Muara Pantai Trisik, Surga Baru Aktivitas Pengamatan Burung Migran di Pesisir Kulon Progo 

6 Min Read
Wooden bamboo lookout tower with two people on a platform, over a grassy wetland and a blue sky above.
Suasana di kawasan KTH Tirta Manunggal. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Beberapa tahun lalu, kawasan muara Sungai Progo di wilayah Dusun Bleberan, Banaran, Galur, Kulon Progo mengalami kerusakan cukup parah.

Masifnya aktivitas pertambangan membuat bantaran di sepanjang tepian sungai mengalami abrasi, dan terkikis habis hingga melenyapkan lahan-lahan pertanian warga. 

Namun sejak adanya gerakan konservasi penanaman mangrove yang diinisiasi berbagai pihak, kondisi itu perlahan mulai berubah.

Warga bahkan mulai melakukan penanaman dan pembibitan secara mandiri untuk memperbaiki kondisi lingkungan mereka.

Group of people on a wooden boardwalk in a forest; one person looks through binoculars while others stand with gear nearby.
Pengunjung melakukan aktivitas pengamatan burung di kawasan KTH Tirta Manunggal, Banaran, Galur, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Dua tahun terakhir, hasil nyata mulai terlihat seiring pelarangan semua aktivitas pertambangan pasir baik itu menggunakan alat berat, mesin sedot pompa maupun secara manual. 

Beberapa jenis mangrove seperti Rhizophora apiculata dan sonnetaria tumbuh subur di tepian sungai. Keberadaannya tak hanya menahan sedimen yang berperan penting sebagai pencegah abrasi dan erosi di wilayah bantaran.

Namun juga memulihkan ekosistem kawasan muara yang menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis flora dan fauna. Termasuk di antaranya menjadi naungan ribuan burung migran yang datang dari belahan bumi utara dan melintas di wilayah Indonesia. 

Hampir setiap hari, sejak bulan Agustus lalu hingga Oktober ini burung-burung migran itu terlihat berdatangan ke kawasan pesisir selatan ini silih berganti. 

Group of white egrets perched among green foliage against a pale blue sky, some with wings partially spread
Burung singgah di kawasan Muara Trisik, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Burung-burung seperti gajahan Eurasia, kedidi, ibis Australia, tikusan alis putih, mandar besar, trinil lumpur Asia, hingga dara laut jambul terlihat mencari makan di sejumlah area. 

Dataran berpasir di tepi pantai, genangan tepi sungai yang dipenuhi ganggang dan ilalang, hingga sela-sela akar hidup maupun ranting mangrove yang mulai meninggi.

“Kalau sedang beruntung kita bisa melihat burung Titian Australia berjalan-jalan sambil menggendong anak-anaknya,” ujar Surono warga setempat yang aktif melakukan gerakan konservasi di kawasan ini, Sabtu (10/10/2026).

Brown duck swimming in a calm pond among green aquatic plants and reeds on the water surface, with reflections visible in the water.
Sejumlah burung menarik yang singgah di kawasan Muara Pantai Trisik, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Berdasarkan pendataan terakhir Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta tercatat sedikitnya terdapat 46 jenis burung migran yang bisa dijumpai di kawasan muara Trisik ini.

Burung-burung tersebut umumnya berasal dari wilayah Asia Pasifik yang tengah melakukan perjalanan musiman dari daerah asal mereka yang dingin menuju daerah lebih hangat di belahan bumi selatan seperti Indonesia. 

Di sini burung-burung itu tidak datang untuk berkembang biak, melainkan mencari tempat beristirahat dan mencari makan sebelum kembali ke wilayah asal mereka.

Man with a telephoto lens on a tripod crouches by a calm river while a smiling woman stands on a raised wooden platform, holding a microphone or camera.
Asyiknya pengunjung melakukan aktivitas pengamatan burung di kawasan KTH Tirta Manunggal, Banaran, Galur, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Fenomena musiman inilah yang kemudian menarik minat para pecinta burung untuk datang ke wilayah Muara Trisik. Mereka biasa datang berombongan untuk menyaksikan langsung burung-burung migran tersebut.

“Sudah sejak Agustus bahkan Juli kemarin banyak yang datang untuk melakukan pengamatan. Mulai dari mahasiswa. komunitas maupun masyarakat biasa,” ujar Surono.

Tak hanya wisatawan lokal, turis asing asal mancanegara pun turut datang ke Dusun Bleberan untuk mengabadikan momen langka burung-burung itu dengan menggunakan kamera. 

“Ada yang dari Malaysia, India, Jepang sampai Amerika,” katanya.

Bersama teman-temannya, Surono melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Tirta Manunggal memang mulai mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata minat khusus sejak 2024.

Man in a black shirt with a beige cap and orange sunglasses perched on top, standing in a lush marsh with a bamboo walkway on the right.
Surono, Wakil Ketua KTH Tirta Manunggal. (Foto: JH Kusmargana)

Ia kerap mempromosikan aktivitas pengamatan burung di wilayah muara Trisik ini ke berbagai media sosial. Hingga akhirnya banyak yang tertarik dan mulai berkunjung.

Di sini pengunjung akan diajak mengamati burung dengan menyusuri spot-spot yang tersedia. Setidaknya terdapat 4 spot yang bisa ditelusuri. Mulai dari area tepi pantai, hutan mangrove, tengah sungai, hingga area persawahan.

“Kita juga sudah siapkan jalur jembatan bambu, pos pantau setinggi hampir lima meter, hingga peralatan seperti teropong dan kamera. Termasuk juga perahu untuk mengantar pengunjung ke tengah muara,” katanya.

Menurut Surono, periode Agustus hingga November merupakan waktu terbaik untuk berkunjung karena bertepatan dengan musim migrasi.

Beragam jenis burung akan sangat mudah dijumpai, dikenali, dan didokumentasikan di habitat alaminya.

Kegiatan mengamati aktivitas burung migran di kawasan KTH Tirta Manunggal. (Foto: JH Kusmargana)

Ririn, salah satu pengunjung mengaku sengaja datang ke kawasan ini untuk melakukan pengamatan burung migran. Menurutnya, momen musiman yang hanya terjadi setahun sekali ini sangat sayang untuk dilewatkan.

“Menarik sekali. Karena bisa melihat burung-burung yang jarang dijumpai sehari-hari. Apalagi, tempatnya juga bagus dan alami. Jadi bisa sekalian refreshing,” ujar wanita yang memang hobi mengamati burung itu.

Kehadiran Ririn maupun wisatawan lain bersama burung-burung migran ke kawasan Muara Trisik ini jelas menjadi berkah luar biasa bagai Surono dan kawan-kawannya termasuk warga sekitar.

Three people walk along a rural path with camera gear; motorcycles are parked to the left and dense tropical vegetation surrounds them.
Para pengunjung pecinta burung saat melakukan aktivitas pengamatan di kawasan KTH Tirta Manunggal. (Foto: JH Kusmargana)

Perjuangan mereka dalam melakukan upaya konservasi sejak beberapa tahun terakhir kini mulai membuahkan hasil. Tak hanya sekadar mengembalikan ekosistem kawasan yang sebelumnya rusak. Namun juga turut mendatangkan manfaat secara ekonomi. 

Guna menjaga kelestarian ekosistem serta memaksimalkan potensi yang ada, Surono melalui KTH Tirta Manunggal bersama masyarakat setempat, serta didukung Pemerintah Kalurahan juga telah menyepakati larangan perburuan satwa di kawasan tersebut. 

Langkah ini diharapkan dapat melindungi burung migran dan satwa lainnya sekaligus mempertahankan fungsi mangrove sebagai habitat alami mereka.

Pengembangan Muara Pantai Trisik ini pun menjadi contoh nyata keberhasilan upaya konservasi lingkungan hingga mampu memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar