ini dipentaskan lagi,” ujar salah seorang warga Khotik.

Bersama warga lainnya, Khotik yang merupakan penggerak Kelompok Seni Ngudi Lestari bersama-sama menghidupkan kembali kesenian tradisional Sruntul. Mereka menganggap Sruntul sebagai warisan kesenian yang harus dilestarikan sebagai identitas Padukuhan mereka.

“Mungkin punah karena orang tua-orang tua kami dulu tidak mengenalkannya kepada generasi berikutnya. Bisa karena faktor finansial dan sebagainya. Namun sekarang kami mencoba menghidupkannya kembali,” katanya.

Untuk menghidupkannya kembali, kelompok ini pun menelusuri ingatan para sesepuh dan tetua kampung yang masih mmengetahui kesenian Sruntul. Tak hanya itu, mereka juga mencari referensi dari kelompok kesenian di daerah lain yang masih melestarikan tradisi tersebut.

Salah satu upaya itu dilakukan dengan belajar ke Gedangsari, Gunungkidul. Dari sana, kelompok mengambil sejumlah referensi yang dinilai memiliki kesamaan, terutama dalam bentuk pertunjukan. Meski demikian, cerita yang dibawakan tetap dikembangkan sesuai karakter warga Batur.

“Kebetulan saya punya sodara di Gunungkidul dan baru saja mementaskan Sruntul. Sehingga kita kesana untuk mempelajarinya,” katanya.

Cultural stage performance with two men in batik clothing and a large fake snake prop on a green floor, stage equipment behind them.
Kesenian tradisional Sruntul yang dimainkan Kelompok Seni Ngudi Lestari padukuhan Batur Kepuharjo Cangkringan Sleman (foto : JH Kusmargana)

Dijelaskan Khotik, Sruntul sendiri merupakan kesenian tradisional yang mirip dengan ketoprak. Meski begitu terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Jika ketoprak banyak mengangkat cerita yang berkaitan dengan kehidupan keraton dan menggunakan dialog bahasa Jawa yang halus, sruntul lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bahasa yang digunakan dalam kesenian sruntul adalah bahasa percakapan warga pedesaan. Dialognya dibuat sederhana dan akrab, sehingga cerita yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan penonton.

Perbedaan juga terlihat pada iringan musik. Jika ketoprak lebih banyak menggunakan musik gamelan serta suara sinden. Maka sruntul hanya menggunakan angklung, terbang, dan kendang. Pertunjukan juga biasa diiringi kelompok wiraswara dengan tembang khas, salah satunya dikenal melalui lirik “elo-elo gundul”.

Namun, dalam pementasan kali ini kelompok Ngudi Lestari memilih memanfaatkan alat musik gamelan. Hal itu dilakukan karena mereka telah memiliki perangkat gamelan maupun para pemuda yang memiliki kemampuan karawitan.

“Karena kita sudah punya gamelan maka kita manfaatkan sebagai musik pengiring,” ujarnya. 

Meski masih tahap awal, Khotik berharap kesenian tradisional sruntul ini bisa terus berjalan dan tidak berhenti pada satu kali pementasan. Keberadaan desa wisata di Kepuharjo juga diharapkan dapat menjadi ruang pendukung bagi pengembangan kesenian tersebut.

“Sekarang kita coba gali lagi. Apalagi di sini ada desa wisata. Kita harapkan nanti bisa mendukung pengembangan wisata. Kalau memang minat penonton tinggi, nanti kita kembangkan lagi,” ujarnya.

Pada pementasan kali ini, kelompok seni Ngudi Lestari nampak mengangkat cerita Cokroyudo dan Dadung Awuk.  Mereka melibatkan 12 pemain dengan didukung sekitar 13 pengrawit. Kostum yang digunakan masih mengadopsi pakaian ketoprak sebagai bentuk penyesuaian karena kelompok baru mulai menghidupkan kembali kesenian tersebut.

Tak hanya sekedar menggelar pertunjukan, kelompok Ngudi Lestari bertekad ingin menjadikan kesenian Sruntul sebagai identitas Padukuhan Batur. Upaya tersebut sekaligus menjadi cara agar warisan budaya yang sempat hilang tidak kembali terputus dan dapat dikenal oleh generasi berikutnya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar