Siklus Artis Konten, Sensasi Membuncah Kebanyakan Klarifikasi

Mabur.co – Media sosial telah mengubah cara kerja artis di tanah air (termasuk juga di luar negeri).

Karena media sosial telah mampu menjadi wadah yang sangat ampuh untuk mendulang popularitas dalam waktu sekejap, mendapatkan banyak followers atau fans, sekaligus yang paling utama yaitu memperoleh penghasilan melalui kerja sama endorsement produk dan lain sebagainya.

Ya, dengan keterbukaan informasi yang diberikan oleh platform media sosial, membuat para artis seperti bebas mengungkapkan apa pun dan kapan pun tanpa filter, atau pun menerapkan prinsip check and recheck layaknya di stasiun televisi.

Umumnya artis-artis yang berasal dari stasiun televisi (penyanyi, pelawak, pemain sinetron, pemain film, presenter, dan seterusnya) harus melalui banyak tahapan atau screening, agar penampilannya di atas panggung bisa segera ditayangkan di layar kaca dan ditonton jutaan pasang mata di rumah.

Sehingga tentu saja artis-artis yang ada di sana jelas bukan orang sembarangan.

Sementara artis-artis di zaman sekarang, yang kebanyakan hanya terkenal melalui satu-dua konten yang viral di media sosial, jelas tidak pernah mengalami itu semua.

Mereka seperti bebas membuat apa saja yang mereka suka, tanpa filter dari siapa pun. Lalu berharap bahwa konten yang mereka buat akan viral dan mengundang reaksi dari banyak orang. Entah itu positif maupun negatif.

Setelah viral, biasanya “artis-artis” ini akan langsung memperoleh popularitas instan, diundang ke berbagai acara stasiun televisi (biasanya talk show), konten podcast di YouTube, bincang-bincang santai, dan sebagainya.

Bahkan tak jarang dari mereka yang mulai kebanjiran job baru setelah mendadak viral tersebut.

Artis “Tukang Klarifikasi”

Selain tentang tawaran tampil di berbagai program serta job-job yang terus berdatangan, artis-artis konten juga seringkali menghadapi kenyataan pahit.

Bahwa tidak semua konten yang dibuat akan disukai oleh masyarakat atau netizen.

Ketika suatu konten dianggap telah meresahkan publik, si artis konten pun mendadak dihujat dan diberi pesan-pesan negatif oleh netizen.

Tidak hanya dirinya, bahkan orang-orang terdekatnya pun ikut terkena imbas hujatan yang sama, seperti keluarga, teman, kerabat, dan sebagainya.

Sebegitu kejamnya tangan-tangan netizen dalam menanggapi suatu konten yang dianggap meresahkan, membuat si artis konten pun bergerak cepat, dan tergerak untuk membuat konten baru lainnya, yang diberi nama “klarifikasi” atau “permintaan maaf” atas kegaduhan yang terjadi.

Seperti biasa, di dalam video klarifikasi atau permintaan maaf tersebut, artis konten akan berusaha membela dirinya, dan menjelaskan secara rinci tentang apa yang sesungguhnya terjadi, serta menanggapi beberapa komentar dari para netizen yang mendominasi kolom komentar di postingannya yang viral tersebut.

Namun, jika Anda perhatikan lebih jauh, konten klarifikasi atau permintaan maaf tersebut biasanya tidak akan langsung menyelesaikan masalah utama.

Justru sebaliknya, konten tersebut akan menimbulkan masalah-masalah baru lainnya, yang pastinya tidak diinginkan.

Solusinya? Ya bikin klarifikasi lagi dong. Gitu aja terus nggak kelar-kelar.

Mengingat konten tersebut sudah menjadi konsumsi publik yang berjumlah ribuan atau bahkan jutaan orang, pastinya akan muncul jutaan opini atau POV (point of view) baru tentang konten si artis tadi, baik yang disampaikan di kolom komentar maupun disajikan melalui konten-konten baru lainnya.

Pada akhirnya, semua orang hanya berusaha untuk FOMO (Fear of Missing Out) dengan saling berbalas konten satu sama lain, tanpa benar-benar peduli apa masalah yang sebenarnya.

Sementara si artis konten viral pembuat gaduh ini, tetap menikmati popularitas serta pundi-pundi yang mengalir deras ke rekeningnya, tanpa begitu mempedulikan POV dari para netizen terhadap kontennya. Meskipun juga sesekali harus berurusan dengan pihak hukum.

Bisa dibilang, semua konten sensasi atau viral ini sebenarnya sudah dirancang sedemikian rupa, agar menciptakan konten-konten baru berikutnya di kemudian hari, salah satunya adalah konten klarifikasi atau permintaan maaf kepada publik. Setelah itu ulangi lagi pola yang sama.

Karena minta maaf ya minta maaf saja, minta maafnya sungguh-sungguh atau tidak itu bukan urusan netizen. Kan cuma konten. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *