Pada awal Mei 2025, Presiden Prabowo melontarkan program unggulan baru berupa pendirian koperasi di seluruh desa di Indonesia.
Mimpi Prabowo mendirikan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) adalah memutus rantai kemiskinan, khususnya yang disebabkan jerat hutang petani dan nelayan kepada rentenir, tengkulak, dan pinjol.
Jeratan rentenir dan pinjol sudah mengakar jauh ke desa-desa. Penduduk miskin yang terjerat rentenir pilihannya hanya dua, menjual semua aset atau menyerah.
Kasus bunuh diri keluarga AA (44) di Buayan, Kebumen, keluarga EN (34) di Banjaran, Bandung, dan daerah lain berupa penyerahan terhadap kemiskinan ekstrem.
Mereka memilih menyerah pada ketidakmampuan bertahan hidup.
Kasus paling miris adalah bunuh diri anak SD di Ngada, NTT karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis.
Sederet berita keluarga menyerah pada kemiskinan dengan cara mengakhiri hidupnya. Mereka bisa saja mengikuti jejak penduduk miskin lain yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari lewat pinjol.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah untuk melihat kembali kebijakan kemiskinan.
Saat menyampaikan ide koperasi ini, pidato Prabowo sangat berapi-api. Ada masalah mendasar pada kemiskinan di Indonesia.
Mereka tidak memiliki akses pada sumber ekonomi dan terlilit hutang. Perang dengan pinjol dan rentenir diutarakan secara gamblang ketika Prabowo memimpin rapat terbatas saat menyusun rencana pendirian KDMP pada awal Mei 2025.
Salah satu unit koperasi yang akan dibentuk adalah simpan pinjam. Tujuannya agar masyarakat terbantu dari sisi pendanaan statis dan tidak terjerat rantai kemiskinan ekstrim.
Itulah gagasan Prabowo yang menjadi spirit kehadiran KDMP adalah sebagai representasi negara untuk melindungi masyarakat desa dari sistem pinjaman informal yang tidak memiliki mekanisme perlindungan hukum.
Memutus lingkaran setan kemiskinan yang disebabkan oleh pinjol, tengkulak, rentenir yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.
Lahirnya Koperasi
Semangat gagasan koperasi yang disampaikan Prabowo mirip sekali dengan kondisi yang melatar belakangi kelahiran koperasi.
Lahirnya koperasi di Indonesia bermula dari perlawanan terhadap rentenir dan tengkulak Tionghoa. Margono menjelaskan bahwa pertumbuhan koperasi di Indonesia dipelopori oleh R. Aria Wiriatmadja patih di Purwokerto (1896), mendirikan koperasi yang bergerak di bidang simpan pinjam Hulp en Spaarbank.
Awal mulanya, karena banyak priyayi-priyayi Banyumas terjerat hutang yang sangat besar lintah darat sampai tidak mampu membayar. Berdirinya koperasi ini memberi awalnya untuk membantu membayar hutang para priyayi.
Untuk memodali koperasi tersebut di samping menggunakan uangnya sendiri, beliau juga menggunakan kas masjid yang dipegangnya.
Setelah mengetahui bahwa hal tersebut tidak boleh, maka uang kas masjid telah dikembalikan secara utuh pada posisi yang sebenarnya.
Upaya ini mendapatkan simpati dari banyak priyayi, sampai akhirnya terkumpul 4.000 gulden sebagai modal awal koperasi.
Kegiatan Raden Aria Wiriatmadja dikembangkan lebih lanjut oleh De Wolff Van Westerrode asisten Residen Perkebunan Wilayah Purwokerto di Banyumas menjadi lembaga Poerwokertosche Hulp- Spaar en Landbouwcredietbank (koperasi kredit) untuk petani di Banyumas dengan sistem philanthropie (kedermawanan).
Sumber modal koperasi ini dari zakat sehingga kepentingan bisnis sosial (kedermawanan) lebih utama. Kegiatan ini direspon dengan baik oleh petani.
Ketika ia cuti ke Eropa dipelajarinya cara kerja volksbank secara Raiffeisen (koperasi simpan-pinjam untuk kaum tani) dan Schulze-Delitzsch (koperasi simpan-pinjam untuk kaum buruh di kota) di Jerman.
Setelah ia kembali dari cuti mulailah ia mengembangkan koperasi simpan-pinjam sebagaimana telah dirintis oleh R. Aria Wiriatmadja.
Dalam hubungan ini kegiatan simpan pinjam yang dapat berkembang ialah model koperasi simpan-pinjam uang dan lumbung padi desa.
De Wolff van Westerrode mendirikan lumbung dalam 250 desa, yang berupa badan-badan yang meminjamkan padi.
Modal untuk mendirikan lumbung desa diambil dari zakat, pajak yang berupa hasil bumi menurut agama Islam.
Lumbung itu diserahkan kepada suatu komisi yang terdiri dari kepala desa, juru tulis desa, dan penghulu kampung.
Lumbung ini rencananya akan dijadikan contoh kepada koperasi-koperasi yang lain. Sedangkan Hulp – Spaar dan Landbouwcredietbank akan bekerja sebagai centrale bank. (Margono: 12)
Usaha ini gagal karena tidak banyak orang yang mau bekerja mengurusi lumbung desa.
Pengurus lumbung desa berfikir dengan bekerja satu sampai dua tahun saja, mau mencapai hasil yang sama dengan yang dicapai oleh Raiffeisen, sedangkan Raiffeisen sendiri baru memetik hasilnya setelah dua puluh tahun bekerja keras.
Buku Sumitro tentang Kredit Rakyat pada Masa Depresi juga mengapresiasi kebijakan Belanda mengenai kredit statis dan lumbung desa untuk menyelesaikan krisis ekonomi rakyat petani.
Pada masa resesi, hasil pertanian harganya terjun bebas. Banyak masyarakat jatuh miskin dan terlilit hutang.
Apakah Indonesia sedang mengalami resesi? Menggunakan pengumuman BPS mengenai kondisi kelas menengah yang terus menurun, sebenarnya kondisinya mendekati resesi. Kelas menengah adalah penopang utama konsumsi rumah tangga Indonesia.
Penopang utama roda UMKM yang menjadi pilar ekonomi mikro. Meski penduduk miskin menurut laporan BPS menurun, dari 25,2 juta pada 2024 menjadi 23,9 juta pada 2025 atau sekitar 8,5 persen dari total penduduk nasional, alarm utama ekonomi mikro adalah penurunan kelas menengah.
Ketahanan Ekonomi Desa
Koperasi Desa Merah Putih dibentuk sebagai upaya ketahanan ekonomi desa. Dari model koperasi, dikenal ada empat, koperasi simpan pinjam, koperasi konsumsi, koperasi produksi, dan koperasi jasa.
Koperasi simpan pinjam merupakan model paling tua di Indonesia. Muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap rentenir, tengkulak, dan cina mindering, suatu praktek peminjaman uang dengan bunga sangat tinggi sampai dapat dipastikan penghutang tidak dapat melunasi hutangnya.
Hari ini, koperasi simpan pinjam menjadi kedok pinjol berbunga tinggi, rentenir, tengkulak, dan model koperasi mekar.
Merekalah yang akan dilawan ketika Prabowo pertama kali pidato saat membentuk KDMP. Model KDMP simpan pinjam sebenarnya bisa dilihat dari hasil disertasi Sumitro mengenai “Kredit Rakyat pada Masa Depresi” pada saat krisis global tahun 1930 an.
Penyelamat ekonomi desa di Indonesia waktu itu ada kredit rakyat dan lumbung desa.
Model koperasi konsumsi ini juga banyak didirikan oleh founding fathers, ormas Islam seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, NU, Budi Utomo, dan lainnya.
Pada tahun 20-an, puluhan ribu koperasi konsumsi berdiri. Koperasi konsumsi merupakan bentuk perlawanan terhadap monopoli dagang khususnya kalangan Tionghoa.
Berdirinya Sarekat Dagang Islam juga spirit koperasi melawan monopoli bahan baku batik di Solo.
Koperasi konsumsi ini yang menjadi model utama KDMP. Mendirikan toko koperasi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, kebutuhan petani, nelayan, dan masyarakat desa.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Toko koperasi memerlukan Distribution Center (DC) sebagai gudang yang melakukan transaksi ke produsen. Satu DC dapat membawahi minimal 1 kabupaten sampai 3 kabupaten.
DC yang melakukan transaksi pembelian ke produsen secara langsung seperti Mayora, Nesle, Indofood, Wings, dan lainnya dengan transaksi skala besar, harga dapat lebih murah dari semua toko ritel yang ada. DC kemudian mendistribusikan ke setiap KDMP dengan harga yang sangat murah.
Prinsip kedua koperasi konsumsi adalah monopoli, monopoli konsumen dan monopoli produk. Monopoli konsumen banyak dilakukan oleh koperasi yang dimiliki satuan TNI.
Keluarga TNI yang secara rutin mendapatkan jatah ransum bulanan didistribusikan koperasi. Dengan begitu, setiap bulan akan kelihatan berapa banyak konsumen yang membeli dagangan koperasi, dan berapa keuntungannya.
Monopoli produk berupa produk tertentu yang diproduksi BUMN, seperti gas 3kg, pupuk petani, dan lainnya. Monopoli produk oleh koperasi dapat menjadi tulang punggung pendapatan dan menutup biaya operasional.
Kehadiran koperasi konsumsi ini juga menjadi layanan terdepan kebutuhan warga miskin. Menjamin bahwa kebutuhan makan sehari-hari, kebutuhan pendidikan, kesehatan mereka dilayani dengan baik oleh pemerintah lewat koperasi.
Jika ketiga hal itu, adanya DC dan monopoli produk dan monopoli konsumen tidak dimiliki KDMP, jelas mereka tidak dapat bertahan dan bersaing dengan ritel yang sudah kokoh berdiri, seperti Alfa dan Indomaret.
Hilirisasi Lewat Koperasi
Koperasi produksi adalah program hilirisasi yang menjadi salah satu program prioritas strategis Presiden Prabowo. Gagasan ini diutarakan dengan jelas saat Rakornas dengan kepala daerah dan jajaran kementerian Indonesia Maju.
Koperasi dapat mengambil peran pada berbagai sektor usaha produksi lokal. Target utama koperasi produksi ini adalah menjadi agen penyuplai dapur MBG.
Daerah berbasis sawah dapat memproduksi beras unggulan petani. Daerah berbasis sayuran dapat memproduksi sayuran berkualitas untuk memenuhi kebutuhan perhotelan, supermarket, dan restoran.
Daerah berbasis nelayan, dapat memproduksi olahan ikan, produk ikan beku berkualitas, dan edukasi nelayan agar memenuhi standar penangkapan ikan yang bisa memenuhi kebutuhan ekspor.
Daerah berbasis tegalan dapat mendirikan operasi untuk mengolah singkong menjadi tapioka, dan lainnya.
Hilirisasi koperasi perlu segera dikonsep sesuai dengan potensi lokal. Dukungan modal yang besar dari Bank Himbara, perhatian serius dari pemerintah dapat mempercepat produk dan membangun jaringan pemasaran lintas daerah dan ekspor. ***
Jakarta Selatan, 21 Februari 2026



