Mabur.co – Medio 2021 lalu, Meta, perusahaan induk teknologi multinasional Amerika Serikat yang menaungi platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp, pernah mengumumkan akan membuat satu proyek besar, yang digadang-gadang mampu membuat manusia menjalani dua kehidupan sekaligus, yaitu di dunia nyata serta di dunia virtual (Virtual Reality/VR).
Proyek spekatakuler itu diberi nama “Metaverse”, akronim dari “Meta Universe” (Dunia Meta).
Metaverse disebut memiliki cara kerja yang berbeda jauh dengan media sosial pada umumnya, sebagai platform digital yang hanya bisa diakses di ponsel atau komputer melalui jaringan internet.
Ketika media sosial saja (dengan segala kecanggihannya) dianggap sudah mendistraksi kehidupan manusia secara besar-besaran, namun Metaverse justru menawarkan sesuatu yang lebih ekstrem lagi. Melalui branding-nya yaitu “dunia sosial virtual”, manusia akan diajak untuk menjalani “kehidupan baru” di “alam yang berbeda” (virtual), dengan iming-iming potensi mendapatkan uang yang lebih besar.
Karena di dalam dunia virtual akan tercipta ladang bisnis baru, dan seterusnya.
Tidak Lebih dari Sekadar Wacana
Setelah sempat membuat heboh, perlahan-lahan isu metaverse mulai lenyap sedikit demi sedikit.
Bahkan, dilansir dari laman Kompas, kabar terbaru di awal 2026 ini menunjukkan bahwa proyek spektakuler ini justru tengah dilanda krisis keuangan, dan terpaksa merumahkan ratusan hingga ribuan karyawannya, yang berasal dari divisi Reality Labs, yakni divisi yang khusus menggawangi proyek metaverse.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Meta terpaksa melakukannya guna menghemat anggaran yang tersedia, serta ingin beralih sepenuhnya pada pengembangan Artificial Intelligence (AI) dan juga perangkat wearable seperti kacamata pintar dan lain-lain.
Bahkan mulai Februari 2026 ini, Meta dikabarkan telah menghentikan penjualan layanan terkelola Horizon (HMS) dan lisensi komersial untuk Meta Quest, yakni produk headset untuk mengakses konten VR yang menjadi unggulan dari metaverse.
Meskipun Meta sendiri tidak pernah menyatakan bahwa proyek metaverse telah gagal atau mati, namun dari perjalanan yang telah ditempuh hingga saat ini, terlihat jelas bahwa metaverse hanya tinggal menunggu waktu saja untuk benar-benar dinyatakan “punah”.
Pada akhirnya, proyek spektakuler semacam ini tetap butuh kemampuan dari manusia, dan juga butuh anggaran yang dikelola oleh manusia, di dunia nyata.
Dunia Virtual (VR) sepertinya memang tidak akan pernah bisa terwujud, selagi kehidupan di dunia nyata saja masih kacau balau, dan tidak mampu menanggung beban berat untuk “pindah alam” demi meraup potensi cuan yang lebih besar. (*)



