Mabur.co – Tepat pada 11 Februari ini, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) lahir pada 1908 silam. STA dikenal sebagai sosok sastrawan, budayawan, serta ahli tata bahasa Indonesia.
Semasa hidupnya, STA kerap mendorong pembaruan kebudayaan dan sastra Indonesia ke arah yang modern, termasuk menerbitkan berbagai karya sastra yang cukup melegenda sampai hari ini.

Salah satunya adalah novel berjudul Layar Terkembang yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1937.
Kendati telah berpulang pada 1994 silam, sejatinya perjuangan STA di bidang bahasa dan sastra Indonesia masih tetap layak untuk diperjuangkan oleh generasi muda sampai hari ini.
Karena jasa-jasa STA adalah warisan luhur yang akan terus abadi, menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia, yang masih terus eksis sampai sekarang.
Dilansir dari laman Kumparan, berikut adalah poin-poin perjuangan STA yang layak diteruskan oleh generasi muda di era modern saat ini.
Mengembangkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan
STA selalu percaya bahwa bahasa Indonesia harus logis, ilmiah, dan berwibawa. Di era modern, hal ini bisa diwujudkan dengan memproduksi konten, artikel, dan karya ilmiah berkualitas tinggi dalam bahasa Indonesia, serta memperkaya kosakata bahasa Indonesia dengan istilah teknologi baru.
Digitalisasi Karya Sastra
Sebagai seorang sastrawan, STA juga kerap memperjuangkan eksistensi bahasa Indonesia melalui berbagai karya sastra ciptaannya. Di zaman modern seperti sekarang, hal ini bisa diwariskan dengan memproduksi karya sastra di platform digital, seperti media sosial dan lain-lain.
Modernisasi Kebudayaan
Budaya Indonesia sejatinya bisa dilestarikan melalui berbagai cara. Hal itu selaras dengan semangat STA yang memiliki pemikiran cerdas terkait modernisasi budaya, yakni dengan memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia (apalagi saat ini), untuk dapat melestarikan sekaligus memajukan budaya nasional. Bukan sekadar melestarikan secara statis apalagi tanpa makna.
Penulisan Sastra dan Karya Ilmiah
Generasi muda (Gen Z) bisa menggunakan platform digital yang tersedia saat ini untuk menulis novel, puisi, dan artikel yang mampu menggugah kesadaran masyarakat akan bahasa dan sastra Indonesia secara umum. Seperti yang pernah dilakukan oleh STA dalam novel Layar Terkembang di masa lalu.
***
Meneruskan perjuangan STA di zaman sekarang sejatinya tidaklah terlalu sulit, karena sudah banyak platform digital yang tersedia untuk membuat karya maupun tulisan yang berfungsi sebagai pelestari bahasa dan sastra Indonesia secara umum.
Hanya saja, kemudahan itu bukan tanpa tantangan. Karena kemudahan teknologi yang ada saat ini telah mengubah karakter manusia secara keseluruhan, yang cenderung enggan melestarikan budaya bahasa dan sastra Indonesia, namun lebih memilih mengonsumsi hiburan singkat yang tiada habisnya, sehingga melupakan warisan budaya yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pendahulunya, termasuk STA. (*)



