Asal Mula Umbul Jumprit dalam Naskah Centhini

“Eh ta Jumprit manawa sira kapingin waluyaning raga, anungsunga kali iki, yen wis ketemu sirahnya.
Banjur sira adusa ingkang baresih, dhedhukuha pisan, ning kono salamaneki amesthi laramu sirna.”

(Centhini, Pucung 92: 23-24)

Setelah tujuh langkah seperti yang dikatakan Ki Naradi di Cilacap, Mas Cebolang menengadah ke angkasa yang tak terasa hari sudah menjelang pagi. Ia bersama keempat santrinya kebingungan karena sudah berada di tempat asing.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan tatapan mereka tertuju pada sebuah pohon beringin besar yang dihuni banyak sekali kera berbagai ukuran.

Nuwitri salah seorang abdinya memberitahukan jika ini seperti tempat yang pernah diceritakan ayahnya sewaktu masih kecil dulu.

Namun ia tidak yakin, sebab cerita ayahnya tempat itu berada di wilayah Kedu yang merupakan hulu dari Sungai Praga. Akan tetapi tempat itu sangat jauh dari Nusakambangan, tempat yang mereka ingat terakhir berdiri.

Tak lama kemudian mereka bertemu dengan seorang pria yang sudah cukup renta, setelah berkenalan pria itu bernama Kenthol Gupita.

Ia menjelaskan jika tempat itu memang Hulu Sungai Praga, berada di kaki Sundara Giri, dan dikenal sebagai Jumprit. Tempat ini merupakan tempat bertapa/nenepi, sedangkan Ki Gupita sendiri adalah palawangannya.

Seperti umumya seorang pria muda, Mas Cebolang memohon cerita kepada Ki Gupita bagaimana awal mula Jumprit digunakan sebagai tempat panepen. Dan Ki Gupita-pun mulai bertutur.

Dahulu ada seorang bernama Jumprit yang tinggal di tepian Sungai Praga. Jumprit sedang menderita penyakit yang tak kunjung sembuh, ia sudah mendatangi banyak ahli pengobatan, namun tak juga sembuh. Ia kemudian menyerah, dan hanya memasrahkan diri pada Hyang Widi akan takdirnya.

Suatu malam ketika ia sedang duduk bersila memusatkan pikiran, ada sayup-sayup suara terengar, suara itu memerintahkannya untuk menyusuri Sungai Praga (petikannya di atas).

Pagi-pagi buta, Ki Jumprit segera mengikuti petunjuk suara itu yang pada akhirnya ia sampai di sumber air Sungai Praga yang ada dalam goa.

Tanpa peduli lagi suhu air yang begitu dingin, Ki Jumprit segera menceburkan diri. Setelah lama berendam, Ki Jumprit keluar dari air dan naik ke daratan.

Ki Jumprit keheranan, karena setelah keluar air, segala rasa lelahnya setelah berjalan jauh tiba-tiba sirna. Badannya pun tidak seperti biasanya, ia sehat dan bugar, rasa sakit yang ia derita hilang.

Ki Jumprit kemudian mendirikan rumah di sisi timur mata air Praga. Tiap malam ia mengheningkan cipta kepada Yang Maha Kuasa dan siang harinya ia bercocok tanam untuk kebutuhan makanan.

Lama-kelamaan kisah Ki Jumprit menjadi FYP, dia terkenal hingga daerah lain. Orang sering meminta doa untuk tolak bala, tumbal, rezeki hingga pangkat dan semuanya tidak ada yang ditolak.

Orang-orang tersebut banyak juga yang kemudian membangun rumah di sekitaran Jumprit, hingga wilayah itu sudah menjadi kampung yang berkembang dengan pemukiman.

Ki Jumprit juga memelihara seekor kera yang diberi nama Dipa. Kera ini sangat penurut serta pandai, ia seakan mengerti bahasa manusia. Ki Jumprit sangat menyanyagi Dipa, hingga Dipa diajari berbagai ilmu termasuk ilmu penitisan. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *