Pesta Boneka, Ruang Perjumpaan Lintas Budaya Seniman Teater Eksperimental

5 Min Read
Man in a black shirt smiling at a casual indoor gathering, standing next to a person wearing a long white wig and mask.
Pesta Boneka menjadi ruang perjumpaan lintas budaya bagi seniman teater boneka sekaligus salah satu simpul perkembangan teater boneka kontemporer di Asia Tenggara. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Papermoon Puppet Theatre yang memasuki dua dekade perjalanan dalam mengembangkan praktik seni teater boneka.

Selama 20 tahun, Papermoon Puppet Theatre telah memproduksi lebih dari 35 karya berupa pertunjukan, pameran, instalasi, dan kolaborasi secara independen.

Perjalanan tersebut membawa Papermoon Puppet Theatre berbagi karya dengan penonton di lebih dari 12 negara dan empat benua. 

Perkembangan Pesta Boneka tidak terlepas dari Papermoon Puppet Theatre, kelompok teater boneka yang berbasis di Yogyakarta.

Jejaring Internasional

Didirikan Maria Tri Sulistyani bersama Iwan Effendi pada April 2006, Papermoon menjadikan Yogyakarta sebagai tempat untuk mengembangkan karya sekaligus membangun jejaring dengan seniman dan komunitas dari berbagai negara.

Bagi Papermoon, Pesta Boneka juga menjadi cara untuk mempertemukan kembali karya dan jejaring internasional dengan publik di Yogyakarta.

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi cara bagi Papermoon untuk kembali ke kota tempat kelompok ini tumbuh setelah banyak menjalani pertunjukan di luar negeri.

Pesta Boneka pertama kali digelar pada 2008 dengan melibatkan lima seniman dari empat negara. Sejak saat itu, festival ini terus berkembang dan memperluas pertemuan antara seniman teater boneka dari berbagai negara. 

Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani, mengatakan festival yang bermula dari program residensi sederhana pada 2008 bersama seniman dari empat negara itu, kini berkembang menjadi salah satu festival teater boneka independen yang mempertemukan seniman dari berbagai negara.

“Memasuki edisi ke-10, Pesta Boneka menjadi ruang perjumpaan lintas budaya bagi seniman teater boneka sekaligus salah satu simpul perkembangan teater boneka kontemporer di Asia Tenggara,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).

Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Maria, dua tahun lalu temanya adalah ‘Seeds of Hope’, menebar benih harapan.

“Kalau sudah ditebar, harus dijaga, dan kita tidak bisa menjaganya sendiri. Melalui ‘Holding Hands’, kita diajak untuk melakukan sesuatu yang fisik dan saling terhubung. Papermoon sendiri bisa bertahan selama 20 tahun karena kami selalu dibantu dan membantu kanan-kiri,” ujarnya. 

Cara Pulang

Maria mengatakan, pesta boneka menjadi cara bagi kelompoknya untuk pulang dan bertemu dengan publik di tanah air.

“Aku pikir sebenarnya pesta boneka itu adalah cara kami untuk pulang. Paper Moon tahu banget kami itu jarang banget pentas di tanah air gitu dan pesta boneka adalah cara kami untuk selalu pulang memberikan kepada orang-orang yang ada di rumah,” ucapnya.

Keberadaan Yogyakarta juga menjadi bagian penting dari perjalanan Papermoon. Ekosistem seni di kota ini, menurut dia, memberi ruang bagi kelompok tersebut untuk terus mengembangkan praktiknya.

“Kalau enggak di Yogya enggak bisa sih bikin-bikin Paper Moon Puppet Theater. Ini adalah kota yang sebenarnya menurut aku sangat memungkinkan semua itu tumbuh,” ujarnya.

Maria mengatakan pula, di tengah perkembangan era digital yang serba reaktif, Pesta Boneka menghadirkan ruang perjumpaan secara langsung.

Narasi Positif Keberagaman Budaya

Festival ini membuka kesempatan bagi masyarakat lokal dan internasional untuk saling mendengarkan, berbagi cerita, serta memperkenalkan narasi positif tentang keberagaman budaya kepada masyarakat global.

Pertunjukan dalam Pesta Boneka menempatkan boneka dan cerita sebagai fokus utama, bukan individu di baliknya.

“Beragam metode penceritaan, baik verbal maupun nonverbal, dipadukan dengan eksperimentasi objek dan teknik teater boneka. Pendekatan tersebut memungkinkan pertunjukan melintasi batas bahasa sekaligus memberikan ruang bagi penonton untuk menafsirkan pengalaman personal dari setiap karya,” katanya. 

Di mata Maria, selain di Yogyakarta, sebagian program Pesta Boneka juga akan dibawa ke Jakarta dan Bali melalui Pesta Boneka on Wheels.

Program ini berlangsung di Salihara, Jakarta, pada 13–15 Oktober 2026 dan Titik Dua Ubud, Bali, pada 16–18 Oktober 2026.

Program tersebut akan mempertemukan seniman internasional dengan sekolah, komunitas, institusi budaya, dan publik di kedua kota. Dengan begitu, Pesta Boneka dapat menjangkau lebih banyak publik setelah festival utama di Yogyakarta.

“Meski membawa program ke sejumlah kota, Pesta Boneka tetap menjadikan Yogyakarta sebagai basis. Perjalanan festival ini mengikuti perjalanan Papermoon dalam membawa praktik teater boneka yang tumbuh di Yogyakarta untuk bertemu dengan seniman dan publik dari berbagai negara,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar