Mabur.co – Dunia pewayangan dipenuhi tempat-tempat angker yang dikeramatkan dan ditakuti karena dianggap berbahaya untuk dikunjungi.
Namun dalam dunia nyata, nama tempat-tempat itu justru kerap dipakai untuk menandai sebuah lokasi yang dianggap sakral dan memiliki aura tertentu.
Setidaknya ada empat tempat yang menarik perhatian, yakni Candradimuka, Jalatunda atau Jolotundo, yang bisa ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jawa Barat.
Apa sajakah tempat tersebut dan dimana lokasinya? Berikut adalah tempat angker dan berbahaya dalam cerita pewayangan yang ada di dunia nyata dilansir dari laman museum Museum Ullen Sentalu :
1. Candradimuka, kawah yang membuat Gatotkaca sakti
Dalam kisah pewayangan, Candradimuka merupakan kawah gunung berapi di kahyangan para dewa. Tempat ini menjadi lokasi Gatotkaca dan Wisanggeni dibuang ketika masih bayi.
Namun, upaya untuk menyingkirkan keduanya justru berakhir sebaliknya. Mereka tumbuh menjadi sosok yang sangat kuat dan sakti setelah melewati kawah tersebut.
Nama Candradimuka ini kemudian digunakan untuk menyebut kawah di kawasan Pegunungan Dieng dan Gunung Lawu.
2. Jalatunda, sumur ribuan ular yang membuat Bima kebal racun
Jalatunda memiliki kisah yang tidak kalah menarik. Dalam pewayangan, tempat ini digambarkan sebagai sumur sangat dalam yang dihuni ribuan ular berbisa.
Sumur tersebut menjadi tempat tubuh Bima dibuang Kurawa setelah ia tak sadarkan diri akibat racun Darubeksi. Namun, gigitan ribuan ular justru menetralkan racun dalam tubuh Bima dan membuatnya kebal terhadap racun.
Di dalam sumur itu, Bima juga bertemu Bhatara Basuki. Sang dewa memberinya sepuluh kendi berisi Tirta Manik Rasakunda. Setelah meminum seluruh air tersebut, kekuatan Bima disebut setara dengan seratus ekor gajah.
Dalam versi cerita lain, Jalatunda merupakan pintu menuju Sapta Pratala, lapisan bumi terdalam yang menjadi pusat Dunia Bawah dan wilayah kekuasaan Bhatara Antaboga, dewa berwujud naga.
Di dunia nyata, nama Jalatunda digunakan untuk kawah purba di Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Lubang raksasa berdiameter sekitar 90 meter dan berkedalaman 100–150 meter itu kini dipenuhi air.
Nama Jolotundo juga digunakan untuk petirtaan kuno di lereng Gunung Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan yang berada di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-10 pada masa Dinasti Isyana.
Selain itu, nama Jalatunda juga digunakan sebagai area perkemahan di Purwakarta, Jawa Barat.
3. Indrakila, gunung tempat Arjuna bertapa
Indrakila merupakan nama gunung mitologis yang dikenal sebagai tempat Arjuna bertapa dalam kisah Arjunawiwaha.
Kisah tersebut merupakan gubahan Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Maharaja Airlangga pada abad ke-11. Arjuna dikisahkan menjalani pertapaan dengan sangat tekun hingga mampu bertahan dari godaan para bidadari yang dikirim para dewa.
Keteguhan Arjuna membuatnya dipilih para dewa untuk menjadi jagoan dalam menghadapi raksasa Niwatakawaca.
Nama Indrakila ternyata tidak hanya dikenal dalam cerita pewayangan. Museum Ullen Sentalu mencatat setidaknya tiga tempat di Jawa yang menggunakan nama tersebut, yakni di Kabupaten Kebumen, lereng Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang, dan Majalengka.
4. Krendhawahana, hutan wingit wilayah Dewi Durga
Nama terakhir adalah Krendhawahana atau Krendhowahono. Dalam pewayangan, nama ini merujuk pada hutan wingit yang menjadi wilayah kekuasaan Dewi Durga.
Di dunia nyata, nama tersebut melekat pada petilasan berupa sisa kawasan hutan di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, sekitar 15 kilometer di utara Kota Solo.
Meski memiliki latar cerita sebagai hutan angker, kawasan petilasan itu kini tidak lagi terpencil karena permukiman penduduk sudah berada tidak jauh dari lokasi.
Tempat ini juga masih memiliki hubungan dengan tradisi Keraton Kasunanan Surakarta. Setiap bulan Bakda Mulud atau Rabiul Akhir, keraton menggelar upacara sesaji Mahesa Lawung di petilasan tersebut.
Salah satu bagian penting ritual itu adalah penguburan kepala kerbau jantan yang belum pernah dikawinkan dan belum pernah digunakan untuk bekerja.
