Termasuk Indonesia, Serangan Siber Serentak Sasar Sektor Perbankan dan Keuangan

6 Min Read
Sejumlah serangan siber yang disebut menyasar Indonesia (Sumber: Threads)

Mabur.co – Serangan siber secara masif dilaporkan terjadi serentak di sejumlah negara di dunia. Serangan berupa peretasan itu disebut menyasar sektor vital perbankan dan keuangan.

Salah satu kasus terjadi di Prancis. Bank Credit Mutuel Arkea mengungkap kehilangan sekitar 100 juta Euro atau setara Rp1,7 triliun akibat transaksi penipuan yang dilakukan peretas.

Dilanair Reuters Kamis (5/11/2026), dana yang dicuri tersebut diduga dikonversi menjadi aset kripto setelah berhasil diambil.

Akibat kasus ini pihak bank Arkea pun berupaya melacak dan memulihkan uang yang hilang. Guna mengantisipasi dampak lebih luas, bank sempat menghentikan sementara sejumlah transaksi.

Meski begitu pihak bank menyatakan aset nasabah sampai saat ini dipastikan tidak terdampak. Penyidik kejahatan siber Prancis terus melakukan penyelidikan termasuk melaporkan kasus ini ke Bank Sentral Eropa dan otoritas pengawas perbankan Prancis.

Ancaman serupa muncul di Korea Selatan. Sejumlah lembaga keuangan di negara tersebut menjadi sasaran serangan siber yang berujung pada kebocoran informasi sekitar 25.000 nasabah.

Reuters menyebut terdapat beberapa bank besar seperti Shinhan Bank dan KB Kookmin Bank menerima serangan siber. Termasuk Hana Bank dan Woori Bank yang mengalami kebocoran.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung disebut telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh pada 6 Oktober 2026 lalu. Ia menyebut terdapat indikasi penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sejumlah serangan tersebut.

Lee meminta pemerintah segera mengungkap pola serangan dan memusatkan sumber daya untuk membatasi dampaknya. Otoritas keuangan Korea Selatan juga meningkatkan pengawasan terhadap sistem keamanan perbankan.

Dari identifikasi yang dilakukan tercatat sebanyak 19 alamat IP mencurigakan yang ditelusuri berasal dari 12 negara dan wilayah, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Hong Kong, Singapura, Vietnam, Thailand, Malaysia, Spanyol, Latvia, Swedia, dan Jerman.

India juga menghadapi gelombang serangan terhadap perusahaan keuangan. Badan keamanan siber pemerintah India, Indian Computer Emergency Response Team (CERT-In), pada awal November 2026 mengungkap kelompok peretas yang dijuluki Crafty Falcon.

Kelompok tersebut dilaporkan menyasar lembaga pemberi pinjaman nonbank, perusahaan teknologi finansial atau fintech, serta bursa mata uang kripto.

Dalam peringatannya, CERT-In menyebut para pelaku memanfaatkan perangkat kecerdasan buatan yang tersedia untuk umum guna mengotomatisasi proses penyusupan ke sistem digital.

Badan tersebut menyebut serangan berlangsung aktif dan masih berlanjut. Sejumlah perangkat yang teridentifikasi juga dikaitkan dengan teknologi asal China, meski CERT-In belum mengungkap siapa pihak yang berada di balik kelompok tersebut.

Ancaman ini muncul ketika sejumlah bank India juga melaporkan insiden kebocoran data. Salah satunya State Bank of India (SBI), yang pada Oktober 2026 mengungkap 3.897 catatan nasabah berisi informasi pribadi ditemukan bocor di dark web.

Informasi yang bocor disebut mencakup nama, nomor telepon, tanggal lahir, alamat surat elektronik, alamat tempat tinggal, identitas nasabah, hingga catatan terkait pinjaman.

Hingga saat ini SBI menyatakan saldo nasabah tetap aman dan kebocoran tersebut tidak diperkirakan mengganggu operasional utama bank.

Dilansir dari CNBCTV18, gangguan sistem juga menyebabkan layanan perbankan 128 bank kredit (shinkin bank) di wilayah Jepang bagian barat terganggu.

Akibatnya, nasabah tidak dapat menarik uang tunai, melakukan penyetoran, maupun menjalankan transaksi perbankan secara daring.

Shinkin Central Bank, lembaga yang mengoperasikan sistem inti bank-bank shinkin Jepang, mengatakan gangguan tersebut mulai terjadi pada 6 November 2025.

Gangguan ini berdampak pada seluruh 128 bank shinkin yang berlokasi di wilayah barat kawasan Tokai. Layanan penarikan dan transfer melalui ATM, penyetoran dan penarikan di kantor cabang yang tersebar di 3.430 lokasi, serta layanan internet banking terpaksa dihentikan.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai waktu pemulihan layanan. Shinkin Central Bank mengatakan gangguan tersebut disebabkan oleh kegagalan komunikasi pada peralatan di West Japan Centre, yang mengawasi jaringan perbankan di wilayah tersebut.

Pihak bank menyatakan belum mendeteksi adanya akses tanpa izin dan untuk saat ini tidak menduga insiden tersebut berkaitan dengan serangan siber.

Di Malaysia, insiden peretasan juga menimpa situs Bank Rakyat. Namun, pemerintah setempat menegaskan kejadian tersebut tidak sampai mengganggu sistem perbankan daring maupun transaksi keuangan nasabah.

Dilansir Malay Mail, Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil pada 7 November 2026 mengatakan serangan terhadap Bank Rakyat terbatas pada pengambilalihan dan perubahan tampilan situs atau web defacement.

Menurut Fahmi, situs yang terdampak dikelola pihak ketiga. Bank telah memblokir akses ke server tersebut dan mengarahkan pengguna ke i-Rakyat, layanan yang sepenuhnya dikelola bank.

Fahmi juga menyatakan sejauh ini belum ditemukan pencurian data maupun gangguan terhadap layanan perbankan daring akibat serangkaian upaya serangan siber yang terdeteksi.

Meski demikian, pemerintah Malaysia meminta pemeriksaan keamanan siber diperluas ke berbagai infrastruktur penting, termasuk lembaga perbankan dan perusahaan yang terhubung dengan pemerintah.

Sementara itu di Indonesia, serangan siber terhadap dunia perbankan juga ramai diperbincangkan di Threads. Sejumlah akun menyebut terjadinya serangan secara masih dalam kurun 24 jam terakhir.

Salah satu akun menyebut berdasarkan data dari dasbor ancaman siber global seperti FortiGuard Labs, sepanjang Sabtu, 7 November 2026, tercatat sebanyak 214.000 percobaan serangan menyasar sektor perbankan, keuangan, dan asuransi. Meski tergolong masif, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak otoritas terkait dampak serangan tersebut.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar