Albert Camus: 113 Tahun Sang Pemberontak yang Menolak Putus Asa

6 Min Read
Black-and-white portrait of a man with short dark hair, wearing a plaid blazer and looking toward the camera.
Albert Camus (Sumber: Wikimedia Commons)

Masih bicara tokoh-tokoh kelahiran 7 November 1913, Albert Camus, lahir di Mondovi, Aljazair Prancis, kini Dréan. Lahir sebagai seorang bayi dari keluarga miskin. Ayahnya Lucien, buruh tani keturunan Prancis, gugur di Perang Dunia I setahun kemudian. Ibunya Catherine, perempuan Spanyol yang buta huruf dan hampir tuli, membesarkan anaknya di kamar sempit di Belcourt, Aljir, bersama neneknya.

Tidak ada buku di rumah itu. Tidak ada yang menyangka bayi itu akan jadi peraih Nobel Sastra termuda kedua dalam sejarah. Hari ini, 7 November 2026, Albert Camus berusia 113 tahun jika ia tidak tewas dalam kecelakaan mobil di Villeblevin, 4 Januari 1960, usia 46 tahun, dengan naskah novel terakhirnya Le Premier Homme di dalam tas yang tidak rusak sama sekali.

Apa yang diingat publik tentang Camus?

Publik mengingat tiga hal: Orang Asing, Sampar, dan Sisifus. Orang Asing (1942) adalah novel tentang Meursault, laki-laki yang tidak menangis saat ibunya mati, lalu menembak orang Arab di pantai karena silau matahari. Ia dihukum mati bukan karena membunuh, tapi karena tidak menangis. Publik mengingatnya sebagai novel tentang keterasingan. Mahasiswa Indonesia mengingatnya lewat kutipan: “Hari ini ibu meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.”

Sampar (1947) adalah novel tentang kota Oran yang diserang wabah. Dokter Rieux dan kawan-kawannya melawan wabah tanpa harapan menang. Saat pandemi Covid-19 2020-2022, penjualan Sampar naik 1000% di Prancis dan Italia. Publik tiba-tiba sadar, Camus menulis tentang kita.

Mitos Sisifus (1942) adalah esai tentang dewa yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung, batu menggelinding lagi, ia mendorong lagi, selamanya.

Peran Intelektual: Bukan Filsuf Menara Gading

“Albert Camus (1913-1960) was a journalist, editor and editorialist, playwright and director, novelist and author of short stories, political essayist and activist – and arguably, although he came to deny it, a philosopher,” dikutip dari Stanford Encyclopedia of Philosophy.

Camus bukan filsuf yang duduk di Sorbonne. Ia wartawan. Ia pemimpin redaksi koran bawah tanah Combat selama Perlawanan Prancis melawan Nazi. Ia menulis editorial dengan pistol di laci mejanya. Ia aktor teater. Ia pernah jadi penjaga gawang sepak bola.

Ia berkata: “Yang saya ketahui tentang moral, saya pelajari dari sepak bola. “Peran intelektualnya ada di tiga garis: Pertama, Absurd. Ia menulis kalimat paling terkenal dalam filsafat abad 20: “Hanya ada satu masalah filosofis yang sungguh serius: bunuh diri.”

Maksud Camus bukan mengajak bunuh diri. Maksudnya, jika dunia tidak memberi makna, apakah hidup masih layak dijalani? Jawabannya, ya. Jangan bunuh diri fisik, jangan bunuh diri filosofis, jangan lari ke agama atau ideologi untuk mencari jawaban palsu. Hadapi absurd itu dengan sadar, dengan cinta, dengan pemberontakan.

Kedua, Pemberontakan Tanpa Pembunuhan. Dalam Pemberontak (1951), ia menyerang Stalin dan komunisme totaliter. Ia putus persahabatan dengan Jean-Paul Sartre karena itu. Sartre membela Uni Soviet. Camus berkata, revolusi yang membunuh manusia atas nama masa depan adalah kejahatan. Ia menjadi suara kiri anti-totaliter, kiri yang membela kemanusiaan, bukan partai.

“Camus’s philosophy found political expression in The Rebel, which along with his newspaper editorials, political essays, plays, and fiction earned him a reputation as a great moralist. It also embroiled him in conflict with his friend, Jean-Paul Sartre, provoking the major political-intellectual divide of the Cold-War era,” dikutip dari Stanford Encyclopedia of Philosophy.

Ketiga, Solidaritas. Dalam Sampar, ia menulis: yang penting bukan jadi pahlawan, tapi jadi manusia yang tidak ikut menyebarkan wabah, wabah ketakutan, wabah kebencian.

Dunia yang Tidak Memberi Jawaban

Hari ini, Camus hidup lagi di TikTok dan Instagram. Jurnal Indonesia 2025 menyebutnya Sisyphus Era Digital. “Tanpa disadari manusia selalu hidup berdampingan dengan absurditas. Konsep ini dikembangkan oleh Albert Camus sejak abad 20. Menurutnya, absurditas adalah kondisi ketiadaan makna, yaitu suatu keadaan di mana manusia berusaha mencari makna, namun dunia tidak memberi jawaban,” dikutip dari Jurnal Studi Multidisipliner, Vol 9 No. 11 November 2025, dalam artikel Sisyphus Era Digital: Telaah Absurdisme Albert Camus dalam Realitas Konten Kreator.

Konten kreator hari ini adalah Sisifus baru: membuat konten, algoritma menjatuhkannya, membuat lagi, jatuh lagi. Mahasiswa yang skripsian, pekerja yang lembur tanpa promosi, Gen Z yang disebut “generasi remahan” mereka semua mendorong batu yang sama. Camus menjawab mereka dengan kalimat penutup Mitos Sisifus: “Perjuangan itu sendiri menuju puncak sudah cukup untuk memenuhi hati manusia. Kita harus membayangkan Sisifus bahagia.”

Dan akhirnya, setelah 113 tahun setelah kelahirannya, Camus masih mengajari kita satu hal, dunia memang absurd, tapi kita tidak perlu jadi absurd. Kita bisa tetap mencintai matahari, laut, kopi, sepak bola, dan sesama manusia, sambil mendorong batu kita, dengan sadar, dengan bahagia, tanpa menunggu dunia memberi jawaban.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar